Review: Adriana (2013)

Pahami sejarah negara dan diri sendiri. Sepertinya kalimat ini yang menjadi premis dasar dalam film ini. Ada suatu pesan moral yang hendak disampaikan kepada generasi muda supaya lebih peduli tentang sejarah negaranya sendiri dan juga agar paham diri sendiri. Sayangnya, di tengah usaha kerasnya (bahkan terkesan ngotot) dalam menyampaikan pesan ini, film ini seperti lupa akan dirinya sendiri: dari mana film ini sebenarnya berangkat? Apa tujuannya?
Film Adriana bercerita tentang sepasang sahabat, Mamen (Adipati Dolken) dan Sobar (Kevin Julio), yang kepribadiannya sangat bertolak belakang. Mamen digambarkan sebagai anak gaul yang pemalas tapi mudah mendekati perempuan, sementara Sobar seorang geek ahli sejarah yang sulit mendekati perempuan. Satu ketika, Mamen bertemu dengan seorang perempuan cantik (Eva Celia) di perpustakaan. Mamen ingin berkenalan dengan perempuan tersebut, namun ketika dia mengajak perempuan itu berkenalan, si perempuan malah memberinya teka-teki dan clue tentang sejarah Indonesia untuk dipecahkan. Clueless, Mamen meminta bantuan Sobar. Mereka terseret ke dalam petualangan pemecahan teka-teki yang ternyata lebih dari sekadar teka-teki sejarah Indonesia.
Jujur saja, saat menulis kritik ini, saya bingung harus mulai dari mana.
Sebenarnya ide memasukkan unsur sejarah Indonesia ke dalam film drama anak muda tidaklah buruk. Mungkin pula maksudnya baik, karena ingin membuat generasi muda memahami kembali sejarah negaranya sendiri. Tapi dalam eksekusinya, film ini seperti kehilangan arah, bahkan dari berbagai sisi. Film ini jadi terkesan dipaksakan. Skrip seperti tidak siap difilmkan, tapi entah dengan alasan apa, pokoknya harus difilmkan segera. Terlihat bahwa sejarah menjadi sekadar tempelan saja yang tidak membawa nilai tambah. Bahkan kalau elemen sejarah ini diganti dengan elemen lain pun, misalnya saja matematika lalu petualangan mereka menjadi petualangan memecahkan teka-teki matematis, bisa jadi tidak akan ada pengaruhnya juga.
Penonton dibawa dalam teka-teki yang membingungkan, tanpa ada clue atau perkenalan singkat mengenai apa yang seharusnya dicari oleh Mamen dan Sobar. Logika cerita sulit diterima, alur cerita sulit diikuti. Konflik yang ada dalam film sulit untuk diketahui dan dipecahkan. Dari awal kita tidak dituntun untuk mengenal paling tidak sedikit mengenai apa yang akan dilalui oleh Mamen dan Sobar. Semua tiba-tiba saja, seperti random. Hingga akhir film, bahkan saya sulit untuk bisa mengerti ceritanya. Terlalu sibuk mengedepankan teka-teki untuk dipecahkan, film ini malah jadi hilang arah sendiri. Banyak hal yang aneh dan tidak jelas juntrungannya. Misalnya, tentang teka-teki kedua yang membuat Sobar berhenti melangkah ketika Mamen membacakan kata ‘Adriana’. Dari mana Mamen mendapatkan teka-teki itu? Tidak ada yang tahu. Misterius saja.
Dan kemisteriusan konyol itu muncul terus menerus di sepanjang film.

Entah apa pula yang membuatnya demikian, tapi karakter Mamen juga tidak mengundang simpati, bahkan hingga akhir film. Sangat disayangkan mengingat Mamenlah karakter utama di film ini. Pembangunan karakternya tidak jelas dan sifatnya tanggung, sehingga membingungkan penonton untuk melihat karakter ini dari sisi apa. Acting Adipati Dolken juga tidak menolong membawa karakter Mamen menjadi karakter yang menarik untuk kita ikuti lebih lanjut ceritanya. Bukannya ingin membela dan mendukung Mamen dalam petualangan cinta berbalut sejarahnya, saya malah lebih sering dibuat jengkel.
Keganjalan-keganjalan logika tersebut diperparah dengan editing yang juga ganjal, bahkan terkesan buruk. Saya menemukan beberapa jump cut yang sangat mengganggu. Selayaknya sebuah kalimat yang kekurangan kata yang seharusnya ada, seperti itulah kesan yang saya tangkap terhadap tidak adanya shot-shot yang seharusnya melengkapi adegan tersebut untuk bisa dinikmati menjadi satu alur. Saya bahkan merasa seperti film ini kekurangan stock shot sampai-sampai adegan-adegan yang seharusnya mengalir malah menjadi janggal. Selain itu, ada beberapa kali saya temukan perpindahan yang terasa sangat kasar.
Sebenarnya, secara sinematografi, kualitas gambar dan komposisi shot-shot-nya tidaklah sepenuhnya buruk. Bahkan banyak yang enak dilihat dan cantik komposisinya. Tapi, tentu gambar cantik saja tidak cukup. Apalagi film ini penuh dengan unmotivated shots yang terkesan demi mengatasnamakan estetika semata, tanpa benar-benar memperhitungkan tujuan dan koneksinya ke dalam cerita. Sepanjang menonton, saya sering bertanya ke diri sendiri pertanyaan-pertanyaan macam ‘mengapa type of shot ini yang dipilih untuk adegan ini?’ atau ‘mengapa tiba-tiba ada change of focus?’, karena sepengertian saya terhadap ceritanya, tidak ada nilai tambah yang hendak ditonjolkan adegan-adegan tersebut dengan mengambil keputusan-keputusan sinematografis macam itu.

Yang paling membuat saya gerah adalah karakter-karakter sejarah dalam film ini digambarkan dengan sangat tidak profesional. Tokoh Adriana van der Bosch diperankan oleh Eva Celia sendiri, yang sama sekali tidak terlihat seperti orang Belanda (dan kostumnya malah mirip Little Red Riding Hood). Logika ini pun selayaknya dipertanyakan. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Eva Celia, tidak adakah pemeran lain yang lebih cocok untuk memerankan karakter ini? Mengapa tidak memilih gadis yang memang terlihat seperti orang bule? Dan belum selesai kejengkelan saya dengan tokoh Adriana yang sangat pribumi wajahnya, muncul kejengkelan baru: Soekarno gondrong. Bapak presiden pertama kita ini bahkan diperlihatkan awet muda sampai wafatnya. Pemerannya: Adipati Dolken. Bukannya menarik simpati, kesan yang ditangkap penonton malah pembuat filmnya malas, sampai-sampai tidak mau berusaha atau berpikir untuk mencari pemeran yang setidaknya lebih mirip.
Satu lagi yang juga membuat saya gerah adalah karakterisasi tokoh guru/dosen sejarah ketiga anak ini yang diperankan Agus Kuncoro. Sebenarnya tidak ada masalah dengan acting Agus Kuncoro, tapi aksesoris cangklong dan bajunya yang membuat penonton heran setengah mati. Selama 14 tahun, beliau digambarkan menggunakan baju yang sama terus menerus, dengan model yang persis sama. Agak konyol kalau seseorang masih menggunakan baju yang sama selama itu dan bajunya tidak terlihat kucel atau rusak sama sekali, tapi ya sudahlah. Kemudian, sang guru/dosen sejarah ini digambarkan suka “menghisap” cangklongnya. “Menghisap” karena sebenarnya tidak ada tembakau yang dibakar, jadi lebih seperti menempelkan ke mulut saja, cuma sekadar pajangan, “biar keren saja” (dan diakui sendiri oleh si guru/dosen sejarah). Ini adalah karakterisasi yang sangat konyol dan tidak menambah apa-apa terhadap karakternya, malah terkesan bodoh. Apa tujuannya membawa-bawa cangklong ke dalam karakterisasi tokoh ini? Kedua, sang guru/dosen sejarah ini juga selalu menunjukkan cangklongnya di depan murid-muridnya yang masih SD. Walaupun saya bukan anti cangklong, tapi saya cukup yakin tidak ada sekolah di mana pun yang mengizinkan gurunya untuk membawa-dan menggunakan-produk atau aksesoris berafiliasi tembakau di dalam kelas.
(Selingan di luar tulisan utama: by the way, itu cangklong mahal lho bro! Mbok ya jangan diketok-ketok ke papan tulis!)
Setidaknya, acting Kevin Julio masih bisa membuat penonton tahan menonton film ini. Karakter Sobar adalah yang paling well-developed di antara semuanya dan Kevin Julio membuat penonton berhasil menaruh perhatian padanya. Kevin Julio menjadi seperti oasis yang membawa kesegaran di tengah gurun pasir yang terik dan membuat pengunjungnya hilang arah. Saya bersimpati pada karakter Sobar. Saya peduli dengan dirinya dan pada kelanjutan petualangan sejarah dirinya sendiri tanpa embel-embel Mamen. Kevin Julio juga terlihat yang paling natural di antara semuanya dalam memerankan karakter.
Selain Kevin Julio, musik karya Indra Lesmana juga menyelamatkan film ini. Paling tidak musiknya bisa membawa mood yang memang hendak dimunculkan oleh pembuat film. Poin plus lain adalah, selain berhasil dalam sisi itu, musiknya juga enak didengar. Tidak berlebihan dan tidak didramatisir, sehingga memang pas dengan apa yang ada.
Menuju scene terakhir sebelum credits, di bagian yang bisa dibilang krusial bagi Adriana dan Mamen, teman saya malah terbahak-bahak menontonnya.

