Review: Gone Girl (2014)
Dengan judul seharafiah Gone Girl, mudah untuk para penonton berasumsi film ini berputar pada misteri di balik hilangnya istri dari Nick Dunne (Ben Affleck). Premis dan awalannya memang tampak seperti itu. Tapi semakin film melaju, semakin terungkap, bahwa film teranyar dari David Fincer ini memiliki banyak lapisan tersembunyi dalam strukturnya. Kisah pencarian karakternya yang hilang hanyalah sebuah kendaraan untuk menyalurkan kritik sosial terhadap pelbagai hal.
Adalah Amy Dunne (Rosamund Pike) yang mendadak hilang dari rumahnya di suatu siang, meninggalkan sang suami, kepolisian setempat, dan keluarganya kebingungan. Kebetulan, Amy adalah sosok yang cukup popular. Kisah hidupnya telah lama menjadi sumber inspirasi karakter rekaan kedua orang tuanya, Amazing Amy, yang laris manis sebagai bacaan anak-anak. Tidak mengherankan, media ikut terjun dalam kasus pencariannya, mengambil peran dalam mengaburkan antara spekulasi dengan fakta.
Sekilas, cerita yang ditawarkan terasa familiar dengan beberapa kasus yang penyelidikan sering kita simak di televisi. Bahkan, kasus Scott Peterson kurang lebih sedekade yang lalu memiliki kemiripan terlalu banyak dengannya. Tapi tunggu sampai film melewati 60 menit, dan Fincher dengan mulusnya mengubah arah perginya film.
Sebagai kisah misteri pencarian siapakah-sang-pelaku dan ke mana perginya Amy Dunne, Gone Girl sendiri sudah tampil dengan kualitas mumpuni. Mulai dari momen ditemukannya surat bertuliskan ‘clue one’ di lemari pakaian Amy, tiap penonton akan langsung menciptakan teorinya sendiri dan menebak-nebak kelangsungan cerita. Tapi barulah ketika satu jam berlalu, ketika akhirnya satu rahasia terbesar terungkap, Gone Girl menjelma dari sebuah crime-thriller yang solid menjadi salah satu film terbaik tahun 2014.
Tentunya, mengumbar jalan ceritanya pada durasi tersebut akan mengacaukan film untuk yang belum menonton. Tapi tidak berhentinya saya mengagumi naskah adaptasi novel berjudul serupa yang sama-sama digarap oleh Gillian Flynn. Cerdas rasanya juga masih kurang tepat untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas jalinan cerita yang terdapat dalam Gone Girl. Selain twist-nya yang segar, disajikannya juga potret ekstrim nan satir akan dunia pernikahan. Bagaimana dua sejoli benar-benar pantas mendapatkan pasangannya yang sepadan.
Peran media dalam film juga sangat besar hingga terasa sebagai sebuah karakter sendiri. Bagaimana opini publik, yang secara tidak langsung adalah kita sendiri, dalam dunia sehari-hari seringkali sudah terlalu dimanipulasi oleh media. Mempertanyakan apakah masih ada kebenaran yang terkuak ke massa di kasus-kasus yang kita jumpai di televisi.

Tapi tentunya sentuhan dari sang sutradara berhasil menyempurnakan itu semua. Kisah Gone Girl straight-up adalah keahlian Fincher. Atmosfirnya tidak berbeda jauh dengan Zodiac atau Se7en dan perpaduan warnanya tidak melenceng jauh dari The Social Network atau The Curious Case of Benjamin Button. Tidak perlu waktu lama untuk mendeteksi Gone Girl sebagai karya David Fincher. Dan, saya rasa untuk saat ini tidak ada sutradara yang memiliki story-telling sebaik Fincher. Di tangan sutradara lain, Gone Girl bisa jatuh dalam kerumitan narasinya sendiri.
Dalam faktor esensial terakhirnya, jajaran aktornya tidak mengecewakan. Kecuali Neil Patrick Harris yang masih saja gagal membuat saya lupa dengan karakter Barney, saya tidak menemukan masalah dengan pemain lainnya. Ben Affleck menampilkan kekelaman yang jarang ditemui sebelumnya. Bahkan, Tyler Perry, yang umumnya adalah bahan olokan, berubah dalam karakter yang mampu disukai. Tapi adalah Rosamund Pike sebagai karakter titular yang harus mendapatkan semua pujian. Transformasi dirinya dalam perjalanan cerita ini yang terbaik yang pernah diberikannya sepanjang karir aktingnya dan juga adalah salah satu yang terbaik tahun ini. Ada satu adegan di sekitar satu jam terakhir, yang sudah menonton pasti tahu, di mana ekspresinya berbicara banyak tanpa harus mengeluarkan satu patah kata pun. Berbicara lebih banyak dari ini, saya malah takut akan masuk ke wilayah spoiler.
Tapi itulah, Gone Girl, sebuah karya yang memang harus dinikmati tiap individual sendiri. Pengalaman yang diberikannya tidak tersandingi, tiap tikungan yang diambilnya tidak terduga, dan lewat tangan Fincher, semuanya mengalir dengan tenang, teratur, namun mencekam.


