Review: Finding Srimulat (2013)

Saat srimulat ada di puncaknya, saya masih terlalu kecil untuk bisa menikmati lelucon-leluconnya. Dan saya cukup ingat, meski begitu di rumah saya sering sekali Indosiar disetel, dan ada srimulat. Bisa digambarkan, bahwa Srimulat itu seperti OVJ-nya jaman dulu. Gaya jokesnya pun mirip, slapstick dan terkadang memang main fisik. Lalu, kemana mereka sekarang?
Finding Srimulat yang berarti “Mencari Srimulat” nggak ada hubungannya dengan Finding Nemo maupun sekuelnya Finding Dory yang bakal rilis 2015. Filmnya sendiri sebenarnya campuran antara dokumenter kehidupan anggota-anggota Srimulat dengan balutan cerita fiksi. Tapi sepertinya, mereka kurang yakin kalau sebatas grup Srimulat saja mampu meraup penonton. Maka dirangkullah Reza Rahadian yang memang lagi naik-naik daunnya bersama dengan Rianti Cartwright.

Finding Srimulat bercerita tentang Adi (Reza Rahadian) yang merupakan adalah suami dari Astrid (Rianti Cartwright). Hidup Adi akhir-akhir ini tengah diuji. Setelah kantornya terpaksa harus tutup karena bangkrut, Adi juga mendapat tekanan dari orang tua Astrid yang dari awal memang kurang sreg dengan Adi. Ditambah lagi, Astrid kini sedang mengandung buah hati Adi. Di tengah-tengah kesulitan finansial, Adi yang memang digambarkan sebagai fans fanatik Srimulat ini mendapatkan ide untuk menghidupkan kembali Srimulat. Dicarinyalah satu persatu anggota dari Srimulat dengan harapan Srimulat dapat pentas kembali dan sebagai timbal balik, mendapatkan Adi mata pencaharian baru.
Premis simple, bahkan kisah Adi terkesan seperti tempelan dan berfungsi sebagai penjalan plot saja. Comeback Srimulatnyalah yang menjadi highlight. Dan hal ini dilakukan apa adanya, tidak pretensius. Srimulat tidak berusaha untuk menyesuaikan diri mereka dengan selera pasar sekarang. Srimulat adalah srimulat. Hasilnya? Nostalgia.

Saya saja yang tidak tahu banyak tentang Srimulat jadi terngiang-ngiang masa lalu, apalagi yang memang pengikut setianya? Apalagi mereka kembali mengulang jokes-jokes klasik. Dan para aktornya. Mereka serasa kembali ke panggung srimulat. Tak sedikit pun mereka terlihat akting, mereka hanya perlu menjadi diri mereka. Inilah yang terasa sebagai komedi dari hati. Puncaknya terdapat di bagian terbaik Finding Srimulat. Saat mereka melakukan pentas Stasiun Balapan dengan iringan lagu Lenggang Puspita. That’s when I cried, laughed, and became happy at once.
Tapi kemudian, saya mencoba memposisikan diri sebagai orang yang memang belum pernah menonton Srimulat. Duh, film ini akan menjadi perjalan tidak jelas bagi Anda. Selain ceritanya yang memang ala kadarnya, hal ini ditambah buruk dengan editing kualitas sinetron. Dan endingnya pun menurut saya gagal total.
So, is it worth it? Kembali ke diri Anda sendiri, apakah Anda pernah menonton Srimulat?

