Review: Guardians of the Galaxy (2014)
Mendapuk Guardians of the Galaxy sebagai proyek beresiko mungkin ada benarnya. Bagaimana tidak, semenjak diumumkan saat Comic-con 2012, banyak para pembaca komik yang bahkan mengernyitkan dahi bingung mempertanyakan siapa mereka. Itu penggemarnya, apalagi orang-orang yang benar-benar awam? Maukah mereka membayar tiket bioskop untuk melihat kumpulan grup aneh yang dua anggotanya adalah pohon dan rakun berbicara?
Tapi sebenarnya, Marvel Studios sudah akrab dengan yang namanya mengambil resiko. Film pertamanya, Iron Man, juga saat dirilis tidak memiliki nama setenar sebangsa Spider-Man atau X-Men. Sedangkan proyek team-up ambisiusnya, The Avengers, merupakan yang pertama untuk menggabungkan 4 franchise film menjadi sebuah seri cross-over baru. Keduanya sukses besar dari segi kritik maupun finansial, dan adalah dua yang terbaik dalam Marvel Cinematic Universe.
Guardians of the Galaxy, film ke-10 dari Marvel Studios, cenderung jatuh ke kategori yang sama dengan dua kakaknya di atas, bahkan mungkin kulminasi keduanya. Terlalu banyak faktor di atas kertas yang condong mendukung kegagalan film ini. Ya, penggunaan karakter yang hampir tidak pernah didengar banyak orang adalah alasan utamanya. Tapi tidak hanya sampai di situ, Guardians of the Galaxy juga merupakan film tim superhero, layaknya The Avengers, bukan individual, seperti Thor atau Captain America.
Lalu apa hasilnya ketika dua hal tersebut dilebur menjadi satu? Biar saya beri tahu, film musim panas paling menghibur dan menyenangkan tahun ini.
Dibuka dengan adegan pilu pada masa kecilnya, penonton seketika dibawa melaju ke petualangan luar angkasa Peter Quill (Chris Pratt) 26 tahun kemudian. Star-Lord, begitu panggilannya, kini adalah bagian dari Ravagers, kumpulan perompak luar angkasa yang menculik dirinya dari bumi saat masih kecil. Akibat pencurian sebuah Orb, Peter kini diincar oleh banyak pihak termasuk Ronan (Lee Pace) yang didampingi oleh Nebula (Karen Gillan) sebagai penjahat utama dari film ini. Bersama bantuan dari Gamora (Zoe Saldana), Drax (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper), dan Groot (Vin Diesel), Star-Lord kini harus menyelamatkan galaksi dari malapetaka yang mampu dibawa oleh Orb tersebut.
Sebenarnya, dari momen ketika alunan melodi Come and Get Your Love dari Redbone hadir, dan judul Guardians of the Galaxy tampil mentereng dengan sang jagoan menari di latarnya saya sudah menduga film ini akan berakhir spesial. Ratusan menit yang datang setelahnya hanyalah konfirmasi menyenangkan akan hipotesa di awal. Film terasa orisinil, unik, dan ‘aneh’ bila dibandingkan dengan kawan sejenisnya meski formula ampuh Marvel masih terasa sangat kental.
Naskah dari Guardians of the Galaxy sendiri harus diapresiasi karena berani mengumpulkan kelima karakternya tanpa introduksi asal-usulnya yang berlebihan. Bahkan, hingga akhir film, hanya Star-Lord yang cerita masa lalunya terekspos besar. Namun hebatnya, penonton mampu dibuat peduli dengan karakter seperti Groot dan Rocket yang notabene adalah hasil CGI dari pohon dan rakun karena antropomorfismenya yang mirip dengan diri kita sendiri. Mereka berlima pernah kehilangan seseorang dalam kehidupannya dan adalah kumpulan yang terbuang. Cara yang sama telah digunakan sebelumnya oleh Spider-Man, dan terbukti ampuh untuk meraup simpati dan memainkan emosi penonton.
Ketika hal itu telah tercapai, tahap selanjutnya adalah membangun interaksi karakternya agar menarik untuk diikuti. Tapi jangan khawatir, karena hal tersebut tidak pernah menjadi kelemahan dari Marvel Studios. Lagipula, dengan Orb yang berperan sebagai macguffin dalam film ini, menghubungkan tali relasi dari banyak karakter dalam film cukup mudah. Dibalut dengan dialog James Gunn yang menggelitik, adegan 5 jagoan kita melingkar dan berdebat saja sangat mengasyikkan untuk ditonton. Bila sebelumnya kalian pikir rakun dan pohon berbicara itu konyol, Guardians of the Galaxy bisa membuatnya seru. Dan, dalam sekejap kalian pun akan lupa tentangnya karena semuanya mengalir begitu saja.
Dari segi cerita, ada beberapa penyesuaian terhadap alasan terbentuknya tim agar lebih mudah dicerna bagi penonton umum, dan secara garis besar plotnya pun sangat sederhana; hanya rebut-rebutan Orb. Tapi tujuan awal film ini sendiri dari awal memang bukan memberikan cerita superhero yang penuh intrik, melainkan menjadi sebuah perkenalan akan dunia kosmik Marvel yang luas. Ada banyak sekali referensi dan easter eggs yang disesakkan di dalamnya serta benih-benih yang ditabur menandakan bahwa ini semua baru permulaan. Bila hal tersebut digabung dengan jalan cerita yang rumit, maka bisa jadi malah berimbas sulitnya dimengerti bagi mereka yang kurang familiar dengan dunia komiknya.
Penggunaan musik di sini juga sudah seperti New York dalam film romantic-comedy, sebagai sebuah karakter sendiri. Awalnya saya akui terlihat sebagai pendekatan dan gimmick marketing semata berhubung saya sudah memilikinya sejak bulan lalu. Tapi, itu semua berbeda ketika mendengarkannya saat menyaksikan filmnya langsung. Soundtrack yang berisi kumpulan lagu populer tahun 70 ini benar-benar mengkomplemen tiap adegan dalam film dan sulit kini membayangkannya dieksekusi tanpa kehadiran lagu-lagu tersebut. Dan bagi kalian yang sebelum menonton saja sudah ketagihan dengan soundtracknya bisa dipastikan akan semakin rajin memutarnya.
Sayangnya, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk scoring dari Tyler Bates yang medioker layaknya film Marvel lainnya. Terlepas dari dua komposisi terakhirnya untuk dua adegan ‘milik’ Groot, saya malah merasa ter-disconnect sesaat setiap transisi dari lagu-lagu keren tahun 70an ke bunyi generik tersebut. Keluhan minor yang tidak berdampak besar, kok.
Kredit lainnya juga harus diberikan untuk segi visualnya. Meski tidak ground-breaking, Guardians of the Galaxy sejauh ini adalah film Marvel paling cantik dan indah untuk dilihat. Komposisi warnya apik ditambah dengan CGI-nya yang tanpa cela, nyaris sempurna. Groot dan Rocket tampil benar-benar hidup dan seolah-olah ada di tempat kala mereka shooting. 3D-nya juga dengan mudah menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya lainnya dengan margin yang jauh.
Melihatnya kini, saya tertarik untuk membayangkan andai saja Guardians of the Galaxy dirilis 5 tahun yang lalu. Resepsinya pasti tidak bakal sebaik ini. Siapa yang mau menonton film superhero kosmik yang berisi karakter tidak populer? Tapi Marvel Studios telah sukses membangun reputasi yang baik lewat 9 film sebelumnya dan kini asal ada cap mereka di awal film, penonton akan datang ke bioskop. Mungkin saja, itu semua dilakukan untuk membuka jalan agar Guardians of the Galaxy bisa diterima.




