Salah satu problematika yang paling sering diangkat dalam drama romansa adalah tentang cinta yang tidak bisa tercapai. Meski kedua sejoli saling mencintai, ada beberapa sebab dan hal yang sepertinya mengganggu hubungan mereka. Mulai dari Romeo & Juliet karya Shakespeare hingga ke film romantis modern pun, formula ini terus dipakai, tentunya dengan modifikasinya tersendiri.
Tahun ini ada The Age of Adaline karya Lee Toland Krieger yang mencoba menyajikan permasalahan serupa dengan premis berbeda. Kali ini bukan restu orang tua, penyakit mematikan, atau lupa ingatan sebagai perantaranya, melainkan adalah ketidak-kapabilitasan untuk menua. Mengapa demikian?
Adaline Bowman (Blake Lively), yang lahir pada tahun 1908, diceritakan tidak bisa menua setelah mengalami kecelakaan mobil di usianya yang ke-29. Ia hidup bertahun-tahun dengan fisik yang sama, meski pikirannya terus berkembang menjadi pintar dan dewasa. Awalnya terdengar sebagai sebuah kekuatan yang mengasyikkan. Tapi, di satu pihak, Adaline harus merahasiakan kemampuannya tersebut demi terhindar dari organisasi-organisasi yang tertarik untuk meneliti dan melakukan eksperimen terhadap dirinya (dalam film, FBI jadi kambing hitamnya).
Karena itu semua, Adaline terus menciptakan identitas palsunya tiap dekade dan selalu berpindah-pindah tempat tinggal juga tempat kerjanya. Hal ini membuatnya terpaksa kehilangan salah satu bagian besar dalam menjalani hidup; jatuh cinta. Dia tahu, dengan kondisinya, ia tidak bisa menjalin sebuah hubungan serius yang bertahan lama.

Sebenarnya, dengan premis serupa, Age of Adaline tidak harus berkutat dengan masalah cinta. Ia bisa saja lebih menempatkan kemampuan karakter titularnya di lampu sorot penceritaan. Bagaimana ia kejar-kejaran dari pihak otoritas dan sebagainya pun bisa diangkat. Tapi, Age of Adaline memilih untuk fokus dengan kisah cintanya, hanya saja dengan bumbu ‘tidak-bisa-menua’.
Hal ini terlihat bagaimana penjabaran semua konflik yang berpotensi menganggu kisah cinta diselesaikan di beberapa menit awal film. Mulai dari pseudo-science tentang awal mula kondisi Adaline, kisahnya dengan FBI, serta kebiasaan sehari-harinya dijelaskan dengan singkat dan sebutuhnya saja. Setelah itu, film baru benar-benar dimulai. Inilah kisah tentang dua sejoli yang saling jatuh cinta namun tertahan oleh suatu hal. Formula lama yang kembali diangkat dengan kemasan berbeda.
Dan, di sini faktor berhasil atau tidaknya sangat tergantung oleh para pemain serta jalinan naskahnya. Tanpa harus mendayu-dayu, Age of Adaline berhasil menggambarkan hubungan cinta dengan elegan. Ketika penonton bisa merasakan ada chemistry di antara Blake Lively dan Michael Huisman tanpa mereka harus berkali-kali mengucapkan kata cinta, di situlah film romantis berhasil di mata saya.
Saya berhasil terbawa ke dalam cerita. Saya bisa merasakan, baik dari sisi pria maupun wanitanya, saya mengerti motivasi keduanya, dan saya ingin hubungan ini untuk berakhir bahagia. Tentunya, apresiasi patut diberikan untuk Michael Huisman yang tampil karismatik dan juga pastinya Blake Lively sebagai karakter titular. Meski usianya yang terhitung tidak tua, ia harus terus tampil dengan pembawaan yang bijaksana sepanjang film namun rapuh dari sisi batinnya.
Dengan tempo film yang berjalan relatif pelan, Age of Adaline membawa masuk penontonnya secara perlahan, membuatnya terinvestasi dengan kisahnya, sebelum akhirnya benar-benar membuat saya mendukung hubungan cinta Adaline.
Ya, mungkin Age of Adaline masih memiliki beberapa kekurangan seperti naratornya yang cukup menganggu dan juga endingnya yang terlewat rapi. Tapi sejauh tahun 2015 berlalu, ini adalah rilisannya yang paling romantis yang telah saya tonton.




































