The Hateful Eight

Selang 3 tahun setelah film sebelumnya yang berjudul Django Unchained di akhir tahun 2012, Quentin Tarantino kembali meramaikan dunia perfilman di akhir 2015 dengan film ke delapannya yang sudah amat sangat dinanti oleh para penggemar setia karya-karyanya. Film itu diberi judul The Hateful Eight. Film ini sempat bocor naskahnya pada Januari 2014, yang membuat Tarantino kesal dan sempat ingin membatalkan proyek film tersebut. Untungnya, dia mengurungkan hal tersebut dan tetap melanjutkan proyek film tersebut, bahkan Tarantino juga sempat menyutradarai live reading atas naskah yang sudah bocor tersebut pada April 2014 di Los Angeles County Museum of Art (LACMA).

Layaknya Django Unchained, The Hateful Eight sendiri masih mengusung tema Western dimana dalam proses pembuatannya Tarantino terinspirasi dari film-film Western karya Sergio Corbucci dan Sergio Leone seperti Navajo Joe (1966), The Great Silence (1968) dan Once Upon a Time in the West (1968). Jika Django Unchained mengambil setting waktu pada 1858, dua tahun sebelum perang sipil Amerika, maka The Hateful Eight terjadi pada 1870-an, beberapa tahun setelah perang sipil Amerika. Mengingat Tarantino adalah sutradara yang sangat menyukai dan selalu terpengaruh oleh film bertema Spaghetti Western, jadi sah-sah saja jika menyebut The Hateful Eight tidak ubahnya seperi surat cinta dari Tarantino untuk Corbucci dan Leone. Dan apabila kau mengharapkan Tarantino akan berekspresi gila dan mencengangkan di The Hateful Eight, tenang saja, kau akan sangat mendapatkannya (lagi) kali ini.

Di tengah badai salju hebat di Wyoming, sebuah kereta kuda melaju dengan O.B (James Parks) sebagai kusir yang membawa dua penumpang yaitu seorang bounty hunter bernama John Ruth (Kurt Russell) atau yang dikenal sebagai ‘The Hangman’ karena dia selalu membawa hidup-hidup buronannya agar bisa digantung kelak. Penumpang satu lagi adalah buronannya, seorang wanita bernama Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh). Di tengah perjalanan tersebut, John Ruth berpapasan dengan Marquis Warren (Samuel L. Jackson) yang juga seorang bounty hunter dan mantan kavaleri. Warren menumpang dengan kereta kuda Ruth karena mereka mempunyai destinasi yang sama, Red Rock.

Lalu ada Chris Mannix (Walton Goggins) yang mengaku dirinya adalah sherif baru di Red Rock dan memaksa Ruth untuk memberikan tumpangan untuknya ke Red Rock. Ruth pun akhirnya mengizinkan Mannix untuk ikut serta. Karena badai salju yang makin parah, mereka terpaksa harus berhenti sejenak di Minnie’s Haberdashery, sebuah pondok penginapan. Tetapi, pada saat itu Minnie tidak ada dan pondok sementara dijaga oleh Bob (Demián Bichir). Tidak hanya terdapat Bob seorang di pondok itu, terdapat juga Oswaldo Mobray (Tim Roth) seorang algojo Red Rock, Joe Gage (Michael Madsen) seorang koboi pendiam dan Sanford Smithers (Bruce Dern) seorang mantan jenderal pihak sekutu perang sipil Amerika.

Jadilah mereka semua harus bertahan sementara di Minnie’s Haberdashery hingga badai salju mereda. Mereka semua tidaklah terlalu dekat satu sama lain, banyak dari mereka baru bertemu pertama kali, dan ketika mereka harus bertahan di satu tempat yang sama dengan pikiran dan tujuan mereka masing-masing, di situlah mulai terjadi hal-hal tak terduga.

The Hateful Eight

Film ini digarap dengan format 70mm menggunakan Ultra Panavision 70 dan Kodak VISION 3 yang menuntun film ini untuk ditayangkan dengan durasi yang berbeda karena format filmnya. Untuk versi roadshow, yaitu versi film ditayangkan dengan format film 70mm di bioskop-bioskop tertentu yang bisa menayangkannya, film berdurasi 187 menit. Sedangkan versi rilis digital untuk dinikmati oleh penonton luas berdurasi 167 menit. Yang membuat versi roadshow format 70mm lebih panjang adalah karena dia mempunyai tambahan overture dan jeda di beberapa adegan yang dinilai Tarantino tidak bisa diputar dengan baik dalam versi rilis digital.

Mengingat durasi film yang sangat panjang yang memang sudah khasnya Tarantino, tidak heran jika ini bisa membuat penonton bosan dan tertidur. Karena nyatanya itu terjadi oleh penonton film yang duduk di belakang saya ketika saya menonton ini di bioskop, dia terdengar tertidur pulas dengan suara dengkuran ringannya. Memang, paruh awal film terasa lambat karena semata-mata Tarantino berusaha untuk mengenalkan karakter-karakternya terlebih dahulu.

Dengan rentetan dialog yang memang terkadang terasa terlalu panjang dan bertele-tele, Tarantino menunjukkan bagaimana karakteristik masing-masing tokoh penting di sini. Meskipun begitu, kebosanan yang hinggap di paruh awal tidak berakhir menjadi sesuatu yang buruk seutuhnya karena masih terselamatkan oleh sinematografi ciamik nominasi Academy Awards sebagai Best Cinematography hasil Robert Richardson yang menangkap dengan indahnya melalui lensa Panavision anamorphic dengan rasio 2.76:1 yang membuatnya terlihat luas dan menangkap gambar latar belakang pegunungan yang terlihat megah dan indah, belum lagi beberapa shot yang diambil secara slow-motion yang sukses untuk mendramatisasi sebuah adegan.

Setelah melewati paruh awal film yang terasa lambat, maka bersiaplah ketika film sudah berjalan selama kurang lebih 1 jam 30 menitan. Karena pada saat itu, tensi semakin naik karena konflik mulai muncul dan semakin meruncing serta kacau balau. Dan seperti gaya penyutradaraan Tarantino yang sudah-sudah, dengan ini saya sampaikan bahwa Tarantino sekali lagi sukses membuat saya menikmati kekacauan yang dia buat di sini, brutal dengan tingkat keseruan yang tidak hanya memacu adrenalin, tapi memaksa kita juga berperan layaknya detektif untuk memutar otak dan melakukan analisis karena terdapat misteri di dalamnya. Keseruan yang ada juga didukung oleh original score apik garapan Ennio Morricone yang masuk nominasi Academy Awards sebagai Best Original Score dan yang membuat visual kebrutalan terlihat nyata adalah karena special make-up effects yang dikerjakan oleh Greg Nicotero, yang terkenal melalui kinerjanya di serial TV The Walking Dead.

The Hateful Eight

Untuk jajaran aktornya sendiri, saya rasa sudah tidak ada yang perlu diragukan lagi. Samuel L. Jackson yang sudah jadi langganan di tiap film Tarantino tampil cemerlang di sini. Mengingat latar belakang waktu masih di abad 18-an di mana isu rasis masih kuat apalagi kebencian terhadap orang-orang kulit hitam, Samuel L. Jackson memerankan Warren yang notabene orang kulit hitam secara luwes dan mengasyikkan. Walton Goggins juga tampil menghibur sebagai Mannix yang sebagian besar sumber tawa berasal dari tingkah laku, gestur dan cara bicaranya yang khas. Pujian lainnya juga patut dialamatkan kepada Jennifer Jason Leigh yang memerankan Daisy Domergue. Jason Leigh menghidupkan karakter Domergue sebagai wanita yang tidak kenal rasa takut, serampangan dan nyentrik. Tidak heran karena perannya sebagai Daisy Domergue di The Hateful Eight, Jennifer Jason Leigh berhasil menempatkan dirinya menjadi salah satu nominasi Academy Awards sebagai Best Supporting Actress.

Jika terus berbicara dan menjabarkan secara detail satu persatu tentang bagaimana performa para aktor di sini, itu tidak akan ada habisnya karena masing-masing dari mereka membawa pesona mereka sendiri, belum lagi wardrobe yang pas untuk menunjang karakter mereka. Tapi paling tidak dari karakter-karakter tersebut, ada easter egg yang merujuk dan berhubungan kepada film Tarantino yang sudah ada. Jadi rupanya, Tarantino pun mempunyai Movie Universe tersendiri, bukan hanya Marvel atau DC saja yang bisa melakukan itu. Yang membuat saya terkejut dari departemen akting adalah Channing Tatum. Ketika saya melihat namanya di opening credit, saya lantas tersontak dan kaget melihat nama Tatum menjadi salah satu aktor di sini. Karena menurut opini pribadi saya, Tatum bukanlah tipe Tarantino untuk berada di filmnya. Tetapi kemudian Tatum membuat saya lebih terkejut lagi, itu karena meskipun dia tampil secara singkat di sini, dia tampil dengan sangat meyakinkan dan bagus. Saya sampai tidak percaya kalau itu adalah orang yang sama yang pernah saya tonton di film-filmnya sebelumnya.

Mungkin The Hateful Eight berakhir menjadi film yang tidak bisa disukai banyak orang karena paruh awal yang terasa membosankan. Tapi percayalah, jika kau ingin bertahan lebih lama lagi untuk menonton film ini hingga selesai dan percayakan semua ke Tarantino tentang bagaimana dia mengeksekusi endingnya, maka kau akan mendapatkan sumber kebahagiaan yang membuatmu terseyum simpul dan puas setelah menontonnya.

Review overview
Cinematography and Directing - 8.8
Story - 8.6
Acting - 9
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.