Kalau tahun lalu kita punya Coherence dengan segala kemumetannya itu, tahun ini kita kedatangan “tamu” dalam sains-fiksi/thriller: Time Lapse. Debut film layar lebar Bradley King ini punya tiga protagonis dari kalangan biasa. Ada Callie (Danielle Panabaker), Finn (Matt O’Leary) dan Jasper (George Finn). Ketiganya hanyalah muda-mudi yang memimpikan masa depan cerah. Suatu ketika, mereka seolah menemukan oasis di padang gersang ketika mereka menemukan sebuah mesin waktu — yang mampu memotret sehari ke masa depan — milik tetangga, Bezzerides, yang tewas tanpa sebab yang jelas.
Daya besar Time Lapse ialah ia mampu menarik hati kamu dari awal. Dengan gagasan gemilangnya, ia mengajak kamu untuk tahu hari demi hari yang tiga muda-mudi itu jalani. Tentu, film seperti ini selalu bergerak bak teka-teki yang semakin lama semakin membikin otakmu kalang-kabut. Bahkan, ketegangan semakin menjadi-jadi ketika orang luar turut campur dalam kehidupan mereka bertiga. Poin lain ialah, meski kamu sudah tahu apa yang akan terjadi sehari ke depan, Time Lapse tetap sanggup mempertahankan gelembung-gelembung misteri di dalamnya.
Sayang, berbeda dengan Coherence, film perdana King ini linglung merajut plotnya di tengah hingga akhir. Walaupun begitu, pada saat itulah kelokan-kelokan dan kejutan-kejutan berhembus keluar dari persembunyian mereka. Bukan cuma itu, gagasan oke Time Lapse juga terdegradasi oleh performa para pelakonnya yang terlalu standar.
Oleh karenanya, Time Lapse jelas bukanlah sebuah thriller terapik yang pernah diciptakan. Namun, sebagai sebuah kreasi indie dengan lokasi dan pelakonnya yang sangat terbatas, ia sanggup tampil bergairah tanpa perlu terlihat membosankan.








































