Review: Stage Fright (2014)

Horor musikal bukanlah barang umum yang kerap kita temui. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Namun, jangan khawatir, tahun ini kita kedatangan satu. Di sini, Jerome Sable terlalu berambisi untuk mengombinasikan keceriaan Glee dan kebrutalan Scream. Saya tidak mempermasalahkan kombinasi tersebut. Akan tetapi, bagaimana Sable mengombinasikan kedua hal tersebut tentu sudah menjadi cerita lain. Ia terkesan murahan untuk mengeksploitasi keduanya.
Saya tidak tahu dan tidak peduli apakah Stage Fright punya hubungan dengan film pendahulunya yang berjudul sama dan dirilis puluhan tahun silam. Premis yang diusungnya tidak basi, tetapi bagaimana plotnya dieksekusi-lah yang menjadi problem. Dengan embel-embel “berdasarkan kisah nyata,” film yang rilis pada tahun ini mengisahkan tentang seorang pembunuh yang berkeliaran di sebuah teater, dan melibas para pelakonnya satu per satu. Sepertinya, ia hidup dari generasi ke generasi.
Stage Fright tampak dibuat secara asal-asalan. Dari mulai pembunuh berdarah dingin yang sama sekali tidak sanggup unjuk gigi, hingga para barisan pemeran yang juga sama impotennya. Mereka cuma mampu bernyanyi riang gembira tanpa makna. Bahkan, sang protagonis juga dirundung problem karakterisasi yang inkonsisten; objektifnya tidak jelas.
Dan, yang lebih parah lagi, Stage Fright menderita krisis identitas yang masif. Ia terlalu banyak menghujani penonton dengan adegan-adegan yang tidak signifikan. Bukan cuma itu, rasa sinetronistis di dalamnya juga membikin saya hampir mati kebosanan. Untungnya, saya berhasil bertahan — meskipun pada akhirnya saya merasa baru saja dihantam palu keras tepat di kepala. Nyeri.
Selamat! Stage Fright terbit sebagai salah satu horor rongsok tahun ini. Rasa sinetronistis di dalamnya membuatnya terjun bebas tanpa parasut ke dalam jurang berbatu yang dalam. Dan biarlah ia mati di dasar sana.
