Review: Bis zum Horizont, dann links! (2012)

Pernahkah Anda terpikir, andai saja Anda memasuki masa lansia Anda nanti, apa yang akan terjadi pada Anda? Apakah setelah Anda pensiun nanti, Anda akan menjalani hari tua Anda-yang syukur-syukur Anda sehat-sehat saja atau amit-amit sakit-sakitan-sendiri, atau bersama keluarga, atau bahkan di panti jompo? Siapa yang kira-kira akan mengisi hari-hari Anda? Kegiatan macam apa yang akan Anda lakukan? Pertanyaan-pertanyaan macam tersebut berusaha dijawab oleh sutradara Bernd Böhlich dalam filmnya Bis zum Horizont, dann links! (bahasa Inggris: Fly Away!), yang akhirnya menimbulkan pertanyaan baru bagi para masyarakat usia produktif Jerman (dan seluruh dunia, sebenarnya): bagaimana sebenarnya kita memperlakukan para lansia, khususnya orangtua atau kakek-nenek kita?
Aktris lansia Jerman Angelica Domröse berperan sebagai Annegrete Simon, ibu dari Dr. Friedhelm Simon, seorang anggota PBB dari Jerman yang sangat sibuk. Margarete dibawa ke panti jompo oleh anak dan menantunya sendiri atas keputusan mereka karena menantunya sangat tidak menghendaki kehadirannya di dalam rumah mereka, walaupun dia sendiri sebenarnya juga tidak ingin tinggal di sana. Di sanalah Annegrete akhirnya bertemu dengan para lansia lainnya yang kurang lebih juga senasib dengannya, termasuk Eckehardt Tiedgen (Otto Sander), yang walaupun sudah tua, tapi tetap “bengal”. Diam-diam, Mr. Tiedgen menaruh hati pada Annegrete.
Pada satu hari, kegiatan para lansia adalah untuk naik pesawat khusus. Kesempatan ini akhirnya dimanfaatkan oleh Mr. Tiedgen, yang setelah meminta seluruh penumpang pesawat untuk mengambil suara, memutuskan untuk membajak pesawat tersebut, memaksa para pilotnya untuk menerbangkan pesawat tersebut ke pantai dan laut yang memang sudah lama menjadi impiannya dan juga kebanyakan para lansia di panti jompo itu.

Bukan Gaya Bertutur Biasa
Film ini memang memperkenalkan Annegrete Simon di awal, sehingga kemungkinan besar penonton akan langsung mengeratkan diri mereka dengan perkiraan bahwa Annegrete adalah sang peran utama. Namun, di tengah, fokus akan bergeser perlahan-lahan pada Mr. Tiedgen, sehingga kita juga akan langsung sadar bahwa dia juga mendapatkan perhatian yang cukup jika dinobatkan menjadi peran utama. Inilah yang mungkin tidak biasa kita temui di kebanyakan film.
Selain itu, film ini juga memiliki akhiran yang sangat tanggung. Film selesai di bagian yang orang-orang anggap masih merupakan bagian penuturan cerita dan bukan klimaksnya. Bagi saya, hal ini agak disayangkan, karena pada akhirnya emosi penonton yang sudah dibangun dari awal film hilang begitu saja di akhir. Mungkin si pembuat film memang sengaja mengakhirinya demikian, membuat kita semua bertanya-tanya tentang apa yang selanjutnya terjadi. Dan mungkin saja hal itu memiliki keterkaitan dengan maksud terselubung bagaimana para lansia memandang hidup mereka. Bisa jadi yang ingin disampaikan adalah demikian: setelah pesawat terbang ke laut sesuai permintaan, lalu apa? Meski demikian, penutup menggantung yang sangat mengejutkan ini masih tetap terasa janggal bagi saya, yang masih mengharapkan setidaknya satu bit atau dua bit lagi jika memang film hendak diakhiri di situ (toh, ketika film ini diakhiri, dua orang yang sedang berbicara satu sama lain di akhiran film ini juga sebenarnya belum benar-benar selesai berbicara, atau setidaknya, pembicaraan mereka belum tuntas di situ).
Meski demikian, harus diakui, akting para lansia adalah emasnya film drama komedi ini. Seluruh lansia berakting dengan natural dan bahkan sangat menghibur. Penonton diajak untuk melihat bagaimana para karakter lansia tersebut memandang kehidupan dan, khususnya, hubungan antara satu sama lain-bagaimana mereka juga ingin memiliki hubungan yang baik dan ingin diperhatikan. Secara tidak langsung, akting para lansia yang mengalirkan cerita film ini berhasil menyentil para penonton khususnya kaum muda bahwa kadang kala ada hal yang mungkin tidak kita anggap penting, padahal ternyata penting bagi mereka. Para lansia merasa penting sekali untuk memiliki hari tua penuh dengan perhatian, kasih sayang dan juga kebebasan. Sama seperti kita, mereka juga punya perasaan, punya keinginan dan mimpi masing-masing. Anda mungkin tertawa-tawa sepanjang menonton film yang unsur komedinya juga sangat menghibur ini, tapi secara tidak langsung sebenarnya kita semua diajak untuk menertawakan diri sendiri: apakah kita akan memperlakukan calon lansia dari keluarga kita demikian nantinya?
Tak ketinggalan, keseruan cerita film yang selalu membuat saya tertawa di dalam ruang pemutaran ini juga didukung dengan nilai produksi yang sangat baik. Lokasi syuting yang banyak tidak serta merta menjadikan para pembuat filmnya malas untuk menghidupkan setiap lokasi. Tata kamera yang juga baik membuat kita dapat menangkap jelas emosi dan maksud yang ingin disampaikan dari shot-shot film tersebut. Bagi saya, seluruh adegan di pesawat adalah puncak dari kemegahan produksi film ini. Jangan lupa musik filmnya yang juga enak untuk didengar.
Bis zum Horizont, dann links! adalah sebuah hiburan yang juga ingin mengungkap keadaan sosial masyarakat kita dalam memperlakukan lansia. Dan film ini berhasil menyentil kita dengan cara yang sangat menghibur.
Film ini diputarkan dalam program Festival Film German Cinema di beberapa kota di Indonesia, 22-31 Agustus 2014.
