Review: RoboCop (2014)
Saya ingat pernah menonton RoboCop (1987) dan RoboCop 2 (1990) saat masih kecil dahulu. Sayangnya tidak banyak yang masih melekat di memori saya selain premis utamanya yaitu polisi yang hampir mati digabung dengan robot. Maka, ketika kabar bahwa reboot dari RoboCop akan dibuat, tentu saja saya menantikannya. Di masa-masa mewabahnya film superhero, RoboCop bisa dengan mudah menjadi salah satu bagiannya.
Reboot RoboCop ini memutuskan untuk menghilangkan elemen kesadisan dari versi terdahulunya. Tentu saja dengan menerapkan rating PG13, lebih besar pasar audiensnya yang ujungnya berimbas dengan pemasukan yang lebih banyak. Hal ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan franchise ini. Karena bila film pertamanya saja sudah gagal di Box Office, maka akan sulit sekali mendapatkan lampu hijau untuk sekuelnya dan berakhir menunggu untuk di-reboot beberapa tahun kemudian. Dredd adalah contoh yang pas, meski dipuji secara kritik tapi kegagalan finansialnya justru menjadi boomerang untuk franchisenya. Sangat sulit untuk memasukkan elemen gore ke dalam sebuah film pahlawan, karena akui saja, film superhero adalah tontonan anak kecil masa kini. Tapi perlu dicatat, untuk membuat sebuah film yang dark/gritty tidak perlu selalu sadis dan banjir darah. Tengok trilogi The Dark Knight.
Pada tahun 2028, sebuah perusahaan multi-nasional, OmniCorp, telah memproduksi robot-robot perang yang digunakan di penjuru dunia, kecuali Amerika. Hal ini dikarenakan oleh diterapkannya UU Anti Robot yang berdasarkan kepada fakta robot tidak memiliki perasaan dan tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah. Raymond Sellars (Michael Keaton), selaku CEO memiliki ide, bila mereka bisa menggabungkan manusia dengan robot, maka UU anti robot bisa dicabut dan Omnicorp dapat meraup untung yang sangat besar.

Lalu, kita bertemu dengan Alex Murphy (Joel Kinnaman), seorang polisi jujur yang berusaha untuk mengungkap kebejatan di dalam departemen polisi Detroit tempatnya bekerja. Namun, malangnya hal ini justru membuatnya menjadi incaran dan hampir terbunuh usai mobilnya meledak di rumahnya sendiri. Praktis hanya sekitar 20% bagian badan Alex yang tersisa dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya adalah ikut berpartisipasi dalam program OmniCorp, menjadi RoboCop.
Reboot ini lebih rapi dalam menutup lubang-lubang ilmiahnya dengan memberikan penjelasan-penjelasan pseudo-scientific tentang pembuatannya. Mengapa RoboCop bisa seefisen mesin perang dan tidak termainkan emosinya persis seperti robot perang dijelaskan di sini. RoboCop bahkan kini harus cuci darah, sesuatu yang tidak ada di versi sebelumnya (correct me if I’m wrong). Hal-hal seperti ini esensial sekali bagi para pencinta sci-fi.
Sayangnya, film ini juga tanpa cela. Hal pertama yang mengganggu adalah buruknya pacing pada beberapa adegan. Seperti evolusi Alex menjadi RoboCop yang garing banget. Ini adalah salah satu momen terpenting tapi justru berakhir anti-klimaks dan biasa-biasa saja. Lalu sering sekali José Padilha, sebagai sutradara, terasa bingung ingin membawa fokus cerita ini kemana. Terlalu banyak plot yang berjalan bersamaan dalam durasi dua jamnya.

Di satu sisi, kita punya OmniCorp yang berusaha membuat UU Anti Robot dicabut. Lalu ada Alex dan keluarganya yang harus beradaptasi ulang dengan keadaan. Ada pula korupsi di dalam kepolisian Detroit beserta dengan para penjahat yang membuat Alex hampir terbunuh di awal film. Belum lagi ditambah konflik di dalam diri Alex sendiri. Bahkan film ini tidak jelas ingin menjadikan karakter mana sebagai penjahat utamanya. Di awal film kita punya Antoine Vallon (Patrick Garrow) yang awalnya terlihat begitu berkuasa dengan menyuap polisi sana-sini. Tapi tidak lama RoboCop muncul di jalanan, ia pun mati. Lalu ada Mattox (Jackie Earle Haley) yang terlalu dipaksakan menjadi villain hanya karena tidak suka dengan RoboCop. Dan tentunya Raymond Sellars yang dari awal tujuannya memang uang, tapi toh ia pun baru menjadi jahat mendekati ujung film.
RoboCop bisa jadi lebih baik andai saja tahu dari awal arahnya mau kemana. Saya suka pendekatan konflik batin Alex Murphy yang seringkali berada di antara menjadi manusia atau robot, karena itulah RoboCop. Dan dari sana, film bisa dibuat menjadi lebih kelam, tapi orang-orang dibalik layar hanya menyentuh permukaannya saja dan lebih senang membuatnya sebagai popcorn-action-movie.
Dengan semua kekurangannya, saya seharusnya membenci film ini, tapi saya tidak bisa bohong bahwa saya sangat menikmati sekali saat menontonnya. Khususnya adegan-adegan actionnya yang digarap sangat baik plus visual efek yang melebihi ekspektasi saya. Para jajaran cast-nya bermain cukup baik dengan Gary Oldman keluar sebagai aktor terbaik sepanjang film. Joel Kinnaman awalnya terlihat canggung namun berakhir bermain memuaskan. Soal kostum hitam yang awalnya dianggap sesat juga ternyata bagus ketika dipakai ketika berantem. Ya, kostum klasik abu-abunya masih ada di sini. Bahkan versi 80-nya sempat nongol sebagai easter eggs beserta beberapa nod kepada versi originalnya seperti theme song dari Basil Poledouris yang masih dipakai.
RoboCop bukanlah reboot terbaik. Mengambil arahan berbeda, namun tetap menghormati versi originalnya. Ini adalah sebuah awal baru bagi kisah Alex Murphy yang lebih mengikuti trend film masa kini namun tetap seru. Mari berharap sekuelnya segera dibuat dan digarap lebih baik.


