Review: Divergent (2014)
Berhubung filmnya sendiri sudah keluar lama, dan ini reviewnya telat banget, maka daripada gue pake bahasa serius (kayak biasanya) padahal kalian udah nonton filmnya, mending santai aja.
Rata-rata film populer jaman sekarang itu cuman dibagi dua aja sih menurut gue; superhero dan adaptasi buku. Adaptasi buku juga bervariasi. Mulai dari adaptasi lepas kitab suci (I’m looking at you, Noah) hingga yang sekarang lagi nge-trend, adaptasi novel young adult. Banyak banget yang bisa gue sebutin, dari jamannya Bella Swan dilema milih pacaran sama serigala atau vampir, sekumpulan anak remaja saling bunuh-bunuhan, hingga yang paling baru ini Divergent. Tentang apa sih Divergent? Gue juga nggak tahu dan sempat nggak tertarik, sampai akhirnya penulis di sini juga nggak ada yang nonton dan gue bela-belain ke bioskop terdekat dari kosan untuk nonton Divergent di hari terakhirnya biar bisa nulis reviewnya.
Divergent ini diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Veronica Roth. And yes, ini bakal jadi franchise, bukunya sendiri ada 3, sedangkan filmnya bakal ada 4, karena seperti biasa part terakhir dipecah menjadi 2 film. Gue cukup yakin kalau sang penulis dapat ide ceritanya pas nonton/baca Harry Potter. Lo tahu kan adegan Harry pake topi buat nentuin dia bakal masuk jurusan mana? Si topi awalnya bingung antara Gryffindor atau Slytherin, sebelum akhirnya memutuskan buat masukkin Harry ke pilihan pertama.
That’s what Divergent is. Ceritanya bersetting di masa depan dystopia, alih-alih dunia sihir, para manusia dibagi ke 5 faksi. Tiap faksi mewakilkan sifat utama dari manusia; ada Amity (Senang), Candor (Jujur), Dauntless (Berani), Abnegation (Baik), Erudite (Pintar). Berdasarkan sifatnya tersebut, tiap faksi pun menempati sebuah peran dalam masyarakat. Kaum Dauntless yang berani, menjadi polisi, atau kaum Candor yang jujur, duduk di kursi hukum. Namun apa yang terjadi bila seorang manusia tidak bisa didefinisikan hanya dengan satu sifat? Hal inilah yang terjadi pada jagoan kita, Tris (Shailene Woodley). Dia adalah Divergent, sebuah kasus di mana seorang manusia memiliki lebih dari satu sifat yang dominan. Dan rupanya, ini adalah sebuah anomali yang berusaha dihapuskan oleh para penerap sistem faksi tersebut.

Gue nggak cukup banyak nonton atau baca genre young adult, tapi kalau gue bisa tarik satu ciri khasnya maka itu adalah: being the chosen one. Bella Swan kebetulan adalah satu-satunya orang yang pikirannya tidak bisa dibaca oleh Edward Cullen, Katniss Everdeen adalah orang yang menjadi simbol pemberontakan sistem distrik, dan sebagainya. Divergent tidak ada bedanya, dan tugas itu jatuh di pundak Tris. Sure, sekilas lo bakal ngerasa de javu dengan Hunger Games. Walau pun sebenarnya, dunia Divergent ini sendiri cukup seru untuk ditilik sendiri. Namun dari setting dystopian future hingga story-telling-nya yang young-adult-101 banget, memang bikin lo nggak bisa disalahin.
Genre young adult juga makin populer karena pada faktanya mereka adalah analogi dari kehiduapan dan society jaman sekarang. Divergent sendiri lumayan cetek bikin analoginya, karena cukup gamblang dibanding saudaranya sebelah. Kalau lo mahasiswa dan ngerasa salah masuk jurusan, lo bakal dengan mudah bisa nge-relate sama nih film. Apalagi kalau pas milih jurusan, lo bingung antara beberapa jurusan. Karena itulah maksud utama dari Divergent, nggak semua manusia bisa dikelompokkan hanya ke dalam 1 kategori. Manusia itu unik, memiliki banyak sifat, dan bakat. Buat gue sendiri, Divergent ini mudah banget untuk gue rasakan.
Cukup ngalor ngidulnya. Gue jujur enjoy nonton Divergent, meski durasinya lebih dari 2 jam, dan malah gue berani bilang ini lebih seru dari The Hunger Games (yang pertama). Sure, ini bukan sebuah hal baru di dunia perfilman. Tapi gue rasa, pas lo beli tiket juga udah tahu film apa yang bakal lo dapetin. Dan bila ekspektasi lo udah di-set seperti itu, seharusnya film ini tidak mengecewakan.


