Review: World War Z (2013)

Jujur saja, World War Z masuk ke dalam list ‘film budget besar yang tidak saya tunggu tahun ini’. Sampai akhirnya teman-teman di twitter membuat saya penasaran. Malah ada yang mengatakan ini lebih seru dari Man of Steel. Jadilah saya menonton WWZ hari Jumat, ngaret 2 hari. Lebih baik dari Man of Steel? No. Tapi jelas lebih baik dari perkiraan saya.
Trailernya yang sudah rilis sejak lama tidak menawarkan hal yang menarik. It’s a zombie-apocalypse thingy. Sesuatu yang sudah kita dapatkan dari serial Walking Dead. Hanya saja kali ini skalanya lebih besar dan terang-terangan, toh ada bujet besar di belakang ini semua. Semuanya terkesan biasa sembari membiarkan penonton tidak tahu terlalu banyak tentang ceritanya.
Sama seperti Gerry (Brad Pitt) yang tidak tahu terlalu banyak tentang apa yang terjadi di bumi saat ini. Saat sedang berkendara di dalam mobil bersama istrinya (Mireille Enos) dan kedua anaknya, tiba-tiba Amerika diserang oleh zombie. Dan sama seperti cerita lainnya, ini semua dimulai dari virus flu burung yang bermutasi dan all that pseudo-science yang tidak butuh dijelaskan. All we know, it’s zombie’s time!

Gerry yang ternyata pernah bekerja untuk PBB direkrut kembali untuk membantu menyelesaikan masalah ini semua. Sebagai imbalan, keluarganya akan diberi perlindungan oleh pemerintah. Dan selama 2 jam ke depan kita akan melihat Brad Pitt wara-wiri keliling dunia mencari solusi dari semua kehancuran ini.
Yang seru, World War Z ini berakhir menjadi campuran dari Left 4 Dead dan Walking Dead. Menggunakan kegelapan dan faktor ngagetin, World War Z memberikan pengalaman menonton yang seru. At times, kalian akan merasa seperti sedang bermain game melawan zombie. Dan pada saat lainnya, aura Walking Dead kental terasa. Hanya saja, sayangnya, WWZ mengincar rating PG-13 dan menghilangkan elemen gore yang menurut saya adalah faktor penting dalam film zombie.
Jatuhnya nanggung. Mungkin WWZ memang dihidangkan sebagai introduction to zombies movie untuk anak kecil dan remaja. Karena mereka memang menggambarkan zombie dengan benar dan seru, tapi tidak sadis. Jangan lupakan juga endingnya yang anti-klimaks dan membuat film 2 jam ini terasa hanya seperti foreplay. Buat saya sih, ini kurang. Akhirnya, World War Z adalah hiburan 2 jam yang benar-benar berakhir ketika lampu bioskop nyala. Setelah itu, tidak ada yang tersisa lagi di penontonnya.
Reaksi pertama saya: “Udah, gini doang?”

