Review: Selamat Pagi, Malam (2014)

Seperti yang mungkin kalian telah sadari, saya tidak sering menonton film Indonesia di bioskop. Atas alasan itu juga kenapa blog ini juga jarang mengeluarkan ulasan film negeri kita. Tapi, setiap tahun selalu saja ada beberapa film yang, sayangnya, kurang mendapat perhatian besar. Rata-rata karena mereka adalah rilisan independen dengan budget kecil, promosi seadaanya, dan tidak dipenuhi nama besar seperti Reza Rahadian atau juga Pevita Pearce. Tapi film seperti inilah yang malah tampil lebih superior ketimbang ‘blockbuster‘ lokal yang biasanya rilis di Desember nanti. Bila di tahun 2012, ada Lovely Man dari Teddy Soeriaatmadja, lalu di tahun 2013 ada What They Don’t Talk About When They Talk About Love punya Mouly Surya, maka tahun ini kita kedatangan Selamat Pagi, Malam. Film kedua arahan Lucky Kuswandi (Madame X) yang saya harap kalian saksikan Kamis 19 Juni nanti ketika tayang reguler di bioskop.
Sinopsisnya mungkin menyebutkan tentang pengalaman 3 wanita yang berbeda di Jakarta malam hari, itu terlalu diskriminatif karena karakter pendukungnya juga sama kuat, saya lebih suka menyebutnya sebagai kumpulan cerita dari 3 set karakter dalam sebuah malam, ketika matahari tertidur. Di set pertama, dan yang paling mendominasi, ada Gia (Adinia Wirasti) dan Naomi (Marissa Anita) yang merupakan ‘teman lama’ di Amerika. Naomi, yang pulang terlebih dahulu ke Jakarta, diajak bertemu oleh Gia setelah jeda 4 tahun memisahkan mereka. Ada culture shock yang dialami oleh Gia ketika sampai di tanah kelahiran, sementara temannya sudah terbawa dengan anutan dan gaya hidup ibukota.


Di set kedua yang makin ke belakang makin mencuri perhatian, ada Indri (Ina Panggabean), seorang pegawai fitness center, yang akan menjalani kencan buta dengan seseorang dari dunia maya dengan harapan bisa menaikkan status sosialnya. Lalu di cerita terakhir kita ditawarkan kisah Ci Surya (Dayu Wijanto) yang baru saja kehilangan suami serta pusat kehidupannya. Belakangan, ia baru mengetahui bahwa karakter sentral hidupnya berselingkuh dengan seorang wanita malam bernama Sofia (Dira Sugandi).
Hal pertama yang mencolok dari Selamat Pagi, Malam adalah kritik sosialnya terhadap gaya hidup masyarakat urban masa kini. Tapi definisi kritik juga terlalu subjektif, karena apa yang ada di layar adalah sebuah realita dan disajikan tanpa memihak. Sering kalian akan melihat refleksi dari diri kita sendiri. Seperti selalu membuka smartphone ketika makan malam dan tidak saling berbincang dengan teman yang ada di depan muka. Hal seperti ini muncul banyak dan dengan mudah mencuri hati penonton karena sangat relatable sekali dengan kehidupan nyata.
Berbicara tentang kenyataan, Selamat Pagi, Malam sangatlah realis. Mulai dari karakter-karakternya, dialog, hingga bagaimana film ini sendiri dikemas. Budgetnya terlihat tidak besar, tapi hal itu malah menjadi salah satu kekuatannya. Jakarta tidak terlihat cantik akibat polesan efek di sini, Jakarta terlihat sebagaimana kita sehari-hari melihat Jakarta. Keretanya penuh dan sesak, jalanannya macet, mobil mencuri jalan lewat jalur busway, TV di pasar gambarnya banyak semut, makan Indomie di pinggir jalan pun enak karena bercampur keringat dengan abangnya. Selain lewat visualnya yang membumi, soundtrack yang menemani juga cakep dan sederhana, bahkan lagu penutupnya hadir tanpa instrumen. Ini (mungkin) memang apa yang diinginkan oleh Lucky Kuswandi, menyatukan kejadian di filmnya dengan pengalaman para penontonnya.
Ada 3 set karakter di dalamnya, favorit penonton bisa berbeda. Seperti saya yang muda, jauh lebih mudah terhubung dengan Gia dan Indri, ketimbang Ci Surya. Tapi semuanya tampil hebat di sini, chemistry-nya asyik, penonton dibawa dalam sebuah perjalanan emosi penuh rasa manis hingga bittersweet yang membekas bahkan sampai keluar studio. Namun, apa yang paling ingin disampaikan adalah tentang pencarian jati diri di mana akhirnya kita semua harus kembali menjadi diri sendiri. Tidak pretensius, jangan terbawa arus, just be yourself, and you’ll find happiness.

