Review: Cinderella (2015)

by -
0

cinderella ella and prince kit charmingCinderella adalah dongeng yang paling banyak didaur ulang di atas kertas, di atas panggung, atau di balik layar lebar dan layar kaca. Kita tentu mengenal berbagai film modern yang berlatar belakang kisah asli Cinderella, antara lain Ever After (1998), A Cinderella Story (2004), Another Cinderella Story (2008), dan A Cinderella Story: Once Upon a Song (2010), dan yang paling anyar yaitu Into the Woods (2014). Namun, hingga saat ini belum ada yang mengalahkan kemasyhuran film animasi Cinderella dari Disney yang dirilis pada tahun 1950. Kenyataan tersebut tak menyurutkan niat Disney untuk membuat adaptasi Cinderella yang kesekian kalinya.

Adalah Kenneth Branagh yang ditunjuk oleh Walt Disney Pictures untuk menangani Cinderella yang diilhami dari dongeng Cinderella karya Charles Perrault. Kiprahnya di dunia perfilman tak perlu diragukan lagi, ia dikenal lewat beberapa karyanya seperti Henry V (1989), Much Ado About Nothing (1993), Thor (2011), dan Jack Ryan: Shadow Recruit (2014). Sementara Chris Weitz ditunjuk sebagai penulis skenario.

Lily James (Ella/Cinderella) dan Richard Madden (Pangeran “Kit” Charming) terpilih sebagai pemeran kedua tokoh ikonis tersebut dalam film ini. Lily benar-benar menangkap esensi sebenarnya dari pesona dan kecantikan Cinderella, sekaligus sosok remaja yang malang nasibnya. Sedangkan Richard benar-benar tampil menawan dan berwibawa dalam balutan jubah kerajaan. Hal yang tak begitu canggung mengingat perannya sebagai Robb Stark di serial tv populer Game of Thrones. Chemistry yang terbangun antara Cinderella dan Pangeran begitu melekat, suatu ikatan antar karakter utama yang telah lama hilang dalam film Disney. Mereka yang percaya akan cinta pada pandangan pertama akan tenggelam dalam lautan asmara dua sejoli ini.

Cate Blanchett (Lady Tremaine) dan Helena Bonham Carter (Ibu Peri) nyaris sempurna dalam memainkan peran masing-masing. Cate tidak hanya mendalami karakternya, bahkan ia berhasil menjadi sosok ibu tiri jahat yang bengis tapi tetap anggun. Sementara Helena tampil menghibur meski hanya tampil di pertengahan film dalam durasi yang singkat.

Tak ada yang spesial dari plot Cinderella arahan Branagh — karena kita sudah tak asing dengan jalan cerita Cinderella meskipun ada beragam versi. Penggunaan efek khusus CGI (Computer-generated imagery) membuat film ini terasa lebih hidup, tapi bagi sebagian penikmat film penggunaannya justru terasa berlebihan. Kostum desain yang cantik dan lantunan musik pengiring yang syahdu menjadi nilai tambah tersendiri.

Secara keseluruhan, Cinderella adalah film adaptasi Disney yang menghibur sekaligus memanjakan mata para penontonnya untuk berbagai kalangan dan umur. Dunia fantasi megah nan elok yang selama ini kita bayangkan berhasil digambarkan oleh Disney dengan sangat detail. Rasanya, film ini lebih layak diberi judul Fifty Shades of Blue ketimbang Cinderella.

Review overview
Story - 6
Acting - 7
Direction - 7
Pegiat literasi. Penikmat dorama, anime, dan film genre thriller.