Review: Transcendence (2014)

Jauh sebelum Wally Pfister menggawangi Transcendence, ia adalah seorang sinematografer atas kreasi-kreasi Christopher Nolan. Mulai dari Insomnia (2002), Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), Inception (2010), hingga yang paling mutakhir, The Dark Knight Rises (2012). Entah, apakah ia “kerasukan” makhluk apa, mendadak ia memutuskan untuk duduk di kursi sutradara. Dari trailer perdana yang sudah banyak bertebaran, kelihatan sekali bahwa Transcendence merupakan sebuah proyek yang ambisius dari sutradara debutan asal Chicago, Amerika Serikat tersebut. Bahkan, sempat terpikir, dengan bujet menyentuh 100 juta Dolar AS, ia mungkin bisa menjadi thriller fiksi-sains sekaliber Inception — sebuah kreasi yang nyaris meraup untung dua kali lipat dari bujet yang digelontorkan.
Dr. Will Caster (Johnny Depp) dan istrinya yang cantik, Evelyn (Rebecca Hall), merupakan dua sejoli sekaligus ilmuwan sains yang terbilang fenomenal. Mereka berdua bekerja mengembangkan kecerdasan buatan, atau yang kerap disebut dengan terminologi artificial intelligence dalam bahasa Inggris. Namun, cita-cita mereka yang ingin menciptakan semesta yang jauh lebih baik tidak mendapat simpati dari setiap pihak, dan hal itu pun menjadikan mereka target para ekstremis klandestin yang siap menyerbu kapanpun, di manapun. Hampir tewas, Evelyn “terpaksa” mencoba untuk mengunggah kecerdasan suaminya ke sebuah komputer, lalu meneruskannya ke dunia maya agar tersebar ke seluruh penjuru planet biru. Sayangnya, Will telah berubah menjadi “mesin pembunuh” yang membahayakan seluruh umat manusia.
Premis yang ditawarkan oleh Jack Paglen dalam Transcendence terlihat begitu brilian. Akan tetapi, di layar perak, ia kelihatan kurang bergairah. Pertama, tempo yang naik-turun alias inkosisten-lah yang membuatnya demikian. Kedua, para karakter yang tersedia terkesan seperti “tempelan,” yang tidak punya pengaruh banyak pada keseluruhan plot. Contoh, Bree (Kate Mara), yang perannya sebagai kepala organisasi teroris tampak insignifikan. Dan beberapa karakter lain seperti Joseph Tagger (Morgan Freeman) maupun Buchanan (Cillian Murphy). Untungnya, Max (Paul Bettany) sedikit membantu.
Berantakan. Itulah kata yang sahih untuk merepresentasikan Transcendence secara keseluruhan. Meski demikian, saya masih menemukan kesenangan di balik plotnya yang predictable dan karakter-karakternya yang insignifikan. Pesan moral yang disampaikan cukup mengena masyarakat umum dan para pegiat teknologi dan informatika (TI) — meskipun filmnya sendiri kelihatan sekali bermain-main di lingkaran ketaksaan moralitas. Yah, anggap saja Transcendence sebagai versi inferior Inception.
