Review: Chappie (2015)

Filmmaker Hollywood nampaknya belum jenuh untuk membuat film sci-fi bertemakan robot. Tengok saja beberapa film ke belakang, maka anda akan menemukan film bertemakan robot seperti I, Robot, Robocop, Real Steel dan bahkan sampai ada yang dibuat franchise, yaitu Terminator yang akan memasuki seri ke-5 nya pada musim panas tahun ini dengan judul Terminator Genisys. Semua film-film itu mempunyai garis besar yang sama, yaitu mencoba untuk memberikan gambaran cerita tentang bagaimana robot akan berbaur dan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan.
Di awal Maret 2015 ini, Neill Blomkamp, sutradara yang sukses dengan District 9 pada tahun 2009 dan mendapatkan kritik beragam untuk filmnya yang berjudul Elysium pada tahun 2013 mencoba untuk membuat film bertemakan robot yang agaknya ingin terlihat dan terasa berbeda dengan film robot yang sudah ada sebelumnya. Diberi judul Chappie, film sci-fi ini agaknya tertatih-tatih untuk memberikan perbedaan yang menarik tentang kehidupan masa depan bersama robot.
Berlatar belakang di masa depan yang sudah tidak jauh lagi, diceritakan bahwa di Johannesburg tingkat kriminalitas yang tadinya tinggi menjadi menurun berkat bantuan robot yang bekerjasama dengan kepolisian untuk memberantas segala tindak kriminal dan kejahatan. Robot-robot tersebut diberi nama Scout dan dibuat oleh seorang ahli robot yang masih muda bernama Deon Wilson (Dev Patel) yang bekerja pada perusahaan robot besar bernama Tetravaal dengan Michelle Bradley (Sigourney Weaver) sebagai direktur utamanya. Robot-robot Scout mempunyai Artificial Intelligence (AI) terbatas yang diprogram hanya untuk membantu tugas kepolisian. Sementara di lain pihak, Vincent Moore (Hugh Jackman) adalah seorang ahli robot lainnya yang ambisius untuk meluncurkan robot ciptaannya bernama Moose untuk digunakan juga oleh kepolisian. Tapi keseringan idenya ditolak karena Moose dirasa tidak praktis karena harus dikendalikan manual oleh manusia dari jarak jauh dan ukurannya yang terlalu besar.
Suatu hari, Deon berhasil menciptakan software baru tentang AI untuk robot yang dapat menyerupai manusia karena disertakan emosi dan perasaan di dalamnya dan bahkan bisa melampaui kecerdasan manusia. Dengan berbekal robot yang sudah rusak bernama Scout 22 yang Deon ambil diam-diam dari perusahaannya karena dia tidak mendapatkan izin dari sang direktur untuk mengaplikasikan penemuan software terbarunya, Deon berusaha untuk memasang dan menjajal software temuannya dengan menggunakan robot Scout 22. Di tengah usahanya tersebut, Deon dihadang oleh penjahat-penjahat jalanan yang berusaha untuk memanfaatkan Deon untuk membuat robot-robot kepolisian tidak berfungsi. Karena keadaan terdesak, Deon mengaktifkan Scout 22 dengan software terbarunya dan menghasilkan robot baru layaknya seperti bayi manusia yang baru lahir dan diberi nama Chappie. Setelah kemunculan Chappie, banyak petualangan baru dimulai dari bagaimana mengajari Chappie tentang hal-hal dasar kehidupan, dilema memilih antara kebaikan dan kejahatan, dan pemikiran mutakhir yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Percayalah, sinopsis yang saya berikan di atas itu hanya sekedar eksposisi tentang cerita dasar film. Terlihat panjang karena memang banyak hal dasar yang harus saya tulis disini untuk membuatnya mudah dimengerti. Meskipun pada prakteknya, ketika menonton film ini tidaklah terlalu rumit. Chappie pada hakikatnya merupakan sebuah film adaptasi dari film pendek yang merupakan karya Blomkamp sendiri pada tahun 2004 berjudul Tetra Vaal. Sepanjang film diputar, bisa dibilang plot yang dihadirkan tidaklah stabil. Saya mengamatinya dan membagi plot menjadi tiga bagian.
Pada paruh pertama, film berjalan baik-baik saja, terlihat meyakinkan dan menunjukkan pondasi yang terstruktur tentang gambaran karakter dan isu-isu apa saja yang berkembang di dalam film. So far so good. Begitu memasuki paruh kedua, mulai terasa kejanggalan pada alur cerita, tapi karena film ini bersikeras untuk tetap jalan dengan alur cerita seperti itu, maka saya ikuti saja dan lihat bagaimana ini akan berakhir. Ketika sudah memasuki paruh akhir, benar saja, konflik yang muncul sangat mudah ditebak dan eksekusinya pun tidak terlalu kuat dan matang. Battle scene yang ditempatkan di paruh akhir sebagai adegan pamungkas awalnya sangat enak untuk dinikmati, tapi lama-lama terasa membosankan dan bertele-tele. Meskipun begitu, ide yang dicetuskan di akhir film tidak bisa dipungkiri bahwa itu sangatlah menarik dan out of the box.
Meskipun terdapat kejanggalan di paruh kedua film, hal itu bukan merupakan suatu hal yang sepenuhnya harus disesali, karena sebenarnya dimulai dari sana, mulai muncul adegan-adegan yang dapat menarik perhatian penonton. Yang membuatnya menarik adalah bagaimana kita mengikuti perkembangan Chappie dalam belajar mengenai kehidupan dan dunia luas dengan tingkat AI mutakhir yang dia punya. Dalam prosesnya, kita bisa larut dengan keluguan Chappie ketika awal dia baru diaktifkan. Melihat kekonyolan-kekonyolan yang dihasilkan berkat ‘asuhan’ penjahat-penjahat yang sempat bersama dengan Chappie, bahkan sampai memanggil sang penjahat-penjahat tersebut ‘mommy’ dan ‘daddy’. Bagaimana Chappie belajar bahasa jalanan yang kasar dan mulai berbuat tindak kriminal yang sebenarnya dia menyadari bahwa dia tidak seharusnya seperti itu. Belum lagi gerakan luwes sang robot dengan Sharlto Chopley yang mengisi suara Chappie dengan pas dan ideal. Tiap tingkah laku Chappie memang benar-benar nyawa film ini, Chappie lah sang scene stealer.
Lalu bagaimana dengan karakter manusia yang ada disini? Well, bisa dibilang baik itu Hugh Jackman, Dev Patel dan Sigourney Weaver menunjukkan performa yang mengecewakan di sini. Mereka benar-benar terasa tasteless dan tumpul, tidak ada menariknya sama sekali. Satu hal yang membuat saya mengingat Hugh Jackman dari film ini adalah gaya rambutnya yang terlihat konyol. Sedangkan karakter-karakter penjahat di sini yang bernama Ninja (Ninja), Yolandi (Yolandi Visser) dan Yankie (Jose Pablo Cantillo) malah lebih terasa menarik karena bantuan skrip yang ditulis oleh sang sutradara dan Terri Tatchell. Tapi sering juga karakter-karakter penjahatnya terasa berlebihan. Ikatan emosional yang coba dibangun oleh karakter-karakter di sini dengan Chappie pun tidak terlalu mengikat dan tidak serta merta membuat kita terenyuh. Ikatan emosional yang terjadi hampir sepenuhnya terasa dingin dan tanpa makna, meskipun ada sedikit yang masih dapat mencuri perhatian.
Pada akhirnya, Chappie merupakan film sci-fi tentang robot yang mencoba memberikan ide terobosan baru yang bisa dibilang revolusioner dan mutakhir. Tapi pada proses pembuatannya dari awal sampai akhir, dia tidak tegas dan tidak terlalu menarik dalam mengambil perhatian dan atensi penonton sehingga membuatnya di beberapa titik membosankan, medioker dan mudah untuk dilupakan.






































