Review: American Sniper (2014)
Salah satu hal terburuk yang pernah terjadi di dunia ini, setidaknya kita sebagai manusia abad ke-21, adalah perang. Ya, bagaimana tidak? Perang menghabiskan banyak uang, menghabiskan banyak waktu, dan menghabiskan banyak nyawa. Namun bagaimana jika seorang prajurit mengalami adiksi terhadap perang? Bagaimana jika ia selalu ingin kembali ke medan perang?
Di tahun 2014, Clint Eastwood kembali berkarya dengan mengadaptasi sebuah autobiografi seorang penembak jitu paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat yang berjudul American Sniper: The Autobiography of The Most Lethal Sniper in U.S Military History. Pria yang disebut-sebut telah melaksanakan 255 pembunuhan (160 yang telah dikonfirmasi) itu adalah Christopher Scott Kyle. Diperankan oleh Bradley Cooper (The Silver Linings Playbook, American Hustle), American Sniper adalah film yang dinominasikan sebagai Best Picture dan 5 nominasi lainnya di Oscars, tapi adalah yang paling saya underestimate, dan yang saya tonton paling akhir. Namun hasilnya berbalik 180 derajat.
Kepiawaian Bradley Cooper dalam memerankan Chris Kyle menuai nominasi Best Actor pada Academy Award ke 87. Namun seperti yang kita tahu, ia harus menerima kekalahan atas Eddie Redmayne dalam Theory of Everything, disini kembali saya katakan ada underestimation yang besar untuk American Sniper. Clint Easwood dan timnya harus puas pulang dengan hanya membawa satu piala untuk Best Sound Editing.
Yang menarik dari American Sniper adalah konflik multifaktorial yang diberikan secara konstan sepanjang film. Mulai dari ketegangan yang sangat orisinal dan mengiris dari adegan perang di Baghdad sampai argumen yang rumit di dalam rumah tangga karena gairah yang tertinggal di medan perang. American Sniper adalah sebuah kisah tragis tentang cinta. Cinta kepada perang, cinta kepada resiko yang harus dibayar dari sebuah rasa patriotisme. Dan, bagaimana hidup bisa terombang ambing dan berakhir begitu saja dalam sekejap.
American Sniper, dalam beberapa hal berhasil mengoyak emosi penontonnya dengan memberikan suatu start yang sangat lambat, dengan dialog yang sepi, yang membuat kita hanya terfokus pada sosok Bradley Cooper yang saya nilai punya tingkat kemiripan yang tinggi dengan Chris Kyle. Namun itu menjadi salah satu senjata makan tuan yang American Sniper berikan, yang dapat membuat beberapa orang dengan mudah kehilangan euforia dengan pola tempo penceritaan film yang lambat.
But the one who stays longer to watch the film, seperti saya, pasti merasakan lonjakan emosi yang sangat fluktuatif dan disinilah American Sniper beranjak sebagai film terkuat, teremosional, dan tentunya ter-dramatis sepanjang 2014. Dua adegan yang terbaik menurut saya adalah adegan paling pertama dan adegan paling terakhir dari film ini. Yang pertama datang di awal film, bagaimana ada pertarungan moral yang sengit di benak Chris Kyle ketika ia hendak melancarkan tembakan jitunya kepada ancaman yang dibawa oleh seorang wanita dan anak kecil. Disini kita semua merasakan ketegangan yang orisinil, sebuah adegan gigit -jari yang mengenaskan, dan Clint Eastwood mempermainkannya dengan sangat piawai. Adegan paling terakhir merupakan satu masterpiece in directing, sorotan panjang ke sebuah pistol yang terkokang yang dibawa Chris berjalan didalam rumahnya, lalu sorotan pistol kearah kedua anaknya, dan sebuah dialog dengan istrinya, masih dengan pistol ditangan Chris, dan bagaimana ia berhasil menemukan kesembuhan psikologis dari luka yang sangat dalam yang ia dapat dari pangkuan sebuah long range rifle.
Iringan musik yang heroik, detail yang jarang tertinggal, dan penjiwaan yang sangat mendalam oleh Bradley Cooper (he was, again, outstanding!) mengajarkan kita semua bahwa sejauh apapun seseorang berjuang dengan penuh patriotisme demi negaranya, mereka akan selalu membutuhkan tempat untuk pulang, because that’s where sanity lives. Dari segala alasan yang ada, nampaknya American Sniper berhasil membuktikan bahwa actually deserves a place diatas sana dengan Birdman dan Boyhood, sebagai salah satu jajaran terdepan dalam kategori film terbaik tahun 2014.









































Pingback: Best Picture Oscar 2015 Versi anakfilm | anakfilm()