CW adalah salah satu kanal televisi berbayar di Amerika yang memiliki pangsa pasar umumnya remaja dan setingkatnya. Tidak heran, serial-serial CW terkenal memiliki elemen drama percintaan yang kental dan mendayu-dayu. Namun, CW kini juga patut dikenal sebagai salah satu kanal yang memulai tren dari serial superhero yang mulai menjamur.
Sejak kesuksesannya merilis Arrow beberapa tahun lalu, atau bahkan Smallville yang lebih lampau lagi, CW telah membuktikan bahwa televisi dapat menjadi medium adaptasi komik yang layak dengan bujet di bawah film.
Pada musim gugur tahun lalu, CW kembali menelurkan serial superhero baru untuk bersanding dengan Arrow. Tidak tanggung-tanggung, karakter yang diadaptasi lebih populer lagi, meski kurang mendapat perhatian dari Warner Bros. dan DC, ialah The Flash. Proyek ini bahkan sudah dicanangkan sejak musim kedua Arrow, ketika Barry Allen mendapatkan cameo di pertengehan musim.

Melihat respon yang positif, CW pun berani memberi lampu hijau untuk serial Flash sendiri. Dari sana, CW seperti yakin bahwa membangun universe terhubung layaknya Marvel Studios dengan film-filmnya dapat dilakukan di televisi. Perlu bukti? Tahun depan CW dipastikan akan merilis serial Legendes of Tomorrow yang berisikan karakter-karakter dari Arrow maupun The Flash. Sang produser, Greg Berlanti, bahkan juga membuat serial superhero DC lainnya berjudul Supergirl di kanal lain, CBS, dengan potensi cross-over dengan superhero CW. Harus diakui, ini adalah pencapaian impresif untuk sebuah kanal yang sebenarnya bukan pemain besar di pertelevisian Amerika.
Lalu, bagaimana The Flash sendiri? Berhubung serialnya sendiri baru saja berakhir, saya tertarik untuk mengulas langsung keseluruhan musim pertamanya di sini. Sekaligus membahas kemungkinan-kemungkinan dari serial superhero milik CW ke depannya. Tentunya, akan ada beberapa bagian plot yang saya bahas di sini, jadi….
MILD SPOILER ALERT
Meski cukup terhubung erat dengan Arrow, nyatanya The Flash dapat berdiri sendiri dalam artian kalian tidak perlu menonton Arrow untuk mengerti jalan cerita serial ini. Dengan kata lain, CW sendiri sudah mengerti esensi dari cross-over. Dan, layaknya serial superhero pada umumnya, pada episode pertama kita dipertemukan dengan sang karakter protagonis, bagaimana ia mendapatkan kekuatannya, koleganya, dan gambaran besar bagaimana konflik satu musim akan berjalan.

Saya tidak akan bohong, pilot The Flash adalah salah satu episode serial superhero terpadat yang pernah saya saksikan. Mulai dari bagaimana Barry Allen mendapatkan kekuatannya, love-interest, hingga sang musuh utama dari musim tersebut berhasil dijabarkan dalam durasi di bawah satu jam.
Lanjut ke episode selanjutnya, barulah Flash mengadaptasi formula dari Arrow yang sudah terbukti ampuh menarik para fanboy: easter eggs + villain of the week + sedikit progres plot utama.
Bila musim pertama Arrow berfokus pada Malcolm Merlyn dan Oliver Queen membasmi orang-orang di buku catatan dari mendiang ayahnya, The Flash berfokus pada perseteruannya dengan Reverse-Flash dan mencari siapa dalang dari pembunuh ibunya. Tapi tentunya, ini bukanlah sebuah film dengan durasi 2 jam, The Flash harus bisa mengulur-ngulur waktu hingga menjadi 23 episode.
CW tahu betul dengan medium ini, ia bisa bermain-main dengan memasukkan banyak karakter dari komik dalam bentuk superhero atau supervillain. Formula villain of the week pun diterapkan. Nyaris tiap episode memiliki musuh sampingan tersendiri sembari melanjutkan progres plot utama dari musim tersebut.
Harus diakui, kadang beberapa episode terasa seperti hanya pengisi saja untuk mengulur waktu, tapi terkadang para penulis benar-benar membawa cepat progres cerita utama dan pada titik itulah The Flash benar-benar bersinar. Ditambah lagi banyaknya easter eggs di tiap episode membuat para fanboy dipastikan girang setiap kali menonton.


Ini adalah salah satu kelebihan dari serial DC yang tidak terhubung kontinuitasnya dengan film. Dengan leluasa mereka bisa membawa masuk banyak musuh Flash hanya di musim pertamanya. Captain Cold, Captain Boomerang, Grodd, hingga Reverse Flash, semuanya dalam satu musim. Bisakah kalian mengatakan hal yang sama terhadap serial milik Marvel?
Tapi, berhasil merealisasikan karakter favorit dari komik tidaklah cukup. Musim ketiga Arrow adalah contohnya. The Flash harus tetap memiliki jalan cerita yang menarik dan identitasnya tersendiri. Di kala Arrow sudah terasa seperti fan-fic dari Batman, The Flash berhasil setia dengan sumber aslinya. Bagi para pembaca Flashpoint tentunya akan sangat akrab dengan beberapa elemen cerita di musim pertama ini.
Tidak berhenti di situ, para penulis masih bisa menemukan celah untuk mengutak-atik cerita menjadi sesuatu yang orisinil. Misalnya dengan bagaimana ia mempertahankan misteri identitas di balik Reverse-Flash sendiri adalah sesuatu yang patut diacungi jempol. Yang lebih impresif lagi, adalah bagaimana ia mengeksekusi pengungkapannya lagi. Hanya dengan Google, tidak perlu kalian menjadi pembaca komik setia untuk mengetahui alter-ego dari Reverse-Flash. Tapi nyatanya, tidak ada yang bisa menebak twist di balik Harrison Wells dan Eobard Thawne hingga akhirnya episode yang menjelaskan itu semua tayang.

Itu semua juga ditopang dengan akting karismatik dari kedua karakter utamanya, yaitu Grant Gustin sebagai Barry Allen a.k.a. Flash dan juga Tom Cavanagh sebagai Harrison Wells. Episode finale adalah contoh terbaik bagaimana mereka meyakinkan penonton bahwa mereka adalah musuh abadi.
Beberapa kekhawatiran awal juga berhasil dimentahkan oleh CW perihal visual efek The Flash yang harus dibuat menggunakan bujet kecil televisi. Arrow tidak perlu banyak CGI, namun ini The Flash yang memiliki kekuatan berlari dengan cepat. Nyatanya, mereka bisa merealisasikan lebih dari itu. Pertarungan Flash dan Reverse-Flash akan selalu eye-catching dan menjadi sebuah standar yang akan bertahan hingga nanti Flash dibuat menggunakan bujet Hollywood. Jangan lupa juga bahwa Grodd yang merupakan seorang villain dalam bentuk Gorilla dapat direalisasikan dengan meyakinkan dalam sebuah episode.
Dengan tone yang jauh lebih riang ketimbang Arrow, The Flash dipastikan lebih mudah menarik hati penontonnya ketimbang saudara kandungnya. Sayangnya, The Flash bukan tanpa kekurangan. Karena kita berbicara mengenai serial buatan CW, maka elemen percintaan yang saya bicarakan di awal tentunya tidak terlewat. Pada saat-saat seperti inilah The Flash benar-benar terasa membosankan. Karena, saya setidaknya, tidak peduli dengan semua itu. CW juga nampaknya tidak pernah berhasil membuat karakter wanita utamanya mudah disukai. Setelah Laurel berhasil mereka hancurkan di Arrow, Iris benar-benar ditampilkan menyebalkan dalam episode ‘Grodd Lives’.

Dan, di sinilah dampak buruk dari adaptasi superhero dalam medium televisi. Mereka harus mengulur untuk waktu yang tak pasti. Ketika film superhero bisa langsung membuat hubungan cinta karakternya berakhir manis dalam hitungan jam, di televisi, mereka harus menunda dan mengulur dalam ketidakpastian. Selama masih ada musim selanjutnya, kisah percintaan Iris dan Barry Allen akan terus tertunda. Setidaknya hingga musim terakhirnya. Yang mana tidak bisa diketahui, karena selama rating baik, serial akan terus diperbarui.
Maka jangan heran seperti di Arrow, akan ada karakter seperti Felicity yang diciptakan sebagai love-interest baru dari Oliver Queen untuk menunda hubungan cintanya dengan Laurel. Di The Flash, kita punya Eddie Thawne dengan peran yang sama.
Ketika The Flash berhasil meracik keseimbangan antara elemen superhero (sebanyak mungkin) dan percintaan (seminimum mungkin), di sanalah terletak bagian-bagian terbaik dari serial ini. Untungnya, untuk musim perdana ini, para penulis berhasil untuk mempertahankan konsistensi tersebut di mayoritas episodenya.
Catatan tambahan: Tanpa terhambat dengan kontinuitas antara film, eksplorasi mitologi The Flash di musim keduanya nanti tidak terbatas. Tidak sabar rasanya menunggu hingga akhir tahun nanti.
Buat kalian yang juga telah menonton The Flash, bagaimana menurut kalian dan apa episode terbaik dari musim pertama ini? Yuk, kita diskusikan bersama di kolom komentara di bawha.
SIMILAR ARTICLES
-
tibtop







































