Review: Total Recall (2012)
Sebelumnya, mau bilang dulu kalau saya telat masuk studio 10-15 menit plus sama sekali belum pernah menonton versi aslinya yang tahun 1990 (well you guys do know this one is a remake, right?). Oke, mari kita masuk ke review.
Jadi setelah The Dark Knight Rises akhirnya tayang dan saya tonton hingga 3x, saya merasa hampa. Sempat berpikir untuk vakum blogging hingga tahun depan, saat Iron Man 3 keluar. Tapi ternyata, tiap kali saya keluar menonton sebuah film di bioskop, selalu ada rasa untuk menulis, dan kebetulan filmnya saat itu adalah Total Recall. Ya, film pertama yang saya tonton di bioskop, sejak TDKR.
Seperti sudah saya singgung, Total Recall ini adalah versi remake dari film ngetop tahun 1990. Saat itu yang main adalah Arnold Schwarzenegger. Tentu ada beberapa perbedaan mendasar, seperti setting tempatnya dan beberapa hal kecil, namun premise utamanya tetap dipertahankan. *ini sotoy banget, gue belom nonton versi aslinya*
Doug Quaid (Colin Farrell) adalah seorang buruh pabrik biasa, yang sudah menikah 7 tahun dengan Lori (Kate Beckinsale). Suatu hari ia pergi ke Rekall, suatu tempat yang bisa membuat fantasi terasa seperti realita. Menurut Harold (dari Harold & Kumar), yang secara ajaib bisa bekerja di Rekall, apa yang kita pikirkan berasal dari apa yang kita alami. Kemudian, dari pengalaman yang ditangkap oleh panca indera kita, akan dikirim sebuah senyawa kimia menuju otak, kemudian otak dapat mengerti apa yang sebenarnya kita alami. Di Rekall, mereka langsung memberi pasiennya senyawa kimia tersebut, terserah apa yang mereka inginkan. Kebetulan, Doug ingin sekali memiliki kehidupan sebagai mata-mata/Agen ala James Bond/Ethan Hunt/Bourne. Namun ternyata, itu semua berubah menjadi chaos, setelah diketahui Doug sebenarnya adalah memang agen yang memorinya sudah dihapus, atau semua itu sebenarnya hanya fantasi dari Rekall saja?
Di sinilah saya menemui banyak kesamaan antara Total Recall dengan mash-up dari Inception + Jason Bourne. Karena, sepanjang film kita ditawari 2 hal: 1.) Agen lupa ingatan 2.) Mana yang realita dan mana yang bukan. Sayangnya, cerita yang seharusnya berbobot dan menarik nyaris tertutupi oleh rentetan action sana-sini. Bahkan, sebagai penonton pun saya merasa capek. Terus-menerus kita mendapati Colin Farrel berlari kesana-sini, tembak-tembakan dan ledakan ala Hollywood, dan berantem tangan kosong seadanya. Pada awalnya saya terhibur dengan porsi action yang banyak dan pacing yang cepat sekali, lama kelamaan malah jadi boomerang sendiri.
Di sinilah Total Recall gagal. Pada saat filmnya sendiri tidak menghargai ceritanya. Pacing yang cepat sangat cocok bagi actionnya, namun ini juga membuat cerita menjadi sulit diikuti dan dimengerti. Sampai pada akhirnya, kita terima-terima saja “oh begini, oh begitu”, tidak ada ruang untuk mengembangkan cerita dan waktu untuk memberi penonton menebak dan berpikir. Pada saat kita baru mau mulai mencerna, “Boom”, sesuatu meledak.
Colin Farrell juga tidak lebih baik dari eksekusi filmnya, untuk seseorang yang lupa ingatan dan harus menjalani misi humanis namun beresiko tinggi, sama sekali tidak terpancar wajah kebingungan. Farrell cenderung “legowo” saja, mengikuti semua perkatan orang. Kate Beckinsale, di lain pihak, tampil meyakinkan atau setidaknya lebih baik dari Jessica Biel. Kesalahan ini juga tidak lepas dari skripnya yang memang kurang peduli dengan pengembangan karakter dan cerita.
Tapi setidaknya, Total Recall punya berjuta adegan action yang menghibur + visual yang gila sekali. Tidak usah terlalu peduli dengan ceritanya.



