Serial TV yang benar-benar keren dan jalan cerita yang kelam adalah dua hal yang belum pernah Marvel Studios lakukan. Sejak percobaannya masuk ke dalam serial lewat Agents of SHIELD, Marvel masih belum bisa menawarkan konsistensi dalam mempertahankan kualitas ceritanya. Harus diakui, musim keduanya memang jauh lebih baik, namun ada banyak ruang yang masih dapat diperbaiki. Sementara, serial yang satu lagi, Agent Carter, berakhir relatif medioker.
Ketika kabar mengenai Marvel menjalin kontrak dengan Netflix untuk membuat serial TV Daredevil, Jessica Jones, Luke Cage, dan Iron Fist yang nantinya akan mengarah ke mini-seri Defenders, tentunya saya girang. Alasan utamanya ada pada Netflix. Ya, layanan yang satu ini, selain merilis seluruh episodenya secara bersamaan, juga sudah terkenal dalam menyajikan serial-serial berkualitas tinggi. Tidak boleh dilupakan juga bahwa Netflix berani untuk menjelajahi area-area ‘gelap’ penceritaan yang jarang ditelusuri kanal tv pada umumnya. Hal ini semua dikarenakan Netflix tidak pernah mengacu pada rating dan demografi yang spesifik.
Daredevil adalah serial pertama yang dirilis oleh Marvel-Netflix. Dengan mudah, kalian bisa mencari semua episode musim pertamanya di ‘tempat biasa’. Berjumlah hanya 13 episode saja, saya akan berusaha mengulasnya secara keseluruhan.
MILD SPOILER ALERT
Hal lain yang saya sukai dari Netflix adalah pendekatannya terhadap beberapa serialnya. Seperti House of Cards, musim pertama Daredevil lebih terasa seperti film berdurasi 13 jam ketimbang kumpulan 13 episode lepas. Serial Netflix tidak terasa episodik dengan pola berformula yang dianut di tiap edisinya.
Kelebihannya, tempo tiap episodenya bisa konsisten. Tidak akan ada episode di mana beberapa hal terasa terburu-buru, sementara di episode lainnya berisi banyak jalinan cerita yang mengulur-ngulur waktu. Tidak akan kalian temukan juga villaion-of-the-week yang nampaknya sering menjadi basis dari serial superhero di sini. Musim pertama Daredevil jelas menaruh Kingpin sebagai musuh utama.

Walau begitu, Kingpin tidak perlu terburu-buru muncul di episode pertama. Penonton terlebih dahulu harus mengenal sang karakter utama yaitu Matt Murdock (Charlie Cox). Bagaimana pun, ini tetaplah origin story dari Daredevil, bukan? Kita bertemu dengan Murdock baru saja membuka firma hukumnya bersama dengan teman kuliahya Foggy Nelson (Elden Henson). Kasus pertama yang ditanganinya pun membawanya bertemu dengan Karen Page (Deborah Ann Woll), yang ke depannya akan menjadi asisten di firma hukumnya. Sembari menyebar dasar cerita, pilot episode-nya juga memberi penonton sedikit intipan tentang kejahatan yang menyelimuti Hell’s Kitchen.
Bila harus dibandingkan dengan serial serupa, Daredevil tentunya lebih mirip dengan Arrow. Namun bila kalian mengira Arrow sudah kelam dan cukup dewasa, maka Daredevil berhasil melipatgandakannya. Mulai dari elemen kekerasan yang sedikit lagi mencapai hiperbola, dan juga kompleksitas ceritanya yang lumayan rumit, Daredevil dapat dikatakan sebagai sebuah terobosan dalam serial superhero. Karena, tidak ada yang mirip dengannya.
Daredevil dengan formatnya, juga dapat menaruh lampu sorot penceritaan tidak hanya di satu karakter. Di mana serial lain harus berusaha untuk tetap seimbang setiap episodenya, Daredevil bisa berfokus hanya Kingpin dalam satu episode, lalu di episode lainnya hanya hubungan Matt-Foggy.

Hal inilah yang berhasil membuat Kingpin lebih baik dari mayoritas penjahat di MCU (Marvel Cinematic Universe). Saat villain lain kesulitan mendapatkan eksplorasi, Kingpin dengan akting yang sangat mendukug dari Vincent D’Onofrio, adalah salah musuh yang yang tidak berakhir dua dimensi. Penonton dibuat bisa mengerti dengan motivasinya dan bukan tidak mungkin, jadi merasa simpatik.
Bahkan, pada satu titik saya merasa Daredevil bisa jadi adalah film terbaik dari Marvel karena gaya penceritaannya yang benar-benar seperti film berdurasi 13 jam. Ia berhasil mengeksplor lebih dalam dan detil dibandingkan dengan film-film Marvel lainnya, tanpa harus kehabisan durasi.
Berbicara mengenai aksinya, Daredevil jelas terpengaruh oleh beberapa film martial art (salah satunya The Raid). Adegan long-take di akhir episode 2 mungkin jadi yang paling mudah diingat, tapi secara keseluruhan gayanya bertarungnya yang raw dan tidak terlalu akrobatik sangat membantunya untuk mencapai level realisme yang memang diinginkan oleh serial ini.
Kembali lagi ke paragraf pertama. Ada dua hal yang Marvel Studios belum pernah lakukan. Dan, dengan Daredevil, mereka berhasil mencoret kedua hal tersebut.




































Pingback: Jon Bernthal akan Perankan The Punisher di Musim Kedua DAREDEVIL | anakfilm()