Dear Jordana. Thank you for letting me explore your perfect body. I could drink your blood, you are the only person that I would allow to be shrunken down to a microscopic size and swim inside me in a tiny submersible machine. We have lost our virginity but it wasn’t like losing anything. You are too good for me, you are too good for anyone. Sincerely, Oliver.

Kutipan diatas adalah surat anak berumur 15 tahun, Oliver Tate (Craig Roberts), kepada kekasihnya Jordana Bevan (Yasmin Paige) saat mengajak sang kekasih indehoy untuk pertama kali. Saya tidak akan menjelaskan pengertian dari kata indehoy disini karena mengasumsikan para pembaca anakfilm sudah ‘cukup umur.’

Submarine sejatinya adalah pengejawantahan sifat egois Oliver, seorang remaja naif yang senang membaca karya sastra favorit kaum hipster seperti: The Catcher In The Rye, Thus Spoke Zarathustra, dan King Lear. Oliver mempunyai dua obsesi dalam hidupnya;

1. Ingin kehilangan keperjakaannya sebelum berusia 16 tahun, dan

2. Menyelamatkan perkawinan orangtuanya saat kekasih ibunya datang kembali ke lingkungan mereka.

Oliver hanya tidak sadar bahwa dirinya bukanlah superhero Marvel yang dapat menyelesaikan lebih dari dua masalah dengan baik. Dirinya hanya bocah tanggung dengan pacar pertama, Jordana, seorang gadis remaja dengan rambut pendek yang mempesona, pipi tembem yang menggemaskan, penggemar bullying, dan senang bermain api (dalam artian sesungguhnya atau lazim disebut pyromania).

Submarine

Konflik mencapai puncak kala Oliver dihadapkan oleh opsi rumit: mendahulukan pacar atau keluarganya. Di satu sisi sang pujaan hati meminta ditemani saat ibunya menjalani pengobatan tumor otak sedangkan sang ayah hatinya sedang masygul karena ibu Oliver semakin dekat dengan mantan kekasihnya. Oliver memilih menemani sang ayah karena mengira dirinya sebaiknya tidak mengganggu Jordana yang sedang dirundung malang akibat sakit sang ibu. Mudah ditebak, ketidakpedulian Oliver berbuah dirinya putus dari Jordana dan merasakan rasa putus cinta untuk pertama kali.

Submarine sendiri diangkat dari adaptasi novel karya Joe Dunthorne. Richard Ayoade dalam debut sutradaranya di film ini berhasil menggarap tiga babak cerita Submarine dengan ringan dan pas tanpa harus terasa ‘drama’. Dengan gaya sinematografi unik, pemilihan tone warna, dan gaya retro 90-an, Ayoade jelas-jelas berhasil memikat hati saya. Bukan hanya itu saja, Submarine berhasil mengubah image dirinya yang lebih dulu dikenal sebagai pemeran serial komedi IT Crowds, menjadi salah satu sutradara muda berbakat dari Inggris.

Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta pada Submarine, selain miss Jordana yang mempesona, adalah soundtrack yang dibuat oleh Alex Turner sang vokalis Arctic Monkeys. Enam lagu yang diciptakan untuk film ini paling bagus didengarkan saat hujan sore hari, minum kopi dan merenung tentang janji yang sudah atau belum ditepati kepada orang yang kita kasihi.

Pada akhirnya, Submarine tidak hanya menawarkan pahit manis kisah cinta remaja tanggung dan permasalahan dalam keluarga, tapi juga mengajarkan agar tetap bersama di sisi orang-orang yang kita sayangi terutama saat mereka dimasa paling membutuhkan kehadiran kita.

Review overview
Story - 7
Acting - 8
Direction - 8,5
Seorang mahasiswa dan orang Batak. Senang menonton film dan menyukai sepatu Vans.
  • keziarhh

    Alex Turner emang jahanam. Stuck on the Puzzle is the best from the soundtrack imo.