Merupakan film ke-12 dan juga penutup dari fase kedua Marvel Cinematic Universe (MCU), Ant-Man adalah proyek film Marvel Studios paling bermasalah sepanjang masa produksinya. Sudah diumumkan akan dibuat sejak Comic-Con 2006, nyatanya Ant-Man sendiri baru benar-benar bisa rilis 9 tahun kemudian. Edgar Wright bersama dengan partner menulisnya, Joe Cornish, nampaknya kesulitan untuk menyatukan naskah idealisnya dengan visi shared-universe milik Marvel. Berkali-kali ia menyerahkan revisi naskah, namun itu semua hanya berakhir kepada kepergiannya dari bangku penyutradaraan kurang lebih 1 tahun sebelum jadwal rilis filmnya.

Peyton Reed, yang datang di tengah produksi, harus berjibaku melawan waktu sembari bertahan melawan caci maki para fans yang masih kesal atas kepergian Edgar Wright. Sementara rasa pesimis menyelubung, sang aktor utama, Paul Rudd, dan Adam McKay, kembali merevisi naskah untuk memenuhi keinginan petinggi Marvel Studios.

Dan, akhirnya kita sampai di Juli 2015, di mana Ant-Man akhirnya rilis juga di bioskop. Tidak ada gunanya membayangkan seperti apa jadinya andai saja versi Edgar Wright yang berhasil difilmkan. Inilah yang kita dapat. Ant-Man adalah film teraman yang pernah Marvel buat.

Namun, Ant-Man bukanlah film yang buruk, hanya saja ia juga tidak berakhir spesial. Di kala Captain America: The Winter Soldier dan Guardians of the Galaxy tahun lalu berhasil menawarkan sesuatu yang baru untuk genre superhero, Ant-Man tampil cenderung sederhana dan apa adanya.

Lewat 11 film sebelumnya, kita tahu betul bahwa kelebihan utama Marvel Studios adalah kemampuannya dalam meracik dan menemukan keseimbangan antara aksi yang menghibur dan humor yang mudah dicerna. Dan, itulah tepat apa yang disajikan oleh Ant-Man.

Scott Lang (Paul Rudd) adalah seorang mantan narapidana yang baru saja keluar dari penjara. Karena statusnya, ia kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dan biaya untuk menafkahi putri tunggalnya, Cassie Lang. Tidak perlu waktu lama, ia pun kembali ke dunia kriminal spesialisasinya, pencurian. Namun, bukan harta atau uang yang ia temukan kala mencuri, melainkan sebuah kostum. Kostum tersebut ternyata milik Hank Pym (Michael Douglas), penemu Pym particle (zat yang mampu mengubah sebuah objek menjadi kecil) dan juga Ant-Man pertama. Dan, meski ia kira ini semua adalah ketidaksengajaan, Hank Pym rupanya sudah lama mengamati Scott Lang. Bersama putrinya, Hope (Evangeline Lilly), Hank membutuhkan bantuan Scott untuk mencuri kostum Yellowjacket buatan Darren Cross (Corey Stoll), yang bila jatuh ke tangan yang salah, dapat menjadi sangat berbahaya.

Entah seberapa banyak perubahan yang terjadi pada naskah asli Edgar Wright, namun polesan tersebut sangat terasa ketika menyaksikan Ant-Man. Paruh pertama hingga pertengahan film sangat dipenuhi oleh eksposisi plot, karakter, dan juga cara kerja berbagai hal. Mulai dari kostum Ant-Man sendiri, interaksinya dengan semut-semut, dan juga rencana jahat Darren Cross. Penjelasan demi penjelasan datang bertubi-tubi untuk penonton. Kalian yang senang disuapi, tidak akan bermasalah sama sekali dengan story-telling di film ini, tapi buat saya ini cukup buruk.

Kevin Feige juga berulang kali mengatakan bahwa ini adalah a heist movie. You know what? It wasn’t. But, it was trying hard to be one. Ada adegan perencanaan dan ada adegan eksekusi rencana. Tapi itu semua benar-benar terasa seperti after-thought. The main heist dalam film ini bahkan hanya mengambil sedikit persenan dari cerita utama, dan dalam waktu singkat langsung kembali ke rute film superhero.

Untungnya, Ant-Man bernafaskan dalam komedi. Mulai dari Paul Rudd dan geng kawanan pencurinya yang dimotori oleh Michael Pena sukses berkali-kali membuat para penonton tertawa. Tapi dibalik itu semua, ini sebenarnya hanyalah trik usang dari Marvel untuk menyembunyikan betapa kacaunya alur penceritaan film.

Ant-Man juga banyak dianggap sebagai sebuah origin story superhero, namun ia tidak mau ribet bagaimana menjelaskan cara bekerja kekuatannya itu sendiri. Dari awal film, Pym Particle sudah terbuat, dan penonton tinggal terima jadi saja bahwa zat itu bisa membuat Ant-Man menjadi kecil.

Sementara, Darren Cross sebagai penjahat memiliki screen-time yang teramat sedikit (layaknya musuh di film MCU pada umumnya). Hal ini menyebabkan karakternya tidak pernah berkembang lebih dari seorang prodigy yang ingin balas dendam kepada mentornya (Hank Pym). Ada juga kemiripan luar biasa dalam motivasinya dengan karakter Obadiah Stane di Iron Man. Adegan-adegan di mana ia melakukan eksperimen demi mendapatkan formula yang pas dieksekusi sangat buruk. Bahkan editingnya membuat beberapa adegan seperti tidak ditaruh di tempat yang pas. Adegan eksperimen kambing menjadi daging dan ‘hal serupa’ di toilet sebelumnya, seharusnya bertukar posisi. Karena satu adalah setup dan satunya lagi adalah pay-off.

Dan, bagaimana bisa Darren Cross berani menjual teknologinya ketika ia bahkan belum berhasil mengecilkan mahkluk hidup? Dari sisi bisnis dan, realistis saja, ini tidak masuk akal. Tapi ketika kita memandangnya dari segi film superhero yang berwarna-warni dan dipenuhi oleh super-villain, ini jadi terasa mungkin. Karena kita tahu, pada akhirnya ia akan berhasil.

Yellowjacket pun juga akhirnya baru muncul di bagian akhir film. Kita tidak tahu kapan ia berlatih menggunakan kostumnya tersebut hingga sangat lihai, namun lewat sebuah dialog, Hope menggambarkan Cross menjadi mulai gila karena terlalu sering bereksperimen dengan zat-zat ciptaannya. Kita pun jadi tahu, bahwa sebelumnya berarti Darren Cross sudah pernah melakukan eksperimen terhadap dirinya sendiri. Dan, di sinilah contoh paling baik dari permasalahan Ant-Man terlihat, they are all about telling, but not showing. Di mana seharusnya, film menganut paham show, don’t tell.

Sweet costume, by the way

Menyaksikan Ant-Man seperti melihat para karakter di layar bercerita satu sama lain tentang kisahnya, tapi penonton tidak pernah mendapatkan gambaran visual akannya. Hal ini terjadi untuk semua karakternya di dalamnya.

Cara mereka mengaitkan film ini dengan MCU pun juga sangat dipaksakan. Adegan ‘tersebut’ dengan mudah bisa dieksekusi dengan cara berbeda andai saja film ini adalah sebuah stand-alone. Tapi, tidak, di sini ia menjadi sebuah plot device agar Ant-Man nantinya dapat bergabung di film Civil War. Hal yang kalian sebut easter egg, kini rasanya lebih cocok disebut sebagai “promosi untuk film selanjutnya”.

Mungkin kalian yang sudah menyaksikannya tidak sependapat dan menganggap Ant-Man sangat menghibur. Saya tidak akan menyangkal, it’s a lot of fun. Terutama untuk paruh akhirnya, setelah rentetan eksposisi akhirnya kelar. Adengan aksinya menghibur, komedinya masih berhasil membuat saya tertawa. Tapi bukankah semua film Marvel lainnya begitu?

Marvel Studios punya satu formula yang sampai sekarang masih ampuh dan enggan mereka ubah. Formula yang sama tersebut masih diterapkan di sini. Setelah 12 film, produk MCU kini mulai terasa seperti hasil pabrik di mana mereka tercipta usai mengikuti standar yang ada. Dibutuhkan sutradara visioner yang berani membawa sesuatu yang baru ke dalamnya. Di tangan Russo bersaudara dan James Gunn, hal tersebut terbukti dapat dilakukan. Hell, bahkan kini Iron Man 3 pun terlihat lebih berani mengambil resiko ketimbang Ant-Man yang bermain terlalu aman dan mengikuti pakem Marvel.

Review overview
Story - 7
Acting - 7.5
Direction - 6.5
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.