Review: Guardian (2014)
Saya akui saya jarang nonton film Indonesia. Kenapa? Tentunya karena kualitasnya yang masih tidak konsisten. Saya benar-benar memilih, mana yang patut ditonton, mana yang ditonton di DVD saja nanti, dan mana yang tidak perlu ditonton seumur hidup. Guardian membuat saya tertarik sejak trailernya dirilis. Mayoritas karena marketingnya yang memang mengedepankannya sebagai film penuh aksi dan juga penggunaan CGI yang lumayan banyak untuk film Indonesia. Bahkan saya sempat baca, “Kapan lagi nonton film di mana Jakarta punya monorail”. Baiklah, saya penasaran. Apalagi, rumah produksi Guardian adalah Skylar Pictures yang masih satu keluarga dengan Skylar Comic dan juga adalah pemilih hak film dari karakter Volt. Berhubung Volt ini nantinya kalau dibikin film pun bakal mengandalkan visual efek yang cukup banyak, saya rasa tidak salah mengecek film pendahulunya ini.
Tapi apa bisa saya kata, Guardian tidak lebih dari sebuah proyek ambisius yang gagal karena sumber daya kita memang belum memiliki skill dan keahlian untuk membuatnya.
Guardian dibuka dengan adegan seorang lelaki yang sudah berdarah-darah mengendarai mobil seperti kabur dari kejaran banyak orang. Sampai di rumah, ia pun malah bertemu dengan seorang pembunuh wanita yang berhasil mendapatkan nyawanya. Lelaki itu bernama Wisnu, suami dari Sarah (Dominique Diyose) yang merupakan karakter sentral dalam cerita ini. Cerita kemudian berlanjut 10 tahun kemudian, saat Sarah giat sekali melatih anaknya, Marsya, bela diri. Apa alasannya? Katanya, “Nanti kamu akan tahu sendiri”. Dan benar, penonton dipaksa untuk menunggu jawaban diberikan oleh filmnya sendiri. Konflik mulai muncul ketika Marsya dan Sarah diincar oleh beberapa pihak seperti Paquita (Sarah Carter) dan juga calon menteri, Oscar (Tio Pakusadewo). Mau apa mereka sebenarnya? Penonton juga dipaksa untuk menunggu diberikan jawaban.
Premis seperti ini sendiri dibuat seperti puzzle, membuat penonton bertanya-tanya apa mau para karakter-karakter ini dan ada apa dibalik semua mister ini. Sayangnya, bagaimana mereka mengemas cerita dan karakternya sangat tidak menarik. Saya tidak menemukan diri saya menanti jawaban muncul, karena saya sendiri gagal dibuat simpatik dengan pertanyaannya sendiri. Dan bagaimana mereka menahan jawaban-jawaban itu muncul terlalu ditunda-tunda dan bodoh dengan beberapa kali melontarkan dialog klise lewat karaternya seperti; “Kamu nanti akan tahu sendiri”, “Tidak ada waktu untuk menjelaskan”, dan sebagainya.

Mungkin film ini bisa lebih terselamatkan andai saja para aktornya tampil lebih baik. Membawa nama Sarah Carter yang pernah main di Final Destination 2 setidaknya memberikan harapan bahwa aktor lainnya akan terangkat. Sayangnya tidak. Semua karakter kaku, sok cool, dan berakhir unlikable. Yang ada akhirnya malah Sarah Carter sendiri ikut jatuh bersama jajaran aktor lainnya. Tio Pakusadewo mungkin bermain selevel lebih baik ketimbang teman-temannya. Tapi sekali lagi dijatuhkan oleh kebodohan skripnya yang memaksanya untuk berbicara bahasa inggris. “Laip is paking krul” akan terus bersemayam terus di suatu tempat di otak saya sangking konyolnya.
Lalu bagaimana dengan poin-poin unggulannya seperti action dan visual efek? Saya tahu betul, film ini bukanlah The Raid, tapi dengan tanggal tayang yang hanya beda sebulan, tentunya sulit untuk tidak teringat dengan itu. Guardian lebih mengambil approach shaky camera dengan editing cepat untuk menutupi ketidak bisaan bertarung para aktornya. Namun jangan mengharapkan itu semua serapi trilogi Bourne, karena yang ada di sini adalah shaky-cam yang keterlaluan. Bahkan untuk adegan seperti membuka kunci pintu saja, kamera bergoyang layaknya sedang ada gempa. Walau mungkin itu dimaksudkan untuk membangun tensi. Gagal.
Berbicara tensi, film berdurasi 93 menit yang didominasi oleh adegan aksi pun nyaris tidak memiliki satu pun adegan yang bisa menaikkan adrenalin. Aksinya hampa, pertarugannya membosankan, dan pada akhirnya penonton tidak peduli siapa yang mati. Beberapa adegan pun diperparah dengan visual efek yang jelek padahal tidak penting. Seperti mobil ditabrak TransJakarta yang masuk ke film hanya sebagai, “Kita bisa lho bikin adegan kayak gitu”. Nggak, mereka lebih senang pamer ketimbang memikirkan apa yang terbaik untuk film ini. Hal ini juga terjadi dengan monorail CGI yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan alur cerita. Lebih baik budget visual efeknya mereka larikan saja untuk cari aktor dan penulis naskah serta kameramen yang lebih baik.


