Review: The Last Stand (2013)

2013 dibuka dengan film solo dari para personil-personil The Expendables. Pertama kita bakal mendapatkan The Last Stand (Arnold Schwarzenegger), lalu Parker (Jason Statham), Bullet to The Head (Sylvester Stallone), dan A Good Day to Die Hard (Bruce Willis). Tentunya, jika Anda yakin bahwa Jackie Chan akan bermain di Expendables 3, maka kita bisa memasukkan Chinese Zodiac ke dalam list tersebut. Wait, ini Avengers atau Expendables sih? Terlepas dari itu, mari kita bicara tentang film yang saya sebut pertama, The Last Stand.
The Last Stand bisa dibilang film comeback dari Arnie setelah selesai menjabat.. err.. apapun jabatan politik yang ia jabat di Amerika sana. Sudah tua, memang, tapi isu tua dari personil Expendables ini digunakan hampir di semua film mereka. Bahkan Expendables sendiri membuat lelucon tentang itu. Saya sendiri tidak terlalu masalah dengan faktor umur di sini, karena pada faktanya filmnya menghibur dan kharisma dari Arnold masih sangat kuat.
Diceritakan seorang penjahat kelas kakap, Gabriel Cortez, berhasil melarikan diri saat dalam proses pemindahan. Namun, cara kabur Cortez cukup unik, kalau tidak mau dibilang tidak logis. Cortez berniat untuk menembus perbatasan menuju Meksiko, menggunakan mobil. Karena begitu ia sampai di Meksiko, polisi sudah tidak bisa menahannya karena berada di luar yurisdiksi. Tentunya tidak dengan sembarang mobil, singkat cerita, menurut Forest Whitaker sih mobilnya Batman. Untuk sampai ke Meksiko, Cortez harus melewati sebuah kota, di mana di situ, Arnold adalah sheriffnya.

Saya suka dengan plotnya, simple, tapi tidak bodoh, dan memadai. Oke, mungkin adegan di mana Cortez berhasil kabur saat sedang dijaga oleh rombongan polisi sangat bodoh sekali. Hanya polisi Indonesia saja yang sudah mengawal tahanan berbondong-bondong dan masih kecolongan. Tapi menuju pertengahan film dan meninggalkan otak di luar pintu studio, The Last Stand adalah sebuah perjalan yang menyenangkan. Semua kesalahan di paruh awalnya dibalas habis-habisan di babak kedua. Tiba-tiba banyak komedi bertebaran, menggantikan kelakuan abnormal karakter-karakternya.
The Last Stand juga tidak tanggung-tanggung dalam hal action. Darah muncrat, kepala pecah, semua ada. Adegan Cortez ngebut naik “mobil Batman” juga disajikan menarik. Serasa sedang menonton Fast & Furious tapi digabung dengan Expendables. Tokoh-tokohnya juga mudah untuk disukai meski sulit diingat. Sadarkah kalian, bahwa satu-satunya nama karakter yang saya sebut sampai sekarang hanya Gabriel Cortez?
Intinya, The Last Stand adalah comeback yang baik dari Arnold. Tidak seompong Die Hard 5 temannya yang akan saya review setelah ini.

