Di era milenium ini, bila perfilman Hollywood terasa adikuasa di hampir semua genre, tidak demikian dengan genre horor. Tidak jarang film-film horor Hollywood merupakan remake dari film horor Asia yang sudah terkenal menyeramkan. Dan usaha untuk membuat ulang filmnya dengan versi ‘barat’ tak jarang malah menjadikannya masih kalah menyeramkan dengan versi asli filmnya. Lalu hal itu agaknya berubah ketika Insidious muncul di tahun 2010, sebuah film horor supernatural yang memberikan oase segar di dunia perfilman Hollywood genre horor. Semenjak kehadiran seri pertama film arahan James Wan ini, dia mendapatkan respon positif sehingga membawanya untuk dibuat sekuel pada tahun 2013 yang diberi judul Insidious: Chapter 2. Jika di dua film pertamanya Insidious disutradarai oleh James Wan yang sudah dikenal keahliannya dalam genre cult-horror dalam Saw dan dia juga terbukti lihai dalam menyutradarai film aksi gila-gilaan di Furious 7 yang masih segar di ingatan kita, maka untuk fase selanjutnya dari Insidious yaitu Insidious: Chapter 3, bangku sutradara dipercayakan kepada Leigh Whannell, penulis naskah untuk dua film Insidious sebelumnya dan telah lama bekerja sama dengan James Wan.

Seperti yang sudah kita ketahui, Insidious dan Insidious: Chapter 2 mempunyai jalan cerita yang berfokus kepada keluarga Lambert yang kerap diganggu oleh keberadaan roh jahat dan bagaimana James Wan mengaitkan film pertama dengan film keduanya secara apik dengan beberapa teknik back-to-back di dalamnya. Dan ketika Insidious: Chapter 3 tiba, dia tidak ada kaitannya dengan permasalahan supernatural di keluarga Lambert, melainkan dia adalah sebuah prequel dengan jalan cerita dan karakter-karakter baru. Yang dapat mengaitkan seri ketiga ini dengan dua film sebelumnya adalah kehadiran tokoh cenayang Elise Rainier (Lin Shaye) dimana Insidious: Chapter 3 sendiri bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Quinn Benner (Stefanie Scott) yang meminta pertolongan Elise untuk dapat mengontak ibunya yang telah meninggal karena kanker. Namun, Elise merasa ada sesuatu yang jahat dan buruk akan menimpa Quinn. Setelah itu, hal-hal aneh dan ganjil mulai menimpa Quinn dan mencelakakan dirinya yang merupakan ulah dari roh jahat yang berusaha untuk menguasai tubuh Quinn.

Di tangan Leigh Whannell sebagai sutradara, Insidious: Chapter 3 ini memang terasa berbeda dengan dua film sebelumnya, meskipun beberapa shot ciri khas Wan masih terasa di beberapa adegan. Setengah jam awal film terasa sangat lamban karena memang pada bagian itu masih digunakan untuk mengenalkan para karakter baru dan masalah apa yang akan dihadapi. Setelah film mulai masuk pada bagian-bagian menyeramkan yang menghadirkan beberapa penampakan, tempo film baru terasa naik dengan beberapa adegan yang membuat kita berdebar-debar karena banyaknya jump-scare moment yang membuat kita tersentak kaget karena komposisi scoring gubahan Joseph Bishara.

insidious3thumb-1426707112443_1280w

Selain jump-score moment yang lumayan banyak tersebar di keseluruhan film, apakah ada hal menarik lainnya yang ditawarkan Insidious: Chapter 3? Personally, I would say not quite. Karena terlepas dari jump-scare moment yang memang terbukti efektif, film ini tidak menawarkan kengerian-kengerian lain yang membuatnya semakin menegangkan. Jalan cerita terasa biasa saja dan tidak terlalu mengesankan, karena dia masih berpakem kepada ide cerita “roh jahat yang ingin menguasai tubuh seseorang” tanpa variasi berarti. Insidious: Chapter 3 terasa terseok-seok dalam usaha memberikan horror mumpuni.

Sedangkan dari segi jajaran pemainnya, bisa dibilang mereka cenderung bermain aman. Dibilang jelek tidak, dibilang bagus luar biasa pun tidak. Lin Shaye sebagai Elise menunjukkan performa akting yang tidak jauh berbeda seperti yang sudah dia lakukan di seri sebelumnya. Sedangkan tokoh utama yaitu Quinn Benner yang diperankan oleh Stefanie Scott bermain lumayan baik terutama ketika karakternya mulai mengalami serangkain kejadian supernatural, meskipun tidak terlalu memukau. Dan chemistry yang dibangun oleh keluarga Quinn dengan keluarganya; ayah dan adiknya tidaklah terlalu kuat yang membuat penonton kesulitan untuk peduli dengan mereka.

Insidious: Chapter 3 terasa seperti film yang dipaksakan untuk hadir dan berusaha mengekor kesuksesan dua film sebelumnya. Alih-alih dapat menyejajarkan kualitasnya dengan dua film sebelumnya, dia justru mengalami degradasi kualitas yang membuat kehadirannya sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Tidak ada memorable scene yang membuatnya menjadi tontonan film horror yang superior, tapi jika anda mencari efek-efek kaget karena melihat penampakan yang disertai music scoring yang memang mengagetkan, Insidious: Chapter 3 memberikan sensasi itu.

Review overview
Acting - 7
Directing - 6.8
Story - 7.1
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.