Review: Ernest & Celestine (2014)

Adalah lucu, ketika saya tahu bahwa tikus kecil perempuan yang hidup bersama spesiesnya di gorong-gorong bernama Celestine (Pauline Brunner). Pun spesiesnya begitu takut dengan “dunia atas” — sebuah kota yang dihuni oleh beruang-beruang yang berlagak bak manusia biasa, Celestine justru pernah bermimpi untuk hidup berdampingan dengan beruang, yang notabene diklaim sangat buas oleh warga “dunia bawah.” Lebih-kurang sama seperti Ernest (Lambert Wilson), seekor beruang yang hidup menyendiri dan kesepian di “dunia atas,” tikus imut bernama Celestine itu juga hampir tidak pernah bergumul dengan teman-teman sebayanya. Hingga suatu hari, Ernest dan Celestine harus bertemu di persimpangan jalan. Namun, mereka juga harus merasakan bahwa persahabatan akan diuji suatu saat kelak.
Ernest & Celestine punya ragam animasi yang berbeda dari apa yang biasa kamu lihat selama ini. Film animasi yang digawangi oleh Stéphane Aubier, Vincent Patar dan Benjamin Renner memiliki rasa nostalgia yang terbilang agung. Kalau kamu pernah menonton film-film animasi klasik, rasa nostalgik itu akan muncul kembali dalam benak. Sebab, pondasi utama film berdurasi 80 menit ini adalah penggunaan palet cat air. Bak lukisan hidup, karakter-karakter di dalamnya berinteraksi sambil diiringi oleh soundtrack berirama jazz. Dengan begitu, Ernest & Celestine tidak hanya akan disukai oleh kalangan anak-anak, tetapi juga dewasa. Meski demikian, saya pikir ia lebih cocok menjadi film pendek daripada layar lebar, karena menjelang akhir terasa agak dipanjangkan.
Alhasil, Ernest & Celestine bisa menjadi pembelajaran yang ampuh bagi masyarakat kekinian. Kisahnya yang menggabungkan unsur stereotip, prejudis dan diskriminasi, terbilang mumpuni untuk mengarahkan kita bagaimana kita semua seharusnya menyikapi perbedaan. Dengan pesan moral yang kuat, ia berhasil menjadi salah satu film animasi favorit saya tahun ini.
