Review: Mad Max: Fury Road (2015)

by -
0

Mad Max: Fury Road

Selang 30 tahun dari film terakhirnya yang berjudul Mad Max Beyond Thunderdome, film franchise Australia Mad Max kembali lagi menghiasi layar lebar dengan jajaran pemain dan jalan cerita baru berjudul Mad Max: Fury Road. Film ke-4 dari seri franchise Mad Max ini sempat mengalami kendala dalam pembuatannya selama bertahun-tahun. Sudah diniatkan oleh George Miller, sang sutradara Mad Max untuk membuat proyek film Mad Max ke-4 sejak tahun 1998, namun karena banyaknya kesulitan dan kendala yang menghadang, akhirnya film Mad Max: Fury Road baru dapat dirilis tahun 2015 ini dengan pemeran utama Max yang berbeda. Jika 3 film sebelumnya sang pemeran utama, Max Rockatansky, diperankan oleh Mel Gibson (Yang mana film Mad Max pertama yang dia bintangi membawanya menjadi terkenal di dunia perfilman internasional), maka untuk Mad Max: Fury Road kali ini tidak lagi memasang Mel Gibson sebagai Max. Peran Max jatuh ke tangan Tom Hardy, aktor asal Inggris yang terkenal sebagai Bane, musuh Batman di The Dark Knight Rises (2012).

Mad Max: Fury Road bersetting di dunia distopia post-apocalyptic dimana peradaban sudah hancur dan kacau balau, Max Rockatansky (Tom Hardy) tengah mengembara di gurun pasir di mana dia ditangkap oleh sekolompok War Boys, tentara bengis yang berasal dari Citadel. Citadel merupakan daerah pemerintahan yang mempunyai pemimpin tirani dan kejam bernama Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Max ditangkap untuk dijadikan donor kantong darah untuk para War Boys yang memerlukan. Suatu hari, Imperator Furiosa (Charlize Tharon), seseorang yang cukup disegani di Citadel, pergi membawa kendaraannya berupa truk besar bernama War Rig dengan alasan untuk mengambil bensin dari daerah tetangga. Ternyata, Furiosa mengambil rute yang berbeda dan berusaha mengkhianati Immortan Joe dengan pergi ke suatu daerah yang dia yakini merupakan daerah yang aman dengan membawa istri-istri Immortan Joe, bertujuan untuk menyelamatkan mereka dari kebengisan Immortan Joe.

Rencana Furiosa tidak berjalan mulus, Immortan Joe lantas mengetahui tujuan dari Furiosa dan dia pun naik pitam. Immortan Joe mengutus semua pasukan War Boys terbaiknya untuk mengejar War Rig Furiosa. Di salah satu dari War Boys tersebut, terdapat Nux (Nicholas Hoult) yang membawa Max bersamanya sebagai kantong darahnya. Di tengah kejar-kejaran antara War Boys dan Furiosa, Max terlibat di dalamnya, dan kekacauan dashyat pun tidak dapat terhindarkan.

Dari menit awal film, intensitas ketegangan ala-ala film action sudah dihadirkan. Tidak ada waktu untuk duduk tenang dan menikmati eksposisi untuk mengetahui bagaimana pondasi dan pengenalan karakter atau sebagainya, hal ini tentu saja dirasa terlalu cepat, terutama bagi orang-orang yang baru menonton pertama kali seri franchise Mad Max tanpa menonton 3 film sebelumnya. Kita langsung disuapi oleh aksi tanpa henti. Aksi yang ditampilkan pun bukan yang biasa-biasa saja, aksi yang ditampilkan benar-benar gesit, luar biasa dan sangat memacu adrenalin.

mad max

Sepanjang film, yang kebanyakan dihadirkan adalah adegan kejar-kejaran kendaraan tanpa henti. Adegan kejar-kejaran itu pun benar-benar ditampilkan secara gila-gilaan dan sangat nyentrik. Kenapa saya bilang nyentrik? Tengok saja jenis-jenis kendaraan yang digunakan di film ini. Benar-benar tidak biasa. Truk yang super duper besar dan sangat panjang, mobil yang terdapat tombak dan hiasan tengkorak, mobil yang sekilas bentuknya seperti landak karena mempunyai duri-duri tajam, motor off-road, sampai truk yang khusus digunakan sebagai orkes musik yang membuat saya geleng-geleng kepala karena idenya yang benar-benar out of the box. Itu dari segi kendaraan, dari segi aksi yang dihadirkan selama adegan kejar-kejaran juga sangatlah ekstrim dan frontal. Hal itu membuat saya salut dengan para stunt performer yang jumlahnya ratusan untuk mendukung film ini. Mereka benar-benar melakukan kerja yang sangat luar biasa. Adegan kejar-kejaran yang dirasa sangatlah mumpuni itu menjadi bertambah cantik karena balutan panorama gurun pasir sebagai latar belakangnya. John Seale yang bertugas sebagai cinematographer sukses merekam keindahan sinematografi dari indahnya gurun pasir dengan dominasi warna merah, orange dan kuning yang menawan dan mencolok.

Sedangkan dari sektor karakter, mereka ditampilkan dengan kostum-kostum yang sangat mengerikan, tidak biasa dan sekali lagi, nyentrik. Kostum dan make-up untuk para karakter di Mad Max: Fury Road ini memang dirasa benar-benar totalitas untuk menghadirkan kengerian dan keanehan tentang bagaimana gambaran masa depan di mana peradaban sudah lama hilang dan dunia diliputi oleh kekerasan dan perlakuan bar-bar.

Tokoh yang benar-benar mencuri perhatian dari film ini menurut saya bukan Max, yang namanya menjadi salah satu bagian judul, melainkan Furiosa yang diperankan oleh Charlize Theron. Charlize Theron sangatlah garang dan tegas sebagai Furiosa. Sepanjang film, konflik yang dihadirkan juga sebagian besar karena keterlibatan Furiosa di dalamnya, sehingga membuat saya merasa Tom Hardy sebagai Max hanyalah sebagai tempelan di sini.

Terlepas dari semua keanehan dan kegilaan yang membuat kita melongo dan terpukau, setelah film memasuki paruh kedua, jalan cerita yang ada terasa monoton dan membosankan. Hal itu karena dari awal kita sudah dicekoki oleh aksi tanpa henti, jadi untuk menikmati aksi terus-terusan selama 120 menit nampaknya bukan hal yang terlalu menarik yang bisa saya nikmati secara keseluruhan. Saya memang dibuat terpukau dan takjub oleh film ini, tapi ketakjuban itu hanya bertahan di paruh awal saja, setelahnya, plot yang dihadirkan makin datar dan tidak membuat ketertarikan saya akan film ini stabil sampai akhir film. Karena meskipun aksinya yang sangat bombastis, pada akhirnya juga penonton dapat dibuat lelah dengan ramuan aksi yang di repetisi sampai film berakhir.

Sebagai penutup, meskipun Mad Max: Fury Road dirasa sedikit membosankan di paruh kedua film, tidak dapat dipungkiri dia merupakan salah satu pengalaman sinematis luar biasa yang rasanya akan sangat disayangkan jika tidak menontonnya di layar lebar. Film tipe seperti ini adalah jenis film yang hendaknya anda tidak usah terlalu pusing untuk memikirkan kelogisan atau semacamnya. Duduk manis saja dan nikmati tiap-tiap menit kegilaan yang coba dihadirkan oleh film ini. Mad Max: Fury Road is indeed a total madness.

Review overview
Story - 7
Acting - 7.3
Production Value - 8.5
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.