Review: Birdman (2014)

by -
0

Birdman

Birdman. Sebelum menontonnya, saya tidak mencari tahu lebih jauh tentang apa film ini sebenarnya. Yang saya tahu hanya film ini banyak mendapatkan nominasi di berbagai ajang penghargaan, termasuk Oscar. Dan setelah saya selesai menontonnya, saya paham kenapa Birdman banyak dinominasikan di ajang penghargaan. Birdman adalah sebuah film yang teramat cemerlang yang menurut saya tidak hanya menjadi salah satu film terbaik di tahun 2014 lalu, Birdman layak dimasukkan ke dalam daftar film terbaik sepanjang masa.

Adalah Riggan Thomson (Michael Keaton), seorang aktor Hollywood yang pernah terkenal dan dielu-elukan namanya ketika dia membintangi film superhero Birdman yang laris pada jamannya, dimana itu terjadi pada tahun 90-an atau sekitar 20 tahun yang lalu. Sekarang, Riggan bisa dikatakan sudah meredup ketenarannya. Untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa dia masih eksis, dia berusaha untuk membangkitkan masa kejayaannya seperti dulu dengan membuat proyek broadway mengadaptasi cerita pendek karya Raymond Carver berjudul “What We Talk About When We Talk About Love” dimana secara ambisiusnya dia berperan sebagai sutradara, penulis naskah dan aktor dalam proyek tersebut.

Dalam prosesnya, Riggan kerap diusik oleh suara-suara alter egonya sebagai Birdman yang kerap mengkritik dan memberikan suara-suara negatif yang membuat Riggan berhalusinasi membayangkan bahwa dia dapat terbang dan melakukan telekinesis. Di dalam proyek broadway Riggan, terdapat Jake (Zach Galifianakis) yang merupakan pengacara dan teman baiknya. Lalu ada juga Mike Shiner (Edward Norton) seorang aktor yang kerap cekcok dengan Riggan dan dua aktris broadway lainnya, Lesley (Naomi Watts) dan Laura (Andrea Riseborough) yang juga merupakan pacar Riggan. Riggan juga dihadapkan oleh putrinya bernama Sam (Emma Stone) yang tidak terlalu akur dengannya dan mantan istrinya (Amy Ryan) yang manis dan suportif.

Melihat dari judul dan poster film, mungkin anda akan berpikir ini adalah film superhero. Tetapi setelah membaca sinopsisnya, anda barulah tahu bahwa film ini menceritakan drama pasca ketenaran seorang aktor yang membintangi film superhero. Film ini berisiko memberikan drama monoton jika kita membaca sinopsis yang ada. Karena pada dasarnya kita bisa saja dibuat bosan dengan usaha Riggan yang penuh kecemasan untuk mendapatkan kembali ketenarannya. Tapi di tangan Alejandro González Iñárritu (Babel) sebagai sang sutradara, petaka itu tidaklah terjadi. Yang ada, kita dibuat terkesima dengan proses perkembangan karakter Riggan yang selalu diliputi rasa gelisah dan tertekan mengenai eksistensi dia dalam dunia hiburan.

Birdman

Di bawah arahan Alejandro González Iñárritu, karakter Riggan Thomson dibuat sangatlah kompleks dengan segala keraguan akan kemampuan dirinya yang sekarang, tapi tetap saja dia ingin menunjukkan bahwa dia belum redup dengan melakukan proyek ambisius broadwaynya. Tiap proses yang dilalui Riggan untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang aktor berkualitas sering kali terbentur dengan kenyataan yang membuatnya termenung tentang apa yang sebenarnya dia inginkan, mendapatkan popularitas kembali sebagai selebriti atau membuktikan diri sebagai aktor kredibel yang berkarya atas nama seni benar-benar terlihat natural, ditambah dengan ironi-ironi yang dimuncukan Riggan beserta Birdman sebagai alter egonya terasa begitu mengalir. Dan dengan Michael Keaton berperan sebagai Riggan Thomson, saya tidak bisa memikirkan aktor lain yang lebih pantas memerankan Riggan Thomson selain Michael Keaton. Michael Keaton sukses menghidupkan karakter Riggan Thomson dengan sangat meyakinkan, entah apa karena karakter ini terasa terkait dengan dirinya secara pribadi, mengingat adanya kesamaan Riggan Thomson dan Michael Keaton. Jika Riggan Thomson dengan Birdmannya, maka di kehidupan nyata, Michael Keaton dengan Batman yang dia bintangi di akhir tahun 80-an arahan Tim Burton.

Dengan melakukan pendekatan magic—realism, Iñárritu berhasil menyampaikan elemen fantasi yang disisipkan dalam kehidupan nyata sehari-hari secara halus dan dapat dinikmati. Adalah keputusan yang tepat ketika Iñárritu menggandeng Emmanuel Lubezki sebagai sang cinematographer dan menghasilkan film yang nampaknya tampil dengan one long continuous shot, dimana dari awal hingga akhir film terlihat hanya satu kamera yang mengambil gambar dan mengikuti pergerakan karakter tanpa jeda. Dengan teknik one long continuous shot, kita diberikan kesempatan untuk memahami lebih lanjut lagi tentang bagaiman sudut pandang Riggan dalam menanggapi hal di sekitarnya. Kita dapat merasakan apa yang Riggan rasakan dan mengalami apa yang Riggan lihat, termasuk kemampuan khayalannya yang bisa mengapung, terbang dan melakukan telekinesis. Dan ketika kamera bergerak mengikuti pergerakan karakter lain, kita juga diberikan sudut pandang lebih luas mengenai bagaimana lingkungan dan atmosfir yang dibangun beserta interaksi karakter pendukung yang tidak kalah meyakinkan.

Berbicara mengenai interaksi antara karakter di Birdman, semua terasa sangatlah natural dan menawan. Ikatan emosional antar karakter begitu terasa sehingga kita menjadi sangat peduli dengan tiap karakter yang ada disini. Sangat menarik untuk mengamati pada saat Riggan sering terlibat ‘bentrokan’ dengan Mike, seorang aktor sombong dan angkuh yang diperankan secara brilian oleh Edward Norton. Belum lagi penampilan mengesankan Emma Stone yang berperan sebagai Sam, anak perempuan Riggan. Emma Stone memberikan energi dan kekuatan pada karakter Sam sehingga tiap adegan yang melibatkannya menjadi menarik. Zach Galifianakis pun tampil mengejutkan disini. Melalui Birdman, saya baru menyadari bahwa seorang Zach berpotensi dan berbakat memerankan karakter serius. Naskah dan dialog yang ditampilkan disini begitu bagus dan untungnya bersinergi secara padu dengan para karakter-karakternya. Dramatisasi black comedy dan satir di balik layar dunia hiburan semakin terasa dengan scoring apik dari Antonio Sánchez yang memberikan hentakan drum jazz pada tiap momen-momen penting.

Menonton Birdman, kita benar-benar diberikan pengalaman menonton yang sangat luar biasa mengagumkan. Semua elemen di film ini terasa menyatu secara harmonis dan menghasilkan sebuah film yang rasanya sulit untuk dilupakan. Jika kamu sedang mencari film yang membuatmu ingin membahasnya habis-habisan setelah menontonnya dan meninggalkan kesan mendalam, rasa-rasanya tidak ada pilihan lain yang pas selain Birdman.

Review overview
Story - 9
Acting - 9.5
Direction - 9.5
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.