Review: Interstellar (2014)

Pada inti terdalamnya, Interstellar adalah usaha Christopher Nolan untuk menceritakan hubungan ayah dan anak yang tak akan lekang oleh waktu. Sayangnya, atau malah untungnya, Nolan tidak memiliki selera humor setinggi TARS. Jadi, translasi Nolan akan ‘tak akan lekang oleh waktu’ pun berakhir secara harafiah. Lewat balutan ekspedisi antariksa, melalui bintang-bintang, wormhole, blackhole, dan hal semacamnya, sebuah premis yang familiar bertransformasi menjadi sajian nyaris 3 jam yang jauh lebih ambisius, megah, dan besar dari yang pernah ditawarkan fiksi ilmiah lainnya dalam beberapa tahun terakhir ini.
Sang ayah adalah Cooper (Matthew McCounaghey), mantan pilot NASA yang berubah menjadi seorang petani ketika kehidupan di bumi mulai terancam punah akibat gagal panen yang berkelanjutan serta badai debu yang sering menghantam. Sementara, sang anak di sini adalah Murphy dan Tom, dengan nama pertama lebih mencuri lampu sorot penceritaan. Lewat sebuah kejadian demi kejadian, Cooper yang bertemu kembali dengan NASA, harus rela meninggalkan keluarganya di bumi demi mencari planet di luar tata surya kita yang dapat menjadi rumah baru bagi manusia. Lewat arahan dari Professor Brand (Michael Caine), dan bersama putrinya, Amelia Brand (Anne Hathaway), Cooper dipandu dalam misi penuh resiko menjelahi bintang, an interstellar trip.
Ada dua pilihan ketika menyasikan Interstellar. Terlibat secara penuh dalam berbagai teori fisikanya, atau lebih fokus dalam perjuangan kisah Cooper menyelamatkan anaknya. Kecuali kalian memang seseorang yang ahli dalam bidang fisika, saya tidak menyarankan rute pertama. Lagipula, tiap karakter di film akan menjelaskan semudah mungkin tentang tiap teorinya, berusaha sebisa mungkin membuat kita mengerti akan bagian ilmiah dari Interstellar, yang sebenarnya berfungsi sebagai motor penceritaan dari bagian intim filmnya sendiri; hubungan ayah-anak.

Tapi kita berbicara tentang Nolan di sini. Dia adalah sutradara yang berhasil membawa genre superhero naik kelas (The Dark Knight), membuat twist luar biasa (Memento & The Prestige), dan tentunya premis dan konsep di luar nalar (Inception). Interstellar mungkin bukan film terbaiknya, tapi dia tidak kehilangan sentuhannya di sini. Banyak belokan-belokan tak terduga, banyak juga yang sebaliknya, yang dia ambil di pertengahan menuju akhir. Beberapa akan terkecoh dengannya, dan beberapa akan melihatnya jauh sebelum sampai di tikungan tersebut. Beberapa akan membuat kalian terkagum sembari meledakkan jaringan neuron di otak kalian, sementara beberapa akan membuat kalian ‘yaelah’.
It’s a divisive movie, after all. Beberapa orang pun juga mempermasalahkan durasinya yang panjang, hampir 3 jam. Tapi bila ada satu hal yang saya pelajari usai menonton, waktu itu relatif. Interstellar memiliki scope penceritaan yang luas, dan bila kalian berhasil terhisap ke dalamnya, durasi adalah hal terakhir yang akan kalian perdebatkan.
Tapi terlepas dari suka atau tidaknya kalian, Interstellar adalah sebuah film yang ambisius. Bahkan dengan premisnya yang sederhana, narasinya bisa berubah drastis menjadi sangat kompleks satu jam sesudahnya. Apalagi dengan visualisasinya yang menawan yang semakin mencengangkan ketika mengetahui bahwa sama sekali tidak ada green screen yang dilibatkan dalam prosesnya. Menggunakan jasa Hoyte van Hoytema (Her) di kursi director of photography, menggantikan langganannya, Wally Pfister yang sibuk dengan Transcendence, Interstellar adalah pengalaman terdekat yang bisa kalian dapat dalam menjelah antariksa.
Interstellar juga adalah film paling emosional yang pernah dibuat oleh Nolan. Bila sebelumnya beberapa orang merasa filmnya terlalu ‘dingin’, di sini dramanya berhasil lebih memikat dan nyaman. Mayoritas kredit perlu disematkan terhadap akting Matthew McCounaghey dan Mackenzie Foy dalam membangun relasi ayah dan anak yang sangat baik. Tapi bahkan Anne Hathaway yang tidak diberi banyak ruang pun berhasil membawa karakter dan tiap keputusannya lebih mudah dipercaya. Sementara Jessica Chastain, walau tidak jelek, gagal tampil mencolok. Tidak masalah, standar yang ada di film mungkin memang terlewat tinggi untuk digapai. Apalagi setelah semuanya dieleveasi oleh dentuman musik dari Hans Zimmer baik kala saat emosional atau menegangkan.
Tidak boleh lupa disebutkan juga, saya menyaksikan film dalam format 4Dx. Satu dari hanya dua format yang bisa saya sarankan bersama dengan IMAX. Untuk mendapatkan pengalaman optimal dari film-film Nolan yang tidak pernah dirilis dalam format 3D, janganlah membuang uang kalian untuk format 2D biasa (kecuali bila itu satu-satunya yang ada di kota kalian).
Akhir kata, Interstellar memang bukan film terbaik Nolan, The Prestige dan The Dark Knight masih menyandang predikat itu untuk saya, tapi ia masih lebih baik dari mayoritas film yang rilis tahun ini, tahun lalu, bahkan 10 tahun yang lalu. Nolan adalah satu dari sedikit sutradara yang berani menantang dirinya, dan kadang ia bahkan gagal untuk mengalahkan dirinya sendiri. But, if you think this is the least he can do, then you should be afraid of what he can do at his best.
Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

