Review: Coherence (2014)

by -
1

coherence

Hal yang seketika terbesit dalam benak ketika menyaksikan Coherence adalah, film arahan Mike Cahill yang rilis pada 2011 silam, Another Earth. Meskipun serupa pada permukaannya semata, film yang digawangi oleh James Ward Byrkit ini punya sentuhan yang agak berbeda. Kalau Rhoda Williams dalam Another Earth tampak begitu gembira untuk bisa pergi ke planet baru dalam Bima Sakti itu, realitas terlihat berbeda bagi delapan insan yang sedang menikmati pesta makan malam di sebuah rumah asri. Pasalnya, pada malam ketika sebuah komet melintasi Bumi, kejadian-kejadian ganjil justru bermunculan, dan semakin menjadi-jadi kala waktu bergulir. Sehingga, paranoia dosis tinggi tak mungkin terelakkan bagi Em (Emily Foxler), Kevin (Maury Sterling), Mike (Nicholas Brendon), Beth (Elizabeth Gracen), Amir (Alex Manugian), Laurie (Lauren Maher), Hugh (Hugo Armstrong) dan Lee (Loren Scafaria).

Apa yang bekerja ekstra baik dalam Coherence adalah, Byrkit tidak bertumpu pada visualisasi yang menyilaukan mata. Akan tetapi, ia mengeksplorasi identitas hingga koneksi antarkarakter di dalamnya. Lalu, ia biarkan unsur fiksi-sains terus bergentayangan di latar belakang. Kebanyakan film bergenre sama kerap menggunakan CGI oktan tinggi hanya untuk memuaskan kamu. Sebut saja Battleship (2012) maupun Transformers (2007-2014). Berbeda dengan film ini, yang akan selalu mempersilakkan kamu untuk berpikir keras — sampai pada tahap mumet. Jadi, bagi kamu yang mencari film fiksi-sains hanya untuk memuaskan mata, sebaiknya berhenti baca tulisan ini sekarang juga. Selain itu, Byrkit juga seakan menghadirkan hipotesis tentang apa yang bakal dilakukan manusia ketika listrik padam, sinyal ponsel lenyap, hingga Internet yang berhenti mengalir.

Paranoia yang dirasakan oleh para karakter dalam Coherence sanggup mengajak kamu untuk turut menjadi paranoid. Tidak terlalu lama untuk mengonstruksi atmosfernya; dari introduksi, keganjilan sudah tampak nyata. Meskipun terbilang sama rumitnya dengan Enemy (2014), Coherence punya atmosfer yang terbilang jauh lebih mencekam sekaligus tempo yang lebih enak untuk diikuti. Alhasil, meskipun mengusung premis yang (memang) tidak orisinal serta bujet yang super-duper minim, presentasi brilian yang disuguhkan jauh dari kesan minimalis, bahkan konklusi yang diberikan juga jauh dari kesan klise.