Di era nostalgia franchise tahun 80-90an, tentunya seri Terminator tidak boleh terlewat. Meski dua film terakhirnya gagal menyaingi kedigdayaan dua film pertamanya yang kini sudah dinobatkan sebagai karya klasik, usaha untuk mengembalikan kejayaan tidak pernah berhenti.

Terminator Genisys datang sebagai sekuel sekaligus soft reboot dari dua film pertamanya. Mirip seperti yang dilakukan oleh Star Trek pada tahun 2009. Ada usaha untuk membawa kembali memori manis dari film-film awalnya, sebelum akhirnya meluluh lantahkan itu semua dan membentuk jalan ceritanya sendiri.

Masih ingat mengapa Kyle Reese (Jai Courtney) dikirim kembali ke tahun 1984? Ya, untuk menyelamatkan Sarah Connor (Emilia Clarke), yang kelak akan menjadi ibu dari John Connor (Jason Clarke), penyelamat ras manusia kala bumi dihancurkan oleh Skynet. Bagi yang sudah menonton Terminator pertama, tentunya sudah hafal dengan jalan ceritanya. Namun, Genisys menawarkan sesuatu yang berbeda. Alih-alih menemui Sarah Connor yang tidak tahu apa-apa, Kyle justru bertemu dengan Sarah yang sudah siap dan tahu betul apa yang terjadi di masa depan. Plus, ia kini juga didampingi oleh robot T-800 (Arnold Schwarzenegger) sebagai bodyguard-nya.

Hal ini, membuat semua yang terjadi dalam film ini pun berada dalam sebuah timeline alternatif yang sama sekali berbeda dengan dua film pertama Terminator. Namun, coba bayangkan, apa rasanya menjadi penonton yang baru pertama kali menyaksikan seri Terminator? Mereka bahkan tidak tahu jalan cerita di timeline yang sebenarnya, apakah pengubahan timeline ini akan berarti untuk mereka?

Lalu, mari kita tilik dari sudut pandang para penonton setianya. Terminator Genisys pada dasarnya menggunakan setup yang sama untuk premis awalnya, namun seketika Kyle sampai di tahun 1984, semua cerita berubah. Dua jalan cerita film Terminator yang kalian cintai, dalam singkat kata, sudah tidak ada dan berarti lagi. Mirip dengan bagaimana X-Men: Days of Future Past me-reset kejadian di film-film sebelumnya. Tapi ini hal yang berbeda, karena timeline X-Men memang benar-benar sudah kacau dan butuh untuk di-reboot.

Ambil itu semua, yang tersisa, hanyalah jalan cerita Terminator Genisys untuk kalian nikmati. Ini subjektif, tapi saya sendiri cukup bisa menikmatinya. Dengan satu catatan, saya terus mencanamkan bahwa film ini tidak berarti apa-apa untuk dua film Terminator. Bagi saya itu tidak bisa diganggu gugat. Kalau di komik, Terminator Genisys hanyalah seri “What If”. Apa yang terjadi, andai saja sesuatu yang lain terjadi.

Namun, Terminator Genisys bukanlah sesuatu yang luar biasa. Aksinya tidak sampai spektakuler, akting para pemainnya cukup, dan karena ia merupakan alternate timeline, ia bisa sesuka-sukanya mengubah pakem-pakem yang ada. Beberapa akan menganggap ini sebagai sebuah penghinaan. Saya akan tetap menganggapnya hanya sebagai sebuah film.

Something to remember, if you love the original so much, you can always rewatch them.

 

Review overview
Story - 7
Acting - 7.5
Direction - 7
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.