Review: 300: Rise of an Empire (2014)
300 yang dirilis tujuh tahun yang lalu adalah salah satu masterpiece dari Zack Snyder. Berbekal plot yang dangkal, penggarapannya memang lebih mengedepankan action yang stylish serta visual yang mengagumkan. Ditambah pula dengan karisma Gerard Butler sebagai Leonidas dan one-linernya, praktis menjadikannya sebuah hiburan yang tak terlupakan. Saya bahkan menontonnya lebih dari sekali di bioskop saat itu. Meski sempat diundur satu tahun, sekuelnya pun datang tahun ini. Meski berada dalam universe yang sama, 300: Rise of an Empire bukanlah sebuah sekuel sejati karena ceritanya yang lompat-lompat dari sebelum hingga sesudah kejadian di 300.
Kisahnya sendiri tidak pergi jauh-jauh dari Xerxes dan ambisinya untuk menguasai Yunani. Usai ayahnya dibunuh oleh Themistocles (Sullivan Stapleton) dalam sebuah perang, Xerxes (Rodrigo Santoro) dihasut oleh Artemisia (Eva Green) untuk membalaskan dendamnya. Ia pun mengalami transformasi menjadi Dewa-Raja dan menyerang bangsa Yunani yang salah satunya terdiri dari Spartan di 300. Cerita pun kemudian berfokus terhadap Themistocles berusaha menyatukan seluruh Yunani untuk berperang dan mempertahankan diri dari gempuran bangsa Persia.
Noam Murro yang kini memegang tongkat estafet dari Zack Snyder sudah berusaha terlalu keras untuk membuatnya terasa seperti seri 300, sayangnya materi yang dimiliki film ini memang tidak sebaik film pertamanya. Cerita adalah masalah utama dan terberatnya. Plot dari Rise of an Empire tidak semenarik 300. Bila di film pertama penonton mudah jatuh hati pada kisah underdog 300 prajurit melawan ribuan lainnya, film ini hanyalah sekedar film perang antara Yunani dan Persia. Kita tidak diberikan alasan kuat mengapa kita harus berpihak dengan bangsa Yunani.

Sosok pemimpin yang karismatik a la Gerard Butler juga benar-benar hilang di diri Sullivan Stapleton yang terlewat datar dan tidak memiliki screen presence yang kuat. Jangan harapkan penonton bisa mengingat kalimat “Seize Your Glory” yang keluar dari mulut Stapleton lebih dari “This is Sparta” atau “Tonight we dine in hell!” dari Butler. Eva Green justru hadir sebagai karakter yang lebih menarik dalam wujud Artemisia. Dengan back-story yang gelap dan jauh lebih menarik, seharusnya cerita bisa lebih mudah memposisikannya sebagai protagonis ketimbang antagonis. Dan hal itu pun bisa jadi jauh lebih mudah diterima oleh penonton andai tidak ada 300, karena pada faktanya saya sendiri cenderung mendukung motif Artemisia daripada Themistocles.
Selain itu, 300 juga memiliki adegan-adegan action yang ikonik yang sulit dilupakan. Hampir seluruh adegan action yang ada di film ini adalah sebaliknya. Membawa pertempuran ke laut ternyata tidak seseru mempertahankan sebuah jalur sempit di film pertama. Meskipun masih dengan nafas dan nyawa yang sama. Masih tetap sadis, masih tetap banjir darah, hanya saja terasa hampa.


