Review: Rocket Rain (2014)
Film ini tidak tayang di bioskop. Cara distribusinya pun mengandalkan pemutaran-pemutaran keliling serta penayangan di festival film. Saya beruntung berhasil menonton film ini di Jumat minggu kedua penayangannya di Kineforum DKJ sebagai bagian dari program pemutaran regulernya di situ selama 3 minggu, setelah sebelumnya film ini tayang perdana di bulan Desember 2013 silam, tepatnya saat Jogja-Netpac Asian Film Festival, dan di acara Film, Musik, Makan yang berlangsung di Goethe Haus Jakarta bulan Maret lalu.
Rocket Rain bercerita tentang dua sahabat, Culapo (Anggun Priambodo) dan Jansen (Tumpal Tampubolon). Jansen, seorang Batak tanpa penghasilan tetap, hendak bercerai. Ia pun pergi melakukan perjalanan ke Bali bersama Culapo, seorang pembuat video yang sudah bercerai dari istrinya, untuk ikutan membuat video dan sekaligus curhat kepadanya. Perjalanan mereka ditemani tokoh Pak Kancil (Narpati Awangga), supir sewaan Culapo untuk perjalanan mereka tersebut, dan Rain (Rain Chudori), seorang gadis perempuan yang muncul secara tiba-tiba-dua tokoh yang turut mewarnai perjalanan mereka.
Anda akan sangat menikmati persahabatan Culapo dan Jansen, di mana keduanya memiliki kemiripan kondisi pada saat itu. Penonton dibuat nyaman akan mereka dengan dialog-dialog yang sangat dekat dengan keseharian, gerak-gerik dan empati yang sangat meyakinkan anda bahwa keduanya bersahabat dan diguncang masalah yang sama, serta kegilaan-kegilaan yang tiba-tiba saja muncul-suatu hal yang wajar dilakukan sahabat. Kehadiran-kehadiran tokoh-tokoh lain pun juga sebenarnya tidak bermaksud random. Pak Kancil yang sangat saklek dan cinta istrinya serta Rain yang sangat meletup-letup dan impulsif mewakili perasaan-perasaan atau nilai-nilai yang hilang dari dua tokoh utama kita serta memberikan gambaran bahwa perjalanan mereka menjadi lebih berwarna, menyenangkan, sekaligus memberikan pelajaran hidup secara sadar maupun tidak sadar kepada mereka.
Terlihat jelas bahwa film drama ini juga dibuat dengan unsur genre eksperimental yang kental. Ceritanya memang dituturkan secara linear, akan tetapi bisa jadi sangat memungkinkan jika ada bagian-bagian yang membingungkan anda ketika anda menontonnya. Kehadiran-kehadiran video art serta adegan atau tokoh yang tidak memiliki pengantar tertentu biasa muncul di film ini. Hanya ada satu hal yang perlu anda lakukan ketika anda hendak menonton Rocket Rain sebagai sebuah hiburan (kecuali kalau anda ingin menganalisis sendiri filmnya secara mendalam): nikmati saja. Karena justru ketika anda menikmati film ini sebagai suatu keutuhan, walaupun ada beberapa adegan di mana shot dan musiknya secara gamblang-visual maupun audio-mewakili apa yang hendak disampaikan, di sinilah anda bisa menyadari bahwa film ini berusaha menyampaikan nilai-nilai yang bersifat universal dan dimiliki seluruh manusia: kehilangan, kesepian, kesendirian, kekeluargaan, persahabatan, keintiman, bahkan hasrat seksual-suatu hal yang sangat nyata ada di dalam film ini.


