Review: Deliver Us from Evil (2014)

Salah satu alasan mengapa saya mau mencicipi horor terbaru dari Scott Derrickson adalah, karena The Exorcism of Emily Rose (2005) tampil cukup mencekam waktu itu. Dan alasan satunya adalah, premis yang diusung olehnya. Muncul beberapa bulan setelah Oculus, In Fear — dua horor favorit saya tahun ini, The Quiet Ones serta Stage Fright yang rongsok itu, saya berharap Deliver Us from Evil bisa memberi napas segar pada bulan ini untuk para pecandu horor. Pasca merasa bahwa Sinister (2012) tampil biasa saja, ini kesempatan kedua saya untuk sekali lagi mencicipi karya sutradara asal Amerika Serikat tersebut. Dan yang saya temukan adalah setali tiga uang. Haruskah saya memberi kesempatan ketiga karena Derrickson baru saya memublikasikan horor selanjutnya yang bertajuk Two Eyes Staring?
Kamu yang pernah menonton Se7en (1995), pasti langsung menyadari bahwa duo detektif polisi Sarchie (Eric Bana) dan Butler (Joel McHale) begitu mirip dengan duet Sommerset dan Mills dalam drama kriminal arahan David Fincher tersebut. Meskipun terbit sebagai suguhan yang terbilang ringan dibanding horor-horor lain, Deliver Us from Evil terlihat baik membangun atmosfer di awal film. Bahkan, saya sebelumnya sempat mengira bahwa ia akan berakhir tragis. Namun, dugaan saya agak keliru, karena ia justru dirundung banyak familiaritas, yang membuat kamu bakal berpikir dua kali untuk menganggapnya sebagai horor terbaik tahun ini.
Jelas, di satu sisi, Deliver Us from Evil sudah menjulurkan gimmick-nya terlebih dahulu di awal film kepada penonton, dengan mengumbar frase “Berdasarkan Kejadian Nyata.” Akan tetapi, di sisi lain, Derrickson tampak berjuang begitu keras dengan materinya sendiri, yang pada akhirnya justru kebanyakan mengumbar jump scare kelas kambing dan terlalu bertumpu pada goriness. Bahkan, sebuah drama kriminal terasa belum komplit ketika tiada tetesan hujan turun dari langit, dan membasahi jalan-jalan kota. Derrickson pun mengimbuh hal tersebut di dalamnya. Banyak adegan hadir di tengah tetesan hujan, dan ruang-ruang gelap yang hanya bisa disinari lampur senter.
Sampai pada titik ini, saya pikir horor bertemakan eksorsisme sudah lama mati. Setahun silam, kelemahan terbesar horor arahan James Wan — The Conjuring — juga sama, eksorsisme di dalamnya justru membikin semua terasa tidak menarik dan menjemukan. Yang lebih parah lagi, Deliver Us from Evil justru mdata:text/mce-internal,engulur waktu via unsur tersebut. Kini, saya beranggapan bahwa ke depannya unsur eksorsisme dalam film-film horor harus dienyahkan, atau film-film tersebut bakal menemui jalan buntu.
Untungnya, kreasi anyar milik Scott Derrickson ini tidaklah berujung menjadi horor rongsok — I’m looking at you, Stage Fright. Paruh awal film terasa cukup atmosferik. Alih-alih juga baik, paruh berikutnya semakin tidak enerjik. Ambisi Derrickson untuk mengombinasikan Se7en dan The Exorcist cukup akseptabel, tetapi semua terasa biasa saja ketika ia tidak mumpuni untuk mengeksekusi materi yang diusung.
