Review: 22 Jump Street (2014)

Ketika film 21 Jump Street yang merupakan reboot dari serial TV berjudul sama diumumkan, banyak skeptisme menyelimutinya. Namun, itu semua hilang ketika filmnya sendiri keluar. Saya sendiri, tidak terlalu heboh dengannya, dan cenderung kurang suka. Maka, ketika sekuelnya pun keluar, antusiasme saya tidak terlalu besar dan bahkan harus ‘dipaksa’ untuk datang ke bioskop. But, you know what, 22 Jump Street adalah - dan mungkin- film terlucu yang saya saksikan tahun ini.
Masih dengan karakter Jenko (Channing Tatum) dan Schmidt (Jonah Hill), duo gila favorit penonton, 22 Jump Street menggunakan formula yang sama dengan film pertamanya. Lagipula, premis dari seri Jump Street sendiri memang begitu. Sekumpulan polisi yang berwajah muda menyamar menjadi murid/mahasiswa ke dalam sekolah-sekolah dan universitas untuk membongkar sebuah kasus kepolisian. Di sini, mereka menyamar masuk ke dalam sebuah universitas untuk menangkap bandar narkoba.
Sekuel memang bukan hal baru di Hollywood, seketika sebuah film sukses, maka studio akan dengan cepat memberi lampu hijau untuk menjadikannya sebuah franchise berkelangsungan. Yang menjadi masalah adalah ketika ceritanya menjadi monoton dan merupakan pengulangan dari apa yang sudah ditawarkan sebelumnya. 22 Jump Street pun mengambil jalan tersebut, mengulang lagi apa yang sudah ada di 21 Jump Street. Namun, yang membuatnya menjadi spesial dan pintar adalah bagaimana jilid kedua ini sadar betul akan statusnya sebagai sekuel. Alih-alih menjadi sebuah repetisi, film ini malah mampu menyindir tren sekuel, mengkritiknya, sembari terjun ke dalam jurang yang sama.

Tidak perlu waktu lama untuk menyadarinya. Begitu film dimulai, secara sadar dan gamblang, dialog-dialog karakternya memberi tahu bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang persis sama. Karakter di dalamnya tahu, orang di belakangnya sadar, dan mereka juga secara terang-terangan ingin memberi paham yang sama terhadap para penonton akan hal itu. Lewat cara inilah, 22 Jump Street, dapat menyajikan sekuel dengan cerita sama tetapi dengan sentuhan yang berbeda. Like I said, smart.
Lagipula, plot bukanlah poin utamanya, melainkan adalah komedi yang akhirnya bisa diukur lewat parameter yang mudah, ‘Apakah penonton tertawa?’. Bukan main saya ketawa habis-habisan sepanjang film. Chemistry Tatum-Hill yang gila hingga terlihat bahwa mereka berdua adalah sahabat di dunia nyata adalah alasan pertama kenapa film ini sukses. Lalu, humornya yang menyentil banyak hal mulai dari kritik terhadap film-film Hollywood hingga referensi terhadap film lain sukses membuat saya terhibur. Begitu banyaknya referensi yang ada di film ini mulai dari Terminator, Wolverine, White House Down, Annie Hall, The Shining, Tokyo Drift, Spring Breakers dan masih banyak lainnya bahkan cukup untuk membuatnya sebagai sebuah meta. Bila kalian memang banyak menonton film-film yang disinggung di 22 Jump Street, saya yakin pengalaman menonton kalian akan jauh lebih seru.
Hal ini juga dibantu oleh kondisi studio saya saat menonton, penuh dan lebih menyerupai audiens stand-up comedy. Beberapa kali saya curi pandang hanya untuk melihat reaksi mereka, bahkan ada yang terbahak-bahak hingga badannya nyaris lepas dari kursi. Tidak semua orang akan jatuh cinta penuh dengan film yang satu ini, teman saya bahkan menganggapnya sedikit membosankan di tengah jalan, tapi tidak dengan saya. Sudah lama saya tidak tertawa selepas ini sejak Ted menyambangi bioskop Indonesia 2 ahun yang lalu.
Oh ya, jangan buru-buru beranjak dari kursi ketika film selesai, karena end-credits-nya sungguh kreatif (dan makin menyentil) serta ada juga post-credit scene di penghujung film.

