Review: Oblivion (2013)

Siapa sih yang tidak suka genre sci-fi sekarang-sekarang ini? Terutama untuk kalangan umur 20, film-film sci-fi ini seperti magnet mereka untuk ke bioskop. Tidak heran, bila genre ini adalah peraup untung terbesar tiap tahunnya. Selain dalam bentuk kemasan film superhero, film sci-fi juga ada yang datang dari ide original atau yang keseringan, adaptasi dari buku atau komik. Ya, seperti yang satu ini.
Oblivion, adalah salah satu dari beberapa film yang banyak diantisipasi kalangan moviegoers tahun ini. Bagaimana tidak, film adaptasi komik ini mengawinkan Tom Cruise (yang notabene adalah garansi box office) dengan sebuah film boros visual efek berbujet besar. Dan berhubung tahun ini masih muda, saya dengan mudah bisa mengatakan bahwa Oblivion adalah film sci-fi terbaik tahun 2013 sejauh ini.
*review di bawah mengandung spoiler ringan*
Awalnya saya tidak peduli dengan Oblivion (dan World War Z dan After Earth), film ini terlihat seperti another big budget action sci-fi movie dengan plot dangkal. Apalagi trailernya juga tidak terlalu menjanjikan. Akibat Blitz yang selalu menayangkan trailernya di semua film, saya pun lama-lama muak. Tapi karena saya ingin sekali mereviewnya, jadilah saya tonton di hari pertama.
Dan reaksi pertama saya adalah, “Trailernya ini adalah salah satu bagian terbaik Oblivion”. Karena, apa yang ditawarkan film ini dalam durasi 2 jamnya berhasil mengejutkan penonton akibat trailernya yang cenderung misleading. Banyak sekali twist-twist yang ditawarkan, hal ini dengan rapih tertutup oleh trailernya. So first of all, good job, trailer!

Oblivion bersetting di dunia masa depan, seperti kebanyakan film sci-fi. Di sini, diceritakan bumi hancur akibat perang melawan alien beberapa tahun yang lalu. Perang memang dimenangkan oleh kaum Adam, namun, seluruh manusia dievakuasi ke Titan, salah satu bulan Saturnus. Tidak ada lagi manusia di bumi, kecuali Jack Harper (Tom Cruise) dan Vika (Andrea Riseborough) yang bertugas untuk mereparasi para robot-robot di bumi (This sounds like mature version of Wall-E). Robot ini bertugas untuk membasmi sisa-sisa alien yang masih ada di bumi pasca perang. Namun beberapa kejadian membuat Jack Harper mulai meragukan dirinya. Tentang kejadian perang, tentang pekerjaannya, hingga tempat ia berpihak. Apakah ia berada di pihak yang benar, atau salah?
Tentunya bila Anda mencari info tentang film ini Anda akan menemukan nama Morgan Freeman sebagai Beech dan Olga Kurylenko sebagai Julia. Siapakah mereka? Lebih baik itu menjadi kejutan tersendiri.
Oblivion, ternyata memiliki misteri yang cukup dalam dan tidak sesimple yang ditawarkan oleh trailernya. Perlahan kita mulai mendapat bongkahan puzzle dari kejadian-kejadian dahulu. Jack Harper yang sering mengalami flashback juga sedikit demi sedikit memberi clue buat penonton. Penonton seperti diajak bermain teka-teki, dan Joseph Kosinki (Tron: Legacy) sebagai sutradara tidak mau langsung menyuapi penonton banyak-banyak. Semuanya dicicil hingga akhir, membiarkan para penonton untuk menebak-nebak terlebih dahulu.

Walau begitu, Oblivion dimulai cukup monoton, 30 menit pertamanya membuat saya sedikit bosan. Ketika karakter Morgan Freeman dan Olga Kurylenko mulai masuk film ini sesungguhnya baru seru. Kehadiran Tom Cruise berperan besar dalam menahan kantuk, karena memang kharismanya tidak terbantahkan, terutama di scene-scene awal di mana ia lebih sering sendirian.
Ada juga secuil drama dalam Oblivion yang lebih fokus kepada hubungan Jack dan Julia. Menurut saya ini juga hal yang jarang ditemukan dalam film action budget besar. Biasanya cinta hanya hadir sebagai bumbu, tapi apa yang ditawarkan Oblivion buat saya meyakinkan dan disajikan dengan sangat baik.
Tentunya, sebuah kewajiban buat Oblivion untuk menawarkan visual menawan. Dan itu berhasil! Oblivion sangat mengagumkan, mulai dari design-design pesawat, rumah, kostum, hingga tembak-tembakannya sangat memanjakan mata. Tontonlah sebisa mungkin di bioskop dengan layar terlebar. IMAX recommended.

