Review: Into the Woods (2014)
Apa jadinya jika cerita-cerita dongeng seperti Cinderella, Little Red Riding Hood, Jack and the Beanstalk dan Rapunzel dilebur menjadi satu dalam satu film? Semua itu dijawab oleh Into the Woods, sebuah film yang merupakan adaptasi dari pertunjukan drama musikal boradway dengan judul yang sama karya James Lapine dan Stephen Soundheim. Di bawah arahan sutradara Rob Marshall, Into the Woods pun direalisasikan dalam bentuk film berdurasi 124 menit.
Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Into the Woods menggabungkan cerita-cerita dongeng Grimm bersaudara menjadi satu film dengan plot utama tentang seorang tukang roti dan istrinya yang dikutuk tidak akan pernah mempunyai anak oleh seorang penyihir.. Untuk menghentikan kutukan itu, mereka harus melakukan sebuah misi dari sang penyihir untuk pergi ke hutan yang melibatkan kehadiran Cinderella, Little Red Riding Hood, Jack beserta kacang ajaibnya dan Rapunzel.
Karena Into the Woods memang adaptasi dari sebuah pertunjukkan drama musikal boradway, jadi tidaklah heran jika dari awal film lantunan-lantunan lagu sudah dinyanyikan oleh para karakter-karakter di film ini, dan hal itu konsisten sampai akhir film. Bahkan dialog pun diberikan nada sehingga mereka seperti menyanyikannya dengan irama bersajak. Hal seperti ini tentu sangat amat menyenangkan untuk kalangan orang-orang yang menyukai film-film musikal. Tapi sebaliknya, hal ini bisa menjadi siksaan untuk orang-orang yang tidak tahan melihat dialog dibuat menjadi lantunan lagu.
Semua karakter-karakter sentral di film ini mendapatkan porsi untuk menyanyi. Dan jajaran-jajaran pemeran di film ini bukanlah sembarang orang. Into the Woods bisa dibilang menyajikan aktor dan aktris layaknya prasmanan makan besar di sebuah pesta mewah. Bagaimana tidak, di film ini terdapat ensemble cast seperti Emily Blunt, Meryl Streep, James Corden, Anna Kendrick, Chris Pine, Tracey Ullman, Lilla Crawford, Daniel Huttlestone, MacKenzie Mauzy, Billy Magnussen dan penampilan khusus dari Johnny Depp. Ada beberapa penampilan mereka ketika menyanyi sangatlah menghibur dan menghidupkan adegan, hal itu saya alami kebanyakan ketika Anna Kendrick yang berperan sebagi Cinderella melakukannya. Mungkin area musikal memang sudah tidak asing baginya setelah dia tampil cemerlang di Pitch Perfect dan di film drama musikal terbarunya berjudul The Last Five Years. Dan sangatlah menyenangkan dan lucu melihat dua pangeran yang diperankan oleh Chris Pine dan Billy Magnussen menyanyikan lagu Agony dengan dramatisnya di air terjun dengan sepenuh hati. Suatu hal yang jarang kita lihat dari seorang Chris Pine sebelumnya. Dan saya yakin itu adalah hal yang menantang juga untuk Billy Magnussen.
Di luar dari penampilan musikal para pemeran, performa akting yang mereka tampilkan tidak terlalu buruk dan tidak terlalu spesial. Meryl Streep yang berperan sebagai penyihir tampil dengan kuatnya seperti yang memang biasa dia lakukan. Oleh karena itu pun dia dinominasikan menjadi best supporting actress di Golden Globe Award dan Oscar tahun ini. Emily Blunt yang dinominasikan menjadi best actress di Golden Globe Award pun bermain aman sebagai istri sang tukang roti. Sedangkan untuk keseluruhan pemeran, koneksi dan interaksi mereka terasa datar dan kurang emosional sehingga tidak membuat kita lebih peduli terhadap karakter-karakternya lebih jauh lagi.
Saya akui ide jalan cerita dalam menggabungkan cerita-cerita dongeng terkenal menjadi satu merupakan ide kreatif dan brilian. Tetapi pada saat pertunjukan musikal broadway ini dieksekusi dalam bentuk film, sulit untuk mengatakan bahwa film ini dapat dinikmati dari awal hingga akhir. Secara keseluruhan, film arahan Rob Marshall (Chicago, Memoirs of a Geisha, Nine) ini bisa dibilang mempunyai 2 babak. Babak pertama merupakan penyelesaian tentang konflik utama yang muncul dan sepertinya sudah terselesaikan. Babak kedua merupakan babak dimana konflik yang terjadi di babak pertama ternyata belum sepenuhnya terselesaikan dan mereka harus benar-benar menyelesaikannya, sekali dan untuk selamanya. Untuk babak pertama bisa dibilang merupakan bagian yang mencuri perhatian dan masih dapat membuat saya menikmati tiap-tiap adegan. Tetapi setelah memasuki babak kedua, tempo yang terasa menjadi sangat lambat dan membuatnya menjadi monoton. Mulai dari sini perhatian dan kepedulian saya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya semakin memudar. Dan ketika film sudah menyentuh bagian akhir pun, tidak ada kejutan untuk menjadi penutup film yang berarti.
Meskipun begitu, kostum, setting dan sinematografi yang dihadirkan dalam Into the Woods patut mendapatkan pujian dan acungan jempol. Karena semua elemen tersebut terasa pas dan melengkapi satu sama lain yang membuat tiap karakter terlihat lebih meyakinkan dan membuat unsur magis ala-ala cerita dongeng terasa nyata. Itulah yang membuat film ini juga masuk nominasi Oscar dalam kategori Best Production Design dan Best Costume Design.
Pada akhirnya, Into the Woods adalah sebuah film fantasi musikal yang ringan dan menghibur karena gimik musikal dan koreografi yang lincah dan atraktif. Tapi sayangnya, dia tidak dapat mempertahankan eksistensi untuk konsisten menghibur dari awal sampai akhir karena lemahnya jalan cerita yang dihadirkan.


