Review: The Expendables 3 (2014)

Dalam singkat kata, seri terbaru dari The Expendables ini tidak segreget seri keduanya. Absennya Chuck Norris bisa jadi adalah salah satu alasan utamanya. Tapi, kalau saya tulis begitu saja nanti ulasan saya bisa dianggap tidak serius. Walau, toh, sebenarnya franchise The Expendables juga tidak pernah bisa dianggap serius.
Saling jujur saja di sini, kalian dan saya tahu mayoritas penontonnya membeli tiket tidak berharap untuk mendapatkan film aksi yang inventif dan baru. Kalian membeli tiket karena ingin melihat sekumpulan om-om tua yang dulu adalah rajanya film action yang sudah kehilangan pamornya dan bergabung bersama untuk meraih setidaknya sebagian kejayaannya dulu.
Dan mari akui saja, cara mereka tidak pintar. Film The Expendables itu bodoh, tapi setidaknya di Expendables 2 mereka bisa membuat itu semua menjadi seru dan menyenangkan. Interaksi antara karakternya yang saling berguyon mengenai karakter-karakter yang pernah diperankannya sangat menarik untuk dilihat. Dan, belajar dari seri pertamanya, bila film mulai terlalu serius, maka satu-satunya hal yang bisa menolong tontonan ini pun lenyap.
Sayangnya, sang sutradara Patrick Hughes tidak belajar situ. Lebih disayangkan lagi karena konsep dasarnya yang cukup asyik bila dieksekusi dengan matang. Di sini Barney Ross (Sylvester Stallone) memutuskan untuk membubarkan tim om-om-tua-macho-penuh-steroidnya untuk membalaskan dendamnya terhadap Stonebanks (Mel Gibson), yang ternyata adalah salah satu sesepuh Expendables jaman dulu yang dikira sudah mati. Namun, untuk membunuh Stonebanks tidak mudah, dan karena tidak ingin membahayakan nyawa dari teman-teman tuanya, Barney memutuskan untuk membahayakan nyawa sekumpulan anak muda dan membentuk tim Expendables yang baru. Tembak sana-sini, bum, bum, dor, dan seperti sudah bisa ditebak, tim Expendables muda nantinya akan bergabung tim veterannya untuk menghabisi Mel Gibson.
Pada intinya, Expendables 3 ingin membuat roster-nya semakin besar dengan menambahkan sejumlah darah muda. Tapi, keseruan interaksi karakternya, atau bisa lebih dibilang chemistry antara pemainnya di sini benar-benar hilang. Ke mana semua dialog konyol tapi lucunya pergi? Yang tersisa hanyalah kebodohan demi kebodohan dari tiap karakternya yang mereka harap bisa membuat penonton tertawa.
Dan, tidak, saya memang tidak pernah mengharapkannya menjadi sebagai sebuah film yang intelektual. Tapi ketika semua itu ditambahkan dengan adegan aksi didominasi ledakan yang sangat hampa, keadaan hanya jadi semakin buruk.
Tapi, masih ada beberapa penyelamat film ini dari benar-benar kehancuran total, kok. Sebagai contoh, karakter Antonio Banderas yang annoying (but in a good way), mampu mencuri tiap adegan di mana ia muncul. Kemudian ada Mel Gibson yang meski diberi materi pas-pasan, mampu memberikan aura villain yang kuat dan mengancam. Eskalasi film yang menjadi sedikit lebih menarik menuju akhir juga berhasil membuat saya tetap bertahan menonton filmnya hingga akhir.
Sementara, Patrick Hughes, yang nanti akan menyutradarai remake The Raid, juga setidaknya memperlihatkan sedikit kelihaiannya dalam mengambil adegan hand-to-hand combat. Tapi ketika filmnya sendiri lebih berpihak pada ledakan yang lebih besar, kebodohan yang lebih signifikan, namun minim keseruan, Expendables 3 berakhir sangat tidak memuaskan.

