‘Gotham': Serial yang Bingung akan Arahnya
Apa yang terjadi setelah kematian orangtua Bruce Wayne, namun sebelum dirinya berubah menjadi Batman? Apa kondisi para musuh bebuyutan Batman saat Bruce Wayne masih kecil? Bagaimana Jim Gordon memulai karirnya sebagai polisi di kota penuh korupsi, Gotham? Pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti adalah yang pertama hadir di benak Bruno Heller saat memikirkan premis awal dari Gotham.
Ya, tidak diragukan lagi popularitas Batman kini memang sedang tinggi-tingginya. Usai dinaikkan derajatnya oleh trilogi Christopher Nolan, Batman tidak butuh lama menunggu sebelum balik lagi ke layar lebar untuk beradu bersama Superman di 2016. Tapi bahkan, setelah 2 film dari Tim Burton dan sepasang lagi dari Joel Schumacher, sepertinya masih banyak celah-celah cerita yang belum pernah diangkat ke publik. Benar, tapi pertanyaannya, apakah celah-celah tersebut esensial dan menarik untuk diikuti?
Gotham memiliki karakter utamanya dalam wujud Jim Gordon muda (diperankan oleh Ben McKenzie), karakter yang baru menarik perhatian penonton saat diperankan oleh Gary Oldman. Jim Gordon tiba di kota Gotham sebagai polisi baru yang optimis dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tidak butuh waktu lama sebelum ia menyadari bahwa keadaan sudah terlalu terlarut dalam kekacauan. Ia pun digambarkan sebagai kambing yang bertahan hidup dalam kawanan macan.
Sembari Jim Gordon membasmi para penjahat satu per satu, Gotham menawarkan banyak asal-usul musuh bebuyutan Batman di masa mudanya. Ada Catwoman (masih cilik), Falcone, Maroni, hingga Poison Ivy, tapi yang paling mendapatkan lampu sorot adalah Oswald Cobblepot a.k.a. The Penguin.

Bruce Wayne kecil dan Alfred pun tidak ketinggalan andil di sini, terutama episode pertamanya yang menceritakan kematian Thomas Wayne dan Martha Wayne. Kejadian yang sudah sering muncul di film ini menjadi lebih krusial di Gotham, karena hingga kini sang pembunuh belum tertangkap dan Jim Gordon adalah polisi yang bertanggung jawab akan kasus ini.
Saya sendiri awalnya memang sudah tidak terlalu tertarik dengan Gotham. Pertama, premisnya sendiri bahkan tidak berfokus pada Batman, melainkan asal-usul dari musuhnya. Tapi tidak sampai di situ, Gotham mundur terlalu jauh hingga saya merasa cerita terlalu dibuat-buat. Siapa yang peduli akan Catwoman kecil atau Penguin muda? Yang jelas bukan saya. Inilah yang saya maksud ketika ada banyak celah-celah cerita yang belum pernah diangkat. Kehidupan muda musuh dari Batman tidaklah esensial dan sama sekali tidak memikat.
Di episode awal, saya sempat tertarik akan kisah Jim Gordon yang seolah-olah hanya satu-satunya orang baik di Gotham. Sepertinya menarik melihatnya membasmi semua penjahat di sana. Tapi masalah kemudian muncul ketika kita sudah tahu jawaban akhirnya. Gotham tidak tertolong, maka dari itu ia butuh Batman. Bila Jim Gordon berhasil, apa gunanya Batman? Pointless.
Hal ini diperburuk dengan tone serial yang fluktuatif. Oke, di satu episode kita melihat orang meninggal secara mengenaskan jatuh dari langit ke jalanan. Tapi tahukah mengapa ia jatuh? Karena ia diborgol dengan balon helium dan terbang ke atas. Seakan-akan para penulis bingung mau mengadopsi tone campy a la Schumacher atau gritty a la Nolan. Bahkan di episode keempat, sang penjahat memberikan sebuah alat, semacam teropong yang bisa mengeluarkan pisau, untuk diberikan ke korbannya. Ia bilang, ‘Coba lihat ke dalam pakai mata’, sebelum akhirnya mata sang korban tercolok oleh mata pisau. Sadis, tapi konyol.

Yang paling menyedihkan adalah melihat semua talenta aktor yang terlibat di dalamnya. Ben McKenzie memiliki apa yang dibutuhkan untuk memimpin sebuah serial. Donal Logue sebagai Harvey Bullock, partner dari Gordon pun berhasil menyatu dan memberikan aura buddy cop yang asyik. Bahkan saya pun terkesima saat melihat David Mazouz sebagai Bruce Wayne muda, karena ia benar-benar berhasil menyatu dengan karakter. Bahkan sang kota, Gotham, adalah karakter yang baik di sini. Setidaknya, saya suka dengan eksekusi akan kotanya yang terlihat kotor dan korup.
Sayangnya, Gotham kesulitan untuk menentukan identitasnya. Apakah ia mau menjadi sebuah serial campy atau gritty? Bagaimana memberikan jalinan cerita yang lebih penting untuk mitologi Batman yang sudah kaya dan bisa menarik untuk diikuti? Sampai kapan ia mau menunda-nunda kejadian Batman muncul dengan bertubi-tubi cerita yang sebenarnya tidak lebih dari kumpulan easter eggs? Karena hingga kini, Gotham adalah sebuah serial yang bingung akan arahnya.
*tulisan dibuat berdasarkan episode 1 hingga 4 dari Gotham

