Review: Ruby Sparks (2012)
Beberapa bulan lalu, saat daftar nominasi penghargaan film-film terbaik tahun 2013 mulai beredar, ada satu judul yang menarik perhatian saya lebih dibandingkan judul-judul lain yang belum saya tonton. Her (2013), dengan posternya yang bernuansa biru dan dipenuhi logo daun melingkar berhasil membuat saya penasaran dan langsung menonton keesokan harinya. Saya tidak akan berbicara banyak mengenai film ini. Yang pasti, selain plot dan scoringnya yang brilian, ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan dari Her. Film ini begitu mengingatkan akan salah satu film yang pernah saya tonton sebelumnya, Ruby Sparks.
Tokoh utama di Ruby Sparks adalah Calvin Weir-Fields (Paul Dano), seorang penulis yang sedang mengalami writer’s-block. Novel pertamanya yang ditulis saat berumur 19 tahun sangat sukses dan menjadikannya terkenal. Bahkan, 10 tahun mendatang novelnya dibanding-bandingkan dengan novel legendaris The Catcher in The Rye karya J. D. Salinger. Keberhasilan di debut seperti itu tentu saja sangat sulit untuk diimbangi, bahkan oleh dirinya sendiri sampai-sampai dia harus menemui psikiater, Dr. Rosenthal (Elliott Gould), untuk menolongnya.
Pada awalnya, Calvin bermimpi tentang seorang gadis yang ia temui di taman. Sebagai bagian dari terapi, Dr. Rosenthal menyuruhnya untuk menulis cerita dengan perempuan tersebut sebagai tokohnya. Di sinilah sosok bernama Ruby Sparks lahir. Ruby digambarkan sebagai pelukis berumur 26 tahun dari Ohio yang ceria, impulsif, dan energetic. Ruby menginspirasi Calvin dan membuatnya benar-benar jatuh hati hingga di salah satu sesi konsultasinya dia berkata, “I think I’m falling in love with her!”.
Plot semakin menarik ketika suatu pagi, Calvin bangun dan mendapati sosok Ruby Sparks (Zoe Kazan) sedang membuat sarapan. Dia berbicara dan bertingkah laku normal, seperti tidak ada yang aneh. Ruby dengan rambut merahnya menjelma persis sebagaimana Calvin membayangkan dan menuliskannya. Mengira dia sudah gila, Calvin berusaha mengacuhkannya dan keluar untuk kencan dengan salah satu penggemarnya. Ruby, yang sampai saat itu masih disangka halusinasi Calvin, mengikutinya keluar dan kemudian mendatangi Calvin di tengah kencannya. Saat semua orang di sekitar Calvin dapat berinteraksi dengan Ruby, di sinilah Calvin – dan juga penonton diyakinkan bahwa Ruby telah benar-benar menjelma menjadi sosok nyata. Tentu saja Ruby sendiri tidak tahu bahwa awalnya dia hanyalah hasil manifestasi tulisan Calvin sampai pada suatu adegan di mana dia menyaksikan sendiri Calvin bisa membuatnya melakukan apapun saat itu juga hanya dengan mengetik di selembar kertas.
Setidaknya ada dua pasangan di balik menariknya film ini. Yang pertama adalah pasangan Jonathan Dayton – Valerie Faris sebagai sutradara yang sebelumnya sukses dengan Little Miss Sunshine (2006). Mereka kembali berhasil menghadirkan suasana hangat ke film ini yang mejadikan penonton merasa sangat dekat dan familiar dengan para tokoh di dalamnya. Yang kedua tidak lain adalah Zoe Kazan – Paul Dano sendiri yang di luar dunia akting memang merupakan pasangan. Zoe Kazan, pemeran Ruby Sparks sekaligus penulis naskah film ini tentu menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan karakter Ruby dapat terasa sangat hidup, nyata, dan memenuhi ekspektasi penonton. Paul Dano, didukung dengan perawakannya yang nerd dan raut mukanya yang neurotic juga berhasil memerankan tokoh Calvin yang entah bagaimana sangat mengingatkan saya akan Woody Allen in a more sane and adorable way.
Dalam hal plot dan alur cerita, meskipun terdapat elemen fantasi di dalamnya, sejujurnya tidak ada yang terlalu baru dan istimewa. Namun entah bagaimana, dalam penulisannya Zoe tetap berhasil menghadirkan kejutan-kejutan yang alami dan tidak dibuat-buat. Untuk film yang pada dasarnya bergenre romance seperti ini, tentu saja hanya ada dua kemungkinan besar untuk endingnya; antara kedua tokoh utamanya tetap bersama atau tidak. Well, Zoe memang memilih salah satu dari kedua opsi tersebut. Penonton tidak akan terlalu terkejut dengan akhirnya, tetapi bagaimanapun akan tetap terkesan akan after-taste yang ditinggalkan oleh keseluruhan film.
Kembali ke perbandingan awal, tentu setting bukanlah elemen dari Her yang dapat mengingatkan akan film ini, karena jelas sangat bertolak belakang. Her, dengan teknologi dan bangunan-bangunan bergaya futuristiknya melampaui masa sekarang, sedangkan Ruby Sparks yang masih dengan mesin ketik dan referensinya akan sastra klasik cenderung lebih relevan ke masa lampau. Yang terasa familiar di antara keduanya adalah tokoh protagonis dari masing-masing film. Meskipun alur ceritanya tetap tidak dapat dibilang persis, Theodore (Joaquin Phoenix) dan Calvin sama-sama secara tidak sengaja menemukan muse sekaligus soulmate dengan cara yang tidak disangka. Keduanya menjadi sedemikian ketergantungan dengan sosok-sosok itu meskipun keduanya menyadari kalau mereka tidak sepenuhnya nyata.





