Review: Paper Planes (2014)

by -
1

Paper Planes

Akui saja, ketika kita masih duduk di bangku SD, kita pasti mempunyai mimipi besar untuk diwujudkan. Mimpi besar itu bisa jadi masuk akal, bisa jadi tidak. Itu juga yang dialami oleh karakter bernama Dylan Webber di film Paper Planes, sebuah film Australia arahan sutradara Robert Connolly. Cerita Paper Planes terinspirasi dari salah satu episode Australian Story yang berjudul Fly with Me.

Paper Planes sendiri berkisah tentang Dylan Webber (Ed Oxenbould), seorang bocah SD yang tinggal dalam kesederhanaan di daerah pedalaman Australia. Hingga suatu hari, Dylan tergugah umtuk mendalami lebih jauh tentang bagaimana membuat pesawat kertas yang baik dan mulai berpikir untuk mengikuti kejuaraan peasawat kertas secara serius, bahkan hingga ke level kejuaraan dunia yang diselenggarakan di Jepang. Keinginan besar Dylan bukan tanpa hambatan, dia harus juga menanggapi komentar remeh yang dilemparkan kepadanya tentang keseriusannya dalam menggeluti kompetisi pesawat kertas, ayahnya yaitu Jack Webber (Sam Worthington) yang semenjak kematian istrinya (yang mana jelas merupakan ibu dari Dylan) menjadi terpuruk yang mengakibatkan dia menjadi acuh tak acuh kepada Dylan, hingga bagaimana Dylan harus menghadapi Jason Jones (Nicholas Bakopoulos-Cooke) kompetitor pesawat kertas lain yang sombong dan menyebalkan. Tapi itu semua tidak mematahkan semangat Dylan, dia tetap gigih untuk menggapai impiannya yang juga didukung oleh teman-teman, guru, kakeknya dan Kimi (Ena Emai), kompetitor lain asal Jepang.

Paper Planes

Film Paper Planes adalah film anak Australia dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah Asustralia. Jika diperhatikan, memang terdapat nama besar di dalamnya, yaitu Sam Worthington (Avatar, Terminator Salvation, Clash of the Titans, Wrath of the Titans). Tapi percayalah, peran Worthington di sini hampir tidak kentara, bahkan tidak spesial sama sekali. Sepanjang film, Worthington yang berperan sebagai Jack, hanya menghabiskan screen time dia dengan menjadi orang yang bermalas-malasan dan depresi karena kehilangan istrinya. Mungkin itu memang dapat dimaklumi, tapi terkadang di beberapa adegan terasa terlalu dipaksakan dan terlalu berlarut-larut kesedihannya sehingga dapat memberikan ruang lebih untuk sang anak, Dylan, yang tampil lebih tegar dan bersedia untuk move on dari kepergian ibunya yang benar-benar sangat kontras dari apa yang ayahnya lakukan.

Membahas lebih lanjut tentang karakter Dylan di film ini, Ed Oxenbould memang tampil cemerlang sebagai Dylan. Seperti yang saya sudah sebutkan sebelumnya, dia berhasil menghidupkan karakter Dylan yang gigih, pantang menyerah, tegar dan dapat memahami kondisi ayahnya yang sedang terpuruk meskipun jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin dukungan lebih dari ayahnya sendiri layaknya anak-anak lain pada umumnya, benar-benar menginspirasi dan memenuhi kualifikasi sebagai children-family movie, inspiring and motivating. Keseluruhan dari jalan cerita juga tidaklah terlalu buruk, jalan ceritanya mencoba untuk menggandeng nilai-nilai kekeluargaan, fair game dan bullying yang disajikan dengan porsi yang cukup. Nilai plus lainnya adalah kita dapat menikmati lanskap beberapa tempat di Australia dengan segala kebudayannya.

Meskipun begitu, susah untuk menghiraukan fakta bahwa film Paper Planes adalah family-weekend kind of film. Dia menghibur dan menginspirasi, tapi tidak terlalu stand-out. Film yang cocok ditonton untuk mengisi waktu luang bersama keluarga, tetapi semata-mata hanyalah hiburan sesaat saja.

Review overview
Story - 7.3
Directing - 6.7
Acting - 7
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.
  • kasamago

    nice review, berkat film ini jd ngenal klo ad kompetisi pesawat kertas..