Review - Transformers: Age of Extinction (2014)

Menonton Transformers itu seperti merokok. Terlihat keren memang dan semua orang sepertinya melakukannya. Jadi kita pun tertarik untuk mencobanya pertama kali. Terlepas dari suka atau tidak, saya rasa kita bisa setuju bahwa itu adalah sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah kita rasakan. Beberapa orang yang suka pun akhirnya akan kecanduan, meski tahu betul ada rasa sesak di dada. Entah itu karena asap, nikotin, atau karakternya yang menyebalkan. Tapi mereka tidak peduli, because it looks fucking cool.
Beberapa waktu berlalu, orang-orang yang belum yakin betul dengan opininya, kembali mencoba lagi. Dengan embel-embel marketing yang menjanjikan bahwa “bigger is better“, mereka kembali ke bioskop. Mereka kembali ke bungkus kedua. Anggaplah yang pertama adalah Sampoerna Mild, sekuelnya adalah Magnum Filter yang hingga di suatu titik perjalanan kalian akan bertanya, “Woy kapan habisnya?”. Tapi, sama seperti sebelumnya, beberapa orang pun menyukainya. Namun, pada tahap ini, mereka yang tidak menemukan kesenangan di dalamnya seharusnya berhenti mencoba.
Tapi mereka kembali lagi, untuk jilid ketiga, untuk film ketiga. Bahkan, hingga seri keempat, padahal sudah tahu apa yang ditawarkan kurang lebih sama dengan sebelumnya. Dan bila kalian masih membencinya, siapakah yang patut disalahkan?

Sialnya, produk seperti ini menghasilkan banyak uang, jadi mereka tidak akan pernah berhenti membuatnya. Kitalah sebagai konsumer yang harusnya lebih pintar dalam memilih. Transformers: Age of Extinction dengan jajaran pemain barunya mungkin terlihat sebagai sebuah clean-slate untuk franchise adaptasi mainan ini. But, really, itu semua hanyalah bungkus baru dari sebuah rokok lama. Mungkin lebih baik daripada 2 bungkus sebelumnya, tapi tidak jauh berbeda dari yang sudah-sudah.
Perbaikan sedikit terasa di sana-sini. Lockdown sebagai sang musuh jauh lebih menarik dibanding Megatron. Visual efek dan pertempurannya tentunya berkembang menjadi lebih baik dan akan memanjakan mata. Terutama penampakan Dinobots yang mencuri perhatian di 30 menit terakhir. Mark Wahlberg yang menggantikan Shia LaBeouf sebagai pemeran utama pun bisa dianggap sebagai sebuah kelebihan dan juga bukti; bahwa penonton tidak pernah peduli dengan karakter di dalamnya.
Bayangkan bila suatu hari nanti Robert Downey Jr. berhenti menjadi Tony Stark dan harus diganti dengan aktor lain. Sulit bukan? Pastinya juga hal tersebut akan memicu kontroversi dan nada sumbang, seperti layaknya Ben Affleck yang sekarang sedang mewarisi jubah Batman milik Christian Bale. Tapi tidak di sini, penonton legowo saja dengan perubahan ini. Karena mereka tidak pernah peduli dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Yang mereka pentingkan hanyalah fakta bahwa “Ini terlihat keren”.

Jadi, sebenarnya kalian juga tidak butuh saya untuk menganjurkan/tidak menganjurkan film ini untuk ditonton apa tidak. Karena kalian sendiri sudah tahu jawabannya. Tiap seri Transformers adalah sebuah repetisi. Perubahan terbesar franchise ini sama efeknya dengan ganti merk rokok; beda rasa, sensasi, tapi sama-sama beracun dan berasap. Toh, kegiatan merokok tidak menawarkan sesuatu yang baru, namun orang-orang tetap saja melakukannya. Transformers: Age of Extinction juga begitu, bila kalian terhibur dengan 3 bungkus sebelumnya, besar kemungkinannya kalian akan suka dengan edisi terbaru ini.
Lagipula, hanya ada beberapa alasan mengapa orang terus berlanjut bertahan hingga ke jilid keempat. Pertama, mereka menyukainya¹. Kedua, mereka bertujuan menjadikan film berdurasi nyaris 3 jam ini sebagai batu loncatan sebelum akhirnya kuat menonton YKS yang berdurasi 4 jam, atau acara Idol selama 6 jam itu. Atau ketiga dan terakhir, mungkin saja, mereka hanya optimis yang kali ini akan lebih baik dari sebelumnya.
Saya tidak bilang bahwa franchise ini tidak bisa tampil berbobot suatu hari. Hal tersebut mungkin saja terjadi. Bahkan dari ending film yang ini sendiri, saya cukup yakin bahwa yang kelima (tahun 2016 nanti) berpotensi menawarkan sesuatu yang berbeda. Tapi, untuk saat ini, tidak. Karena, sekarang, seri Transformers sama seperti rokok. Terlihat keren, membuang waktu, dan, ya somehow relaxing, karena tidak perlu pakai otak.
DISCLAIMER:
Meski terlihat seperti sebuah ulasan akan pengalaman merokok, ini tetaplah ulasan dari menonton Transformers: Age of Extinction.²
¹ Mereka menyukainya. Bisa dibilang kecanduan, tapi mereka tahu betul apa konsekuensinya dan mereka menerima itu. Mereka sadar kok ceritanya hanya berupa tempelan, karakternya annoying, dan story-tellingnya yang lompat-lompat, mereka hanya memutuskan untuk tidak menggubris kekurangannya saja.
² Yaelah, serius amet, bro
