Garin Nugroho kembali dengan sebuah film biografi sejarah setelah film biografi sejarah terakhirnya, Soegija, dirilis pada 2012. Kali ini, Garin mengangkat kisah Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, seorang pahlawan negara kita dari tanah Jawa yang terkenal dengan organisasi Sarekat Islamnya. Guru Bangsa: Tjokroaminoto menitikberatkan perjuangan Tjokro, demikian Tjokroaminoto biasa disapa, dalam menggalang kesadaran rakyat akan pentingnya persatuan juga mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat melalui pengusahaan pendidikan dan pengembangan serta realisasi konsep-konsep yang bisa membantu rakyat hidup lebih baik, seperti misalnya koperasi.
Bagi saya, yang sangat membuat saya tetap bersemangat mengikuti cerita Tjokro meskipun durasi filmnya hampir tiga jam adalah bagaimana karakter Tjokro dan perjuangannya bersama Sarekat Islam digambarkan secara sangat merakyat, meskipun tidak berarti melepaskan status agung Tjokro yang dijuluki “Raja Jawa Tanpa Mahkota” ini. Film ini juga secara rinci ingin memperlihatkan bagaimana kondisi masyarakat Jawa (khususnya Surabaya yang lebih dieskpos) di masa penjajahan Belanda pada awal abad ke 20 yang penuh kesulitan, serta bagaimana Tjokro dan kawan-kawan seperjuangan sepemikirannya berusaha untuk melawan Kompeni dengan cara yang elegan: menegur, memberi pelajaran, tapi tanpa kekerasan. Garin menggambarkan Tjokro sebagai sosok yang sangat approachable, rendah hati, peduli dan hormat terhadap rakyat. Saking idealisnya Tjokro, dia bahkan terkadang harus mengorbankan keperluan dan kepentingan pribadinya, yang bahkan sebenarnya sama sekali tidak bisa menunggu. Inilah yang membuat Tjokro dicintai dan dihormati rakyatnya, serta dikagumi dan dihargai murid-murid serta kawan-kawan seperjuangannya-serta tidak disukai bapak mertuanya yang merasa putrinya menjadi left out dan tidak sejahtera gara-gara ideologi Tjokro (saya rasa ini pula cara Garin menunjukkan bahwa Tjokro juga tetaplah seorang manusia yang tidak sempurna dan tidak bisa memuaskan semua pihak).

Salah satu adegan yang sangat menggugah dan berkesan bagi saya adalah adegan ketika Tjokro menegur pegawai pemerintahan Belanda yang berlaku kurang ajar terhadap salah satu budak Jawa hanya karena orang tersebut tidak menggunakan sarung tangan ketika membawakan poci teh untuknya. Cara Tjokro menegur sangat berkelas. Dia tidak membentak, tidak melakukan kekerasan, tidak pula menghina si pegawai Belanda kurang ajar dalam bahasa apapun. Dia tidak membalas mata dengan mata. Malah, Tjokro melakukannya dengan sangat berkelas. Poci diambil dari tangan si budak yang sudah kepanasan memegang poci bukan dari pegangannya atas perintah si pegawai kurang ajar, lalu dituangkanlah isinya ke cangkir si pegawai sampai tumpah. Shot yang ditampilkan pun tidak pula tiba-tiba jadi penuh drama tidak penting karena menekankan wajah murka Tjokro, melainkan sebaliknya: cukup dengan memperlihatkan bagaimana teh panas tersebut terus dituang dari poci walaupun sudah tumpah dari cangkirnya sembari memberikan OS sound teguran Tjokro terhadap si londo. Ini hanyalah satu dari sekian banyak adegan di film ini yang menggambarkan konsistensi dan kelas yang diperlihatkan Tjokro dalam memperjuangkan martabat dan harga diri rakyatnya tanpa kekerasan. Secara filmis pun, ini juga menunjukkan pemahaman penuh dan konsistensi Garin yang ingin menggambarkan cara-cara halus yang dipilih Tjokro dalam merealisasikan pemikirannya tersebut.
Secara keseluruhan, saya sangat menikmati film Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Seluruh elemen di film ini bersinergi dengan baik dan saling mendukung. Harus diakui, durasi filmnya yang sangat panjang memang membuat beberapa bagian filmnya (khususnya pidato dan monolog) menjadi sedikit membosankan dan membuat perhatian saya sedikit teralih, meskipun adegan-adegan sambungannya akan dengan cepat dan mudah membuat saya kembali mengikuti cerita. Pun ada pula bagian-bagian musik yang terasa off atau kurang pas serta kehadiran beberapa karakter tambahan yang menurut saya tidak banyak membantu jalannya cerita khususnya terhadap perkembangan cerita Tjokro sendiri. Yang paling saya sayangkan adalah karakter Stella yang diperankan Chelsea Islan. Sepintas karakter ini mengingatkan saya akan karakter Annelies dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer: seorang Indo yang sebenarnya tidak dianggap jelas statusnya-bukan Belanda, bukan pula pribumi. Ini membuat Stella dan Annelies ada dalam ketidakpastian dan kemelaratan yang sama. Sayangnya, penggambaran karakter Stella di film tidak digarap secara lebih lanjut, sehingga kehadirannya terkesan setengah-setengah. Permohonan bantuan atas status Indonya agar tidak dirinya terombang-ambing terhadap situasi politik dan hukum Hindia Belanda kepada Tjokro pun tidak ditindaklanjuti dalam film, sehingga apa yang akan terjadi pada Stella nantinya pun kita tidak akan tahu. Padahal kehadiran karakternya (walaupun saya yakin sekali ini karakter buatan) bisa menjadi sangat vital dalam mendorong kelangsungan cerita khususnya dalam menunjukkan bahwa Stella (yang mewakili kondisi semua Indo di zaman itu) pun juga rakyat yang punya hak, status, mimpi dan harapan. Bahwa Tjokro pun juga turut membantu memperjuangkan mereka, para kaum Indo, yang juga adalah bagian dari Indonesia.

Tapi, yang paling penting adalah, saya belajar sejarah dari film ini. Berbeda dari Soegija yang sangat kurang mengesankan bagi saya karena penggambaran Soegija yang bisa dikatakan sangat minim dalam film yang secara jelas diberi judul namanya sendiri tersebut ditambah sehingga membuat saya kesulitan untuk relate dengan karakter dan ceritanya, Guru Bangsa: Tjokroaminoto bukanlah sekadar judul. Di sini digambarkan bagaimana Tjokro (yang diperankan dengan sangat apik dan simpatik oleh Reza Rahadian) patut menerima gelar Guru Bangsa tersebut. Di sinilah digambarkan bagaimana Tjokro berjuang menghimpun, mendidik dan menjaga keharmonisan rakyat yang dibinanya, walaupun kadang harus mengorbankan kepentingan dirinya sendiri. Tjokro adalah karakter yang approachable bukan saja bagi para sesama karakter di dalam film khususnya rakyat kelas bawah, tapi juga bagi saya sebagai penonton. Sebagai penonton, saya selalu peduli dan ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya pada Tjokro serta Sarekat Islamnya. Penonton non-Muslim pun tidak perlu khawatir mereka tidak bisa relate dengan film ini, karena menurut saya Garin membuat adegan-adegannya secara netral dan tidak menitikberatkan adegan-adegan yang sangat Islami seperti salat secara terus menerus, sehingga kita pun bisa ikut merasakan bahwa perjuangan Tjokro dan Sarekat Islam tidak saja hanya bagi kaum Muslim, tapi bagi kita semua. Dan sejujurnya, seperti inilah saya ingin belajar sejarah, khususnya biografi pahlawan. Lugas, jelas, menghibur dan tidak menggurui. Kudos untuk semua yang terlibat di film ini!






































