Brad Bird, sutradara yang dikenal dengan film The Incredibles dan Mission Impossible: Ghost Protocol, kembali mengisi layar bioskop dengan film terbarunya, Tomorrowland. Berkisah tentang dua orang, Casey (Britt Robertson) dan Frank (George Clooney) yang diberikan misi untuk menyelamatkan dunia, atau Bumi lebih tepatnya, film yang berdurasi 2 jam 10 menit ini menawarkan kisah yang tidak asing tapi sebenarnya bisa selalu menarik: seperti apa masa depan itu.
Mengapa saya bilang tema ini sebenarnya menarik? Karena kita sudah tahu ada banyak film-film di luar sana yang bercerita tentang masa depan dan berhasil membawa pengalaman yang mengesankan bagi para penontonnya. Misalnya film A Trip to the Moon karya George Méliès yang akan selalu dikenang sepanjang masa (jika Anda belum pernah menonton film yang disebut sebagai cikal bakal science-fiction ini, Anda bisa menontonnya di YouTube-film ini sudah menjadi public domain), Back to the Future yang legendaris, 2001: A Space Odyssey yang membuat orang terkagum-kagum bahwa film tersebut pada kenyataannya dirilis pada 1968, atau mungkin film-film yang lebih modern seperti Wall-E, Big Hero 6 dan bahkan Mad Max: Fury Road. Meskipun semua film menggambarkan masa depan atau hal-hal futuristik dengan cara, gaya dan genre yang berbeda-beda antara satu sama lain, mereka berhasil membuat penontonnya memahami seperti apa masa depan yang mereka gambarkan. Kita dibawa turut serta menjadi bagian dari masa depan itu melalui cerita, karakter dan tentunya tata teknis film-film tersebut yang sangat memikat.
Hanya saja, sayangnya, Tomorrowland gagal membuat kisah yang sebenarnya menarik itu menjadi menarik pada arti yang sebenarnya.

Jujur, saya agak kesulitan di mana saya harus memulai menceritakan film ini. Meskipun CGI dan beragam visual effect di Tomorrowland sangat menarik dan memanjakan mata karena berhasil menggambarkan bayangan masa depan dengan segala kecanggihannya dan sangat patut diacungi jempol, film ini memiliki masalah-masalah dasar yang akan membuat penonton kesulitan untuk bisa mengikuti filmnya secara penuh.
Pertama, tidak ada plot yang jelas di film ini. Pada sequence awal penonton diperlihatkan adegan Frank dan seorang perempuan yang tidak terlihat di frame sedang bercerita tentang masa lalu ke arah kamera, kemudian flashback Frank kecil yang pergi ke New York World’s Fair 1964 dengan membawa human jetpack buatannya untuk ikut kontes penemuan, di mana di sana dia bertemu Athena (Raffey Cassidy), seorang robot berwujud anak perempuan beraksen Inggris dari Tomorrowland yang percaya bahwa Frank adalah anak yang spesial, yang kemudian membawa Frank pergi ke Tomorrowland. Sekilas ceritanya sangat menarik. Tapi, setelah itu, tiba-tiba cerita berubah ke masa kini, dengan Casey, seorang perempuan yang cerdas tapi suka bertindak impulsif, sebagai peran utamanya, dan akhirnya muncul masalah kedua, yaitu penonton sama sekali tidak diperkenalkan dengan masalah apa yang sebenarnya terjadi di Tomorrowland (dan, lebih parah lagi, bahkan tempat apa Tomorrowland ini sebenarnya) ketika tiba-tiba Casey memperoleh lencana Tomorrowland secara misterius-yang (katanya) diberikan oleh Athena-di mana lencana tersebut akan membawa Casey ke ladang gandum luas dengan pemandangan menara bergaya futuristik ketika disentuh.
Lencana tersebut membuat dia terjebak dalam satu misi menyelamatkan masa depan dan Tomorrowland. Kemunculan Athena kedua kalinya di film dan pertama kalinya di hidup Casey memberi kesan bahwa dia adalah orang yang amat menyebalkan-dia terus menerus berbicara tentang sesuatu yang asing kepada Casey, tapi Casey tidak boleh bertanya. George Clooney, yang muncul di poster film ini, menghilang semenjak sequence awal itu hingga kurang sepertiga adegan film tanpa jejak, sampai akhirnya muncul kembali sebagai Frank dewasa ketika Casey “dijebak” Athena untuk bertemu dengannya, yang tentunya datang tidak dengan tangan kosong, tapi dengan membawa masalah terkait Tomorrowland. Tiba-tiba kita melihat Casey, Frank dan Athena berhadapan dengan Nix (Hugh Laurie), Gubernur Tomorrowland, tanpa mengetahui secara pasti apa masalahnya dengan mengapa Nix adalah musuh protagonis-protagonis kita. Tiba-tiba pula, ternyata ada subplot antara Frank dan Athena yang membuat penonton merasa ini berlebihan. Dan paling tiba-tiba, kita diajak untuk berani bermimpi-satu hal yang sangat absurd di film ini, karena setelah bermimpi, then what? Dua jam 10 menit di dalam bioskop terasa sangat lama bagi saya.
Bagi para penggemar Disney yang sudah pernah berkunjung ke Tomorrowland theme park, jangan pula berharap akan menemukan secercah harapan untuk menemukan hal-hal berbau Tomorrowland di dalam film ini. Hal ini juga sudah dinyatakan oleh Damon Lindelof, produser dan co-writer Tomorrowland.
Setelah menonton Tomorrowland, pertanyaan ini muncul di benak saya: apakah film ini benar-benar karya Brad Bird, si pembuat The Incredibles yang sangat saya kagumi? Why bother, Brad Bird? Why?!
SIMILAR ARTICLES
-
Matheus Arief Yudanto


































