Review: Killers (2014)
Duet sutradara Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto atau yang lebih dikenal dengan nama The Mo Brothers mulai populer saat debut film panjang pertamanya, Rumah Dara, menuai sukses pada tahun 2010. Setelah itu, karya mereka selalu dinantikan, tentunya dengan ekspektasi yang tidak rendah. Sebelum Killers lahir sebagai feature film kedua mereka, Timo, sendirian, menyutradarai segmen “L” dalam antologi The ABCs of Death yang sangat what the fuck dan juga berduet dengan Gareth Evans (The Raid) dalam segmen “Safe Haven” di V/H/2 yang tidak kalah sakitnya. Kini Timo kembali lagi bersama dengan Kimo lewat Killers, dan ekspektasi tidak pernah setinggi ini.
Walaupun sama-sama berhasil menembus Sundance Festival tahun ini dengan The Raid 2: Berandal, Killers sayangnya tidak bernasib sebaik saudaranya. Respon penonton yang lebih divisif sempat membuat saya khawatir bahwa saya berharap terlalu banyak. Dan benar saja, Killers, tidak segila yang saya bayangkan.
Tunggu dulu, buat beberapa penonton khususnya audiens lokal, Killers jelas bukan your-everyday-movie. Terlihat sekali memasuki beberapa menit film dimulai, ketika sebuah palu sudah mulai menghantam kepala seorang perempuan, penonton di sebelah kanan dan depan saya sudah bergumam “Salah nonton film gue”. Dan tidak perlu sampai setengah film berjalan, 4 orang keluar studio dan tidak pernah kembali.

Killers bercerita mengenai pertemuan seorang pembunuh/psikopat asal Jepang bernama Shuhei Nomura (Kazuki Kitamura) dengan wartawan asal Indonesia yang hidupnya tengah hancur dari segi karir maupun keluarga, Bayu Aditya (Oka Antara). Nomura senang sekali merekam proses pembunuhan sadis korban-korbannya ke internet yang kemudian, tentunya, ditonton oleh Bayu. Tanpa disadari, Bayu memiliki sebuah ketertarikan terhadap pembunuhan. Hal ini semakin kentara ketika akhirnya Bayu secara “tidak sengaja” membunuh dan kemudian ikut merekam korbannya. Yang terjadi selanjutnya adalah pembunuhan demi pembunuhan dari kedua pemeran utama kita yang sama-sama sadis.
Harus diakui, Killers ini cantik bukan main. Dari segi teknikalnya, The Mo Brothers jelas lebih serius menggarapnya. Sinematografi yang dingin dipadukan dengan scoring apik dari tim The Raid, Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi, bermain sangat baik untuk menjaga tensi tingginya dalam balutan alur nan lambat. Akting sadis Kazuki Kitamura dan juga jajaran castnya juga adalah nilai plus untuk Killers. Tapi sayangnya, it gets old too fast.
Di tengah film, saya kehilangan interest terhadap cerita dan karakter-karakternya. Kurangnya development terhadap backstory dari Bayu maupun Nomura adalah hal pertama yang mengganggu saya meskipun masih bisa diabaikan. Tapi dalam durasinya yang lebih dari 2 jam, Killers ini terlalu membuang-buang waktu. Saya pun berakhir bosan, untung saja filmnya cantik dan castnya bermain bagus. Tapi ketika beberapa kebodohan mulai muncul di tengah film, Killers sedikit demi sedikit berkurang poinnya di mata saya. Really? 20 lebih orang bodyguard nggak bisa nangkep 1 orang pembunuh amatir di hotel? Kalau ini film komedi, ya tidak apa-apa. Belum lagi endingnya yang dieksekusi begitu jeleknya, tidak berimbang dengan segala keindahan yang ada sebelumnya. Saya tahu, Indonesia ini masih terbelakang sekali visual efeknya, makanya jangan ngotot mau menampilkan adegan yang membutuhkan peran besar CGI. Yes, I’m also talking to you, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebanyakan audiens mungkin justru bermasalah dengan level kesadisannya yang menurut saya justru biasa saja. Darahnya tidak sebanyak Rumah Dara karena Killers dari awal memang ditargetkan untuk menjadi psychological thriller. Alih-alih membuat kalian ketakutan oleh gore-nya, Killers lebih senang membuat penontonnya frustasi. Sayangnya, penontonnya tidak peduli.


