Review: The November Man (2014)

Pierce Brosnan, yang namanya sudah begitu melekat dengan James Bond, mencoba kembali peruntungannya di film aksi bertema agen rahasia/mata-mata. Tentunya di sini ia sudah tidak berada lagi pada kondisi primanya. Perutnya terlihat membuncit, gerakannya tidak terlalu cepat, namun kharismanya tidak bisa disangkal lagi masih ada. Toh, Liam Neeson pun di umur tuanya juga masih bisa menghajar puluhan lelaki berusia lebih muda 2-3 dekade di seri Taken , maka tidak heran The November Man ingin mencoba peruntungan yang sama dengan Pierce Brosnan.
Dari rangkaian narasinya yang berbelit-belit, November Man sebenarnya punya satu premis yang menarik, meski usang; seorang mentor melawan anak didiknya. Deveraux (Brosnan) yang merupakan seorang ex agen CIA, harus dihadapkan melawan agensi tempat dulu ia bekerja ketika kekasihnya dibunuh dalam sebuah misi yang melibatkan calon presiden Rusia. Semakin dalam film berjalan, jalinan ceritanya pun makin rumit. Tapi, seperti yang sudah saya bilang, di sini ia harus melawan agen CIA muda yang dulu pernah ia latih-Mason, diperankan oleh Luke Bracey.
Sayangnya, untuk mengeksekusi maksud utamanya, film tidak melalui rute yang mulus. Banyak logika yang terlalu diabaikan dan di’iya’kan saja demi mencapai premis mentor vs. anak didiknya. Beberapa kali saya mengernyitkan dahi akan keputusan-keputusan sembrono yang dibuat tiap karakternya. Bahkan, lupakan sejenak bagaimana Deveraux membunuh berapa puluh agen CIA level rendah yang tidak tahu menahu alasan di balik ini semua. Collateral damage, yes. Tapi sang sutradara, Roger Donaldson, seperti tidak mengacuhkan hal ini. Tidak jarang, film pun kesulitan untuk memilih siapa protagonisnya, dan malah berakhir memiliki sejumlah karakter antagonis.

Tapi, agar film aksi ini tidak terlihat bodoh, naskahnya berusaha membuat semuanya terlihat pintar dan kompleks. Pertama, dengan menyematkan cerita yang berputar-putar padahal tidak perlu. Dan kedua, dengan menaruh twist demi twist, yang mulai dari tidak tertebak, hingga yang dibuat-buat secara sengaja agar penonton tidak bisa menebaknya. Don’t get me wrong, I love unpredictable twist. Tapi ada bedanya kala twist dirangkai dengan sangat baik dan rapih dari awal, hingga twist yang secara tiba-tiba dan seenaknya hanya ingin mengecoh penonton.
Namun, bila kita melupakan itu semua, The November Man sebenarnya sudah cukup memadai untuk film aksi sejenisnya. Ia punya adegan aksi bertensi tinggi yang cukup menarik (setidaknya hingga pertengahan film). Aktor-aktornya juga tampil cukup baik, tidak hanya sekedar Pierce Brosnan saja. Mulai dari Luke Bracey, sebagai anak didik yang tiap kali muncul di layar mukanya mengingatkan saya akan kulminasi antara Mark Wahlberg dan kakak-beradik Hemsworth, serta Olga Kurylenko yang memang gunanya sebagai pemanis.
Jadi, bila kalian memang mencari tontonan semacam ini, yakni film aksi yang berusaha menjlimet padahal sebenarnya cukup ditonton dan diikuti saja kemauannya ke mana, The November Man mungkin sukses memuaskan keinginan kalian. Saya tidak akan bohong, saya tidak menyesal menontonnya. Tapi bila Brosnan mau melakukan comeback ke dunia action a la Liam Neeson, ia butuh sesuatu yang lebih baik daripada ini.
