Shadia’s Top 10 Films of 2013
Saya tidak akan bilang terbaik karena bisa saja apa yang menurut saya terbaik belum tentu berlaku buat orang lain dan terbaik sendiri sangat luas cakupan dan konteksnya sehingga untuk daftar seperti ini, kata pilihan akan jauh lebih tepat. Bagi saya, tahun 2013 merupakan tahun di mana film-film yang muncul sangat beragam jenisnya, mulai dari yang diagung-agungkan sampai yang hilang hanya dalam jangka waktu 5 hari. Banyak yang berhasil memikat saya, tapi beberapa berhasil membekas secara lekat di diri saya. Inilah 10 di antaranya:

2 Guns (Baltasar Kormákur)
Country: Amerika Serikat
Tidak berharap terlalu banyak ketika masuk bioskop karena saya pikir akan mirip-mirip dengan film action Hollywood kelas B dengan anggaran minim yang dibuat asal-asalan, tapi ketika selesai menonton, entah mengapa saya merasa puas dan sangat terhibur, terutama dari sebuah film yang sekilas tidak terlalu terdengar promosinya. Saya sangat menikmati acting pasangan Denzel Washington dan Mark Wahlberg yang mencoba membongkar sindikat narkoba Meksiko. Banyak dialog lucu dan konyol yang dilontarkan secara pas, tidak berlebihan dan tepat momen sehingga film ini tidak saja hanya melulu soal action, tapi juga komedi. Bukan sebuah film yang sempurna, tentunya, tapi film ini berhasil membuat keyakinan saya kembali muncul bahwa film semacam ini tentu bisa digarap dengan baik dan serius.

Pacific Rim (Guillermo del Toro)
Country: Amerika Serikat
Jujur saja, saya pribadi bukan penggemar film-film bertemakan robot, mecha dan monster. Biasanya saya lebih memilih untuk menolak tawaran menonton film-film seperti ini. Tapi Guillermo del Toro berhasil membuktikan bahwa dia bukanlah sutradara yang sembarangan dalam membuat film tentang mecha dan monster. Kisah tentang perjuangan Raleigh Beckett dan para pilot mecha lainnya dalam memperjuangkan Bumi dari penyerangan kaiju dibalut dengan sangat stylish tapi juga tidak melupakan unsur utama dari film itu sendiri: ceritanya. Maka ketika keluar dari bioskop sesudah menonton film ini, saya berharap suatu saat nanti bisa akan ada wahana Pacific Rim di taman hiburan karena saya tidak sabar untuk segera menjadi pilotnya. Well done, Guillermo del Toro.

Wadjda (Haifaa Al Mansour)
Country: Arab Saudi/Jerman
Film kolaborasi Arab Saudi-Jerman pertama yang saya tonton dari seorang sutradara perempuan yang ternyata juga merupakan sutradara perempuan pertama di Arab Saudi. Wadjda menawarkan realita keadaan Arab Saudi yang membuat saya, sebagai seorang perempuan, terkaget-kaget ketika menontonnya. Berkisah tentang Waad Mohammed sebagai Wadjda, seorang anak perempuan yang ingin membeli sepeda, film ini memperlihatkan posisi perempuan di masyarakat Arab Saudi, yang sedikit banyak dianggap kelas kedua, dari kacamata seorang perempuan. Film ini bahkan berhasil menyajikan hal yang lebih luas dari premis ceritanya: pada kenyataannya di Arab Saudi, hak dan kebebasan perempuan sangat dihalangi, bahkan hanya untuk naik sepeda.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Mouly Surya)
Country: Indonesia
Ya, saya tidak memisahkan film ini dari daftar film pilihan mancanegara saya, karena Mouly Surya sendiri sudah membuktikan kepada kita semua bahwa filmnya pantas dan memang ada di level tersebut. Inilah film pertama Indonesia yang berhasil tembus ke Sundance Film Festival. Sebenarnya cerita film ini adalah tentang kisah cinta anak SMA, tapi bagaimana film ini dirajut membuat para penontonnya harus keluar dari zona nyaman mereka ketika menonton film drama romance pada umumnya. Ketiga karakter utama adalah anak-anak berkebutuhan khusus, tapi tidak menjadikan kita harus mengasihani mereka dengan kekurangan mereka, melainkan kita dibawa untuk bersimpati dengan karakter-karakternya. Jangan lewatkan juga musik dan sinematografinya yang sangat memanjakan telinga dan mata kita.

Ilo Ilo (Anthony Chen)
Country: Singapura
Dengan latar belakang hidup saya selama ini, ketika menonton film Ilo Ilo, saya merasa sangat mudah untuk terhubung dengan ceritanya. Premisnya simple: tentang bagaimana seorang perempuan Filipina yang merantau ke Singapura dan bekerja pada satu keluarga Tionghoa di sana harus berhadapan dengan anak laki-laki mereka yang nakal. Di sisi lain, film ini juga menuturkan masalah-masalah yang dihadapi keluarga tersebut. Penuturannya yang sederhana membuat saya merasa seakan-akan saya juga bagian dari mereka; lebih tepatnya, saya merasa ada bagian diri saya yang sama seperti Jiale, si anak laki-laki. Kekuatan hubungan antara Jiale dan Teresa, sang pembantu, juga amat sangat baik dan believable sehingga terasa nyata. Tidak heran film ini sudah berkeliling ke berbagai festival film internasional, termasuk memenangkan Camera d’Or di Cannes International Film Festival 2013.
Klik untuk melihat 5 besar film 2013 pilihan Shadia
