Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Marvel Studios telah berhasil mengubah tidak hanya lanskap film superhero, tapi juga model bisnis Hollywood. Definisi franchise yang dulu sebatas sekuel, prekuel, dan spin-off, berubah pasca rilis Iron Man dan anak-cucunya. Kini para studio besar berbondong-bondong mengadopsi sistem Cinematic Universe. Sony mungkin gagal merealisasikannya lewat Spider-Man, Warner Bros. baru akan mencobanya mulai tahun depan dengan Batman v Superman, dan Universal dikabarkan akan membuatnya menggunakan karakter-karakter monster klasik.

Sementara, Marvel? Terhitung tahun depan mereka sudah memasuki fase ketiganya. Avengers: Age of Ultron sendiri merupakan instalmen kesebelasnya. Ya, sebelas film, sementara studio film masih berada di antara gagal, belum, dan tengah membuat rencana.

Hal tersebut berarti, secara tidak langsung, Age of Ultron adalah sekuel dari 10 film yang telah mendahuluinya. Tapi, Age of Ultron harus tetap bisa bertindak sebagai sebuah sekuel sejati dari The Avengers yang dirilis 3 tahun lalu. Beberapa hal harus dikorbankan agar ini semua bisa terjadi.

Age of Ultron, terkena imbas paling parah dari keputusan membangun sebuah cinematic universe, dikarenakan statusnya sebagai ‘film gabungan’. Ia harus memilih mana yang menjadi prioritas; menjadi sekuel dari 10 film di belakangnya, menjadi sekuel dari The Avengers, atau memupuk benih untuk seri selanjutnya. Itu pun belum termasuk kewajibannya untuk memberikan cerita tersendiri.

circle group shot

Cerita yang dimaksud, kali ini, adalah sang bilioner dan alter-ego dari Iron Man, Tony Stark (Robert Downey Jr.), yang bersama dengan Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo) menciptakan sebuah A.I. (Artificial Intelligence) penjaga kedamaian bernama Ultron (James Spader). Malapetaka datang ketika Ultron mempunyai pikiran bahwa kedamaian tidak akan bisa dicapai selama manusia masih hidup di bumi. Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), dan kawan-kawan harus kembali bersatu sebagai Avengers untuk mencegah rencana Ultron memusnahkan spesies penciptanya.

Age of Ultron dibuka dengan adegan penyerbuan markas Baron von Strucker (Thomas Kretschmann) oleh Avengers. Kevin Feige, Joss Whedon, dan kru di balik layar tentunya tahu bahwa banyak dari penonton datang setelah menonton Iron Man 3, Thor: The Dark World, Captain America: The Winter Soldier, dan juga Guardians of the Galaxy. Kecuali judul terakhir, ketiga film lainnya telah memberikan dampak sendiri terhadap karakter titularnya masing-masing. Tapi itu sama sekali tidak terasa semenit begitu Age of Ultron dimulai.

Usai meledakkan seluruh armornya di Iron Man 3 untuk Pepper, kini Tony malah memiliki Iron Legion baru dan 3 armor baru? Apakah ini yang membuat Pepper tidak datang ke pesta? Juga, Captain America tidak terlihat seperti orang yang baru saja melalui cerita kelam di Winter Soldier, bertemu dengan sahabat lama yang diduga telah meninggal, dan menyaksikan runtuhnya S.H.I.E.L.D.

Thor mungkin paling tidak terkena efeknya, tapi hal itu lebih dikarenakan The Dark World tidak memberikan arc karakter yang cukup berarti bagi Thor. Tapi, pada intinya, begitu film dimulai, Avengers kembali bersatu dan seperti mengabaikan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tidak secara cerita, tapi lebih kepada perjalanan emosi yang dilalui karakternya.

banner-natasha

Hal ini semakin penting untuk diamati ketika Age of Ultron adalah sebuah film yang jauh lebih emosional dan kelam dibanding The Avengers. Dengan mengangkat tema utama tentang ketakutan tiap karakternya, Age of Ultron mungkin berhasil memberikan eksplorasi lebih dalam, namun gagal mengikuti kontinuitas runut yang tentunya diharapkan oleh seseorang yang mengikuti 10 film sebelumnya.

Jelas, ini memang bukanlah sebuah tugas yang mudah untuk dilakukan. Apalagi tema ketakutan yang diangkat juga merupakan benih untuk film-film selanjutnya. Mengetahui Marvel akan segera membuat Civil War, Thor: Ragnarok, dan juga Infinity Wars, kalian bisa melihat awal-awal dari masalah yang akan ditawarkan nantinya.

Age of Ultron pun akhirnya terasa lebih berperan sebagai sebuah jembatan menuju fase tiga MCU (Marvel Cinematic Universe), alih-alih lanjutan cerita dari kisah sebelumnya. Apalagi cerita yang ditampilkan tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk genre superhero sendiri. Sebuah kekecewaan mengingat tahun lalu Winter Soldier tampil impresif dengan elemen politik dan Guardians of the Galaxy yang bermodelkan space opera.

Avengers: Age of Ultron memang dipenuhi banyak adegan aksi yang spektakuler, filmnya menghibur, dan saya tidak ragu banyak penonton yang mencari hiburan semata akan menikmatinya sangat.

Mungkin, dampak terbesar dari membangun sebuah cinematic universe bukanlah kesulitan menentukan prioritas, tapi melainkan meningkatnya ekspektasi penonton (atau mungkin hanya saya, haha) seiring bertambahnya judul film di dalamnya. Ketika sebuah film superhero gagal memberikan sesuatu yang baru, terjebak dalam rute yang sama, maka pada saat itu film superhero harus siap turun kelas menjadi sebatas ‘popcorn movie’.

You’ll have a good time, but that’s it.

Review overview
Story - 7.5
Acting - 7.5
Direction - 8.5
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.
  • Faisal

    Buat easter eggs nya dong

  • Meuthia Nabila P

    Saya sendiri lebih suka witer soldier dibanding age of ultron 😀 plotnya lebih dapet

  • ika zurria

    Rasanya AoU merupakan film peralihan atau setuju disebut jembatan untuk film2 MCU pada fase2 berikutnya. The Avangers pertama berhasil membuat sya menontonya hingga 3x di bioskop. Sedangkan AoU yaaa cukup sekali saja. Ga sabar nunggu Antman malahan… :p

  • Gland

    Setuju sama reviewnya jan, filmnya tidak setinggi ekpektasi gw.. jadi rada kecewa.