Review: The LEGO Movie (2014)

Hollywood sudah membuat film adaptasi dari mainan seperti Battleship, Transformers, dan G.I. Joe kenapa tidak sekalian membuat film tentang LEGO? Meski terdengar film ini dibuat hanya sekadar meraup untung saja, tapi ternyata The LEGO Movie digarap dengan serius dan memiliki formula tepat serta semua elemen penting sebuah film animasi.
Kalian bukan orang pertama yang bertanya, “Ceritanya tentang apa?” Saya bahkan tidak tahu film ini mau jadi apa hingga masuk ke dalam studio. The LEGO Movie bisa dengan mudah berakhir sebagai iklan mainan berdurasi 100 menit, tapi di tangan duo sutradara Phil Lord & Christopher Miller (Cloudy with a Chance of Meatballs, 21 Jump Street) justru berakhir sebagai tontonan menghibur, lucu, yang juga sarat nilai moral.
Emmet (Chris Pratt) adalah seorang tukang bangunan biasa yang selalu menjalani rutinitas sehari-harinya berdasarkan instruksi yang diberikan. Hidupnya sangat teratur dan normal hingga keberadaannya pun tidak diperhatikan oleh orang sekitarnya. Hingga suatu hari Emmet menemukan “Resistance Piece” yang, menurut sebuah ramalan, menjadikannya orang terpilih. Bersama dengan Wyldstyle (Elizabeth Banks), Vitruvius (Morgan Freeman), dan Batman (Will Arnett), Emmet berusaha untuk menyelamatkan dunia dari ancaman President Business (Will Ferrell).

Sekilas ceritanya adalah repetisi dari from-zero-to-hero yang sudah terlalu sering digunakan. Namun, bagaimana hal tersebut dieksekusi lewat naskah yang jenaka serta tempo yang sangat cepat menjadikannya film yang sangat menyenangkan. Ditambah pula oleh cameo-cameo karakter populer yang lisensinya kebetulan dipegang oleh LEGO dan Warner Bros seperti Superman, Green Lantern, Wonder Woman, Gandalf, Dumbledore, Robin Hood, dan lain-lainnya makin membuat anak kecil kecanduan dengan film yang satu ini. Belum lagi nilai-nilai moral yang tersembunyi di baliknya sekaligus merupakan sindiran bagi para pemain LEGO untuk menjadi lebih kreatif. Benar saja, jaman dahulu dengan bata-bata LEGO hampir semua hal bisa dibuat, namun anak-anak sekarang lebih suka untuk mengikuti secara persis instruksi dan tidak membiarkan imajinasinya mengambil alih.
Jangan dilupakan juga animasinya yang inovatif. Dikabarkan menggabungkan teknologi CGI dengan stop-motion, tiap potongan LEGO hidup di layar dan tiada hentinya untuk membuat kagum penonton. Menonton film ini seperti masuk ke dalam ruangan dari kolektor setia LEGO. Kekakuan dari potongan mainan ini justru menjadi selling point dari animasinya. Bayangkan ombak laut atau ledakan yang terbentuk dari bongkahan LEGO. Tidak heran, penonton di sebelah saya menutup mulutnya sepanjang film.
Dan pemberian twist besar mendekati akhir cerita hanya kian melengkapi film ini sebagai satu paket film keluarga yang bisa dinikmati oleh anak kecil hingga dewasa. Sebuah nostalgia terhadap bongkahan bata yang dulu menjadi mainan sehari-hari dan kini telah menjadi salah satu film animasi terbaik yang pernah ada.

