Review: Omar (2014)

Saya kira kebanyakan penduduk lokal sudah tahu di mana Tepi Barat berada. Kita kerap mengetahui berita tersebut dari televisi, koran, radio, bahkan internet. Di jaman serba instan seperti saat ini, sulit untuk mempertahankan berita soal konflik di Palestina agar tidak melesat ke seluruh penghujung planet. Lagipula, Hany Abu-Assad punya kisah lain di balik perseteruan antara Palestina dan Israel di Tepi Barat — sebuah teritori yang dihuni oleh masyarakat Palestina serta Israel. Abu-Assad menyelipkan cerita cinta ala Romeo dan Juliet ke dalam dimensi yang berbeda dalam Omar.
Omar bukan cuma soal kontak senjata pasukan Palestina dengan Israel, melainkan jauh lebih personal tentang sang protagonis yang bernama sama dengan judul drama-thriller ala Palestina ini. Ia tawarkan sisi lain — sisi kelam Tepi Barat — dalam salutan romansa, persahabatan, perseteruan sekaligus kebebasan. Dan Omar (Adam Bakri) berdiri di antara keempat hal tersebut. Tragisnya, Omar hanya boleh memilih satu, lalu korbankan sisanya.
Setiap hari, Omar harus memanjat tembok tinggi Tepi Barat agar dapat bertemu sang tambatan hati, Nadia (Leem Lubany). Interaksi antara Omar dan Nadia di sini kerap terasa awakward (dalam makna positif), laiknya muda-mudi yang sedang kasmaran. Tidak cuma itu, sebagian besar adegan mesra mereka berdua terlihat manis. Namun, hidup Omar jumpalitan ketika ia dan dua sahabatnya, Tarek (Iyad Hoorani) dan Amjad (Samer Bisharat), harus memberanikan diri menyerang markas militer Israel. Jatuh ke genggaman musuh, ia harus memilih apa yang terbaik untuk hidupnya kelak.
Hal yang membikin saya mengernyitkan dahi adalah, bagaimana para aktor dan aktris yang baru pertama kali beradu akting ini sanggup menyuguhkan performa mapan mereka. Seakan-akan belum percaya soal ini, saya meluncurkan beberapa pencarian daring guna mengonfirmasi hal tersebut. Dan yang saya dapatkan memang benar demikian. Di sisi lain, film thriller tidak serta merta terlibat dalam seriusnya pertikaian Palestina-Israel, tetapi juga menyodorkan humor-humor yang membikin bibir tersungging. Di balik semua itu, Omar juga tidak lupa mengimbuh ketegangan demi ketegangan di banyak adegannya. Kamu bakal diajak “bertualang” melewati gang-gang sempit dan sudut-sudut lain di Tepi Barat.
Alhasil, Omar sukses menggedor untuk menjadi suguhan yang kocak, romantis, brutal sekaligus memilukan. Film yang ditangani oleh Abu-Assad ini lebih kelihatan seperti sebuah cerita cinta yang dibungkus thriller politis. Bukan cerita cinta picisan, melainkan cerita cinta yang mampu membikin hatimu terenyuh.
